
Saat ini Madika dan seluruh teman kelas-nya sudah berada di sebuah hutan luas.
hutan itu adalah hutan tempat mereka melakukan ujian tahap kedua.
di sana tampak siswa-siswa dari kelas yang lain juga sudah berkumpul di tempat itu.
saat ini para wali kelas sedang berkumpul untuk membicarakan sesuatu untuk persiapan mereka saat melakukan latihan gabungan.
Setelah beberapa saat kemudian, kini pak Kulimu datang menghampiri siswa perwalian-nya.
ia kemudian memberikan instruksi tentang latihan gabungan kali ini.
"apa semua-nya sudah lengkap?" tanya pak Kulimu memastikan jumlah para siswa-nya.
"sudah pak!" jawab para siswa serentak.
"baiklah, kalau begitu bapak akan menjelaskan tentang latihan kali ini." ucap pak Kulimu.
"dalam latihan kali ini, kalian akan bertarung secara berkelompok.... dalam satu kelompok akan di bagi menjadi empat orang dengan empat elemen yang berbeda-beda.... untuk pembentukan kelompok-nya akan di lakukan secara acak..... tujuan-nya adalah agar kalian bisa berbaur dan bekerjasama dengan siswa-siswa lain-nya..... pertarungan akan di lakukan di dalam hutan ini.... sistem pertarungan-nya sederhana, yaitu mengumpulkan gantungan kunci ini."
pak kulimu menunjuk-kan sebuah gantungan kunci. bentuk gantungan kunci itu adalah lambang dari akademi mereka, yaitu lambang akademi Walawatu.
"masing-masing dari kalian semua akan di berikan satu gantungan kunci, dan masing-masing dari kalian harus memiliki dua gantungan kunci ini untuk bisa memenangkan pertarungan..... dengan kata lain, kalian harus merebut gantungan kunci milik siswa lain-nya..... ini mungkin sulit, tapi berbahagialah karena dalam pertarungan ini kalian semua di perbolehkan untuk saling membunuh!" ucap pak Kulimu dengan seringai yang terpajang di wajah-nya.
Para siswa yang mendengarkan penjelasan itu langsung terlihat kesal bahkan ada yang tampak panik serta takut.
"berbahagia gundul-mu!!.... latihan ini malah terdengar seperti neraka jika sampai ada yang mati!"
"yang benar saja!"
"aku tak mau mati di sini sial@n!"
__ADS_1
Berbagai kritik terdengar dari mulut para siswa, namun pak Kulimu hanya membalas kritik itu dengan senyuman yang tampak seperti tidak bersalah.
pak kulimu saat ini terlihat tenang bukan tanpa sebab, melainkan karena diri-nya memiliki sebuah berita baik yang akan ia berikan kepada para siswa-nya itu.
"tenang dulu kalian semua.... hanya karena aku bilang boleh saling bunuh bukan berarti kalian benar-benar akan mati, karena kini akademi kita sudah berhasil membuat kerjasama dengan kelompok Elang Hitam guna mendapatkan teknologi yang sama dengan yang di miliki oleh akademi Femrill, dan alat yang kita dapatkan adalah alat yang bisa menciptakan tubuh ke dua bagi si pengguna, lalu setelah itu kesadaran dari tubuh asli si pengguna akan di pindahkan ke tubuh ke-dua itu.... dengan demikian, meskipun kalian saling membunuh, maka kalian tidak akan benar-benar mati karena yang terbunuh hanyalah tubuh ke-dua kalian dan bukan tubuh yang asli.... oh iya, nama alat ini adalah Polinjanyawa." jelas pak Kulimu panjang lebar.
Mendengar penjelasan pak Kulimu itu, kini para siswa langsung terlihat kembali bersemangat.
"wuuaahhh!!!"
"luar biasa!!"
"aku sudah pernah dengar teknologi itu."
"ya benar! dulu-nya itu hanya ada di akademi Femrill dan tidak ada di tempat lain."
"tapi kalau kita sudah bisa mengakses teknologi itu!"
"kalau begini aku tidak akan ragu untuk bertarung!"
Para siswa terlihat bersemangat, begitu juga dengan Ariel.
namun Madika berbeda, ia malah terlihat sedang memikirkan sesuatu.
ya, saat ini Madika sedang berpikir. ia memikirkan mengapa akademi Walawatu melakukan kerjasama dengan Elang Hitam dan bukan-nya dengan Akademi Femrill. padahal setahu Madika alat itu adalah terobosan pertama milik akademi Femrill dan bukan milik Elang Hitam.
"apa jangan-jangan pemilik yayasan Femrill itu adalah salah satu pegawai atau bahkan petinggi Elang Hitam?" batin Madika.
Akademi Femrill merupakan sebuah yayasan yang sangat besar. saking besar-nya, akademi yang di miliki oleh yayasan Femrill itu sudah tersebar luas. bahkan di daerah kerajaan yang di kuasai oleh paman Madika ini terdapat dua cabang akademi Femrill.
akademi Femrill adalah salah satu akademi faforit para calon ksatria.
__ADS_1
hal itu di karenakan sudah banyak lulusan akademi Femrill yang di sewa oleh kerajaan untuk menjadi ksatria pelindung yang di khususkan berada di istana.
Setelah menjelaskan tentang Polinjanyawa, kini pak Kulimu memanggil seorang wanita yang di tugaskan untuk membawakan alat Polinjanyawa itu pada mereka.
lalu wanita itu datang sambil membawa sebuah koper yang berisikan sebuah gelang yang sangat mirip jam tangan.
"baiklah, untuk cara penggunaan Polinjanyawa ini, kalian cukup menggunakan-nya di pergelangan tangan kalian, lalu setelah itu aktifkan Polinjanyawa-nya maka dengan otomatis alat ini akan menyalin bentuk fisik kalian untuk menciptakan tubuh ke-dua." jelas pak Kulimu sambil memperagakan.
Para siswa yang melihat hal itu langsung terkagum-kagum karena mereka melihat tubuh kedua pak Kulimu berdiri tepat di samping-nya. namun tubuh itu masih kosong dan tak bisa bergerak.
"nah.... untuk menjalankan tubuh ke-dua ini kalian cukup memejamkan mata kalian maka dengan sendiri-nya kesadaran kalian akan berpindah ke tubuh ke-dua." ucap pak Kulimu yang mulai memperagakan kembali.
seketika tubuh ke-dua pak Kulimu kini langsung bergerak.
"nah.... beginilah jadi-nya." ucap pak Kulimu menggunakan tubuh kedua-nya. "dan yang lebih mengagumkan dari alat ini adalah sistem pelindung-nya yang aktif otomatis." ucap pak Kulimu sambil menendang tubuh asli-nya sekuat tenaga. namun seketika muncul perisai yang melindungi tubuh asli itu, dan di saat yang bersamaan tubuh asli itu langsung tersadarkan kembali, sedangkan tubuh ke-dua langsung tumbang dan hilang kesadaran.
"beginilah sistem keamanan alat ini.... luar biasa bukan?" ucap-nya lagi.
Setelah menunjuk-kan cara menggunakan alat itu, kini pak Kulimu menjelaskan lagi tentang latihan gabungan ini.
dalam penjelasan-nya kali ini, pak Kulimu mengatakan bahwa pemenang dari pertarungan memperebutkan gantungan kunci ini akan di berikan hadiah.
hadiah-nya berupa poin yang bisa di tukarkan menjadi uang fisik maupun untuk di gunakan berbelanja di wilayah akademi.
dengan kata lain, semakin merebut masing-masing satu gantungan kunci hanyalah sebuah formalitas, namun pertarungan yang sesungguh-nya adalah mengumpulkan gantungan kunci dalam jumlah yang banyak.
"baiklah, jika kalian semua sudah mengerti, maka sekarang kita akan bergabung dengan siswa dari kelas lain-nya untuk membentuk kelompok secara acak." ujar pak Kulimu.
Para siswa dengan semangat mematuhi. mereka semua langsung beranjak ke tempat tujuan mereka yakni tempat pertemuan para siswa lain-nya berkumpul.
Setelah semua kelas selesai mendengarkan arahan dari wali kelas masing-masing, kini mereka kembali berkumpul di satu tempat untuk melakukan pengacakan nama yang akan menjadi satu kelompok.
__ADS_1