
Ketika Madika memegang kepala Niverom satu, saat itu ia mengalirkan elemen angin ke kepala Niverom satu melalui pori-pori kulit. lalu ia mengalirkan-nya ke dalam kepala Niverom satu serta menciptakan peluru angin dan kemudian meledak-kan peluru angin itu di dalam kepala Niverom satu.
Ketika kepala Niverom satu itu meledak dan terciprat ke mana-mana, kini dua ksatria tingkat profesional itu makin terkejut di di sertai rasa kagum.
"ini benar-benar tak sesuai dugaan!" ucap ksatria dua.
"dia benar-benar lebih kuat dari penampilan-nya." ucap ksatria dua.
Setelah itu, Madika pun menoleh ke belakang dan menatap dua ksatria itu.
lalu ia mulai berjalan mendekati dua ksatria itu.
"untuk sekarang kalian berdua sudah aman.... tapi untuk berjaga-jaga sebaik-nya kalian segera memulihkan energi kalian dulu.... aku pamit dulu." ucap Madika yang langsung melesat tanpa menunggu jawaban dari dua ksatria itu.
"dia langsung pergi begitu saja." ucap ksatria satu.
"kita bahkan belum tahu siapa nama anak itu." balas ksatria dua.
Sementara itu, saat ini Madika tengah melesat dengan cepat.
ia dengan gesit melesat dari satu pohon ke pohon lain-nya.
sambil melesat ia menyebarkan Saga-nya untuk mendeteksi wilayah sekitar.
saat ia melakukan pendeteksian, ia hanya merasakan keberadaan Niverom saja di daerah tempat pertarungan ksatria elit.
"tcih..... apa ksatria elit itu sudah di kalahkan?!" batin Madika dengan ekspresi yang tampak sedikit kesal.
lalu Madika mulai mempercepat lesatan-nya ke tempat pertarungan ksatria tingkat elit itu.
Beberapa saat kemudian, akhir-nya Madika pun tiba di tempat pertarungan ksatria tingkat elit itu.
saat Madika tiba, ia melihat tempat itu sangat kacau. banyak lubang besar di tanah. lubang itu tampak masih tersisa kobaran api serta lahar panas di sekitaran-nya.
lalu ia mulai mendeteksi keberadaan ksatria tingkat elit itu. namun ia masih saja tidak menemukan-nya. hingga saat ini pun ia hanya bisa merasakan keberadaan salah satu Niverom yang bertarung dengan ksatria tingkat elit itu.
__ADS_1
Saat Madika merasakan keberadaan Niverom itu, kini Madika tampak sedikit bingung dan mulai mengira-ngira tentang apa yang terjadi pada Niverom itu.
"sejak awal aku mendeteksi, Niverom itu masih saja di posisi yang sama.... ia sama sekali masih belum beranjak dari posisi-nya.... apa ia terluka parah?" batin Madika bertanya-tanya.
tak lama setelah itu Madika langsung menggeleng-kan kepala-nya.
"tchi... percuma saja berpikir di sini.... sebaik-nya langsung ku periksa saja." batin Madika.
Setelah itu Madika pun langsung melesat dengan cepat.
tak lama setelah itu Madika pun kini dapat melihat sosok seorang Niverom yang sedang tergeletak tak berdaya di atas tanah yang sudah sangat hancur berantakan.
tanah di sekitar Niverom itu tampak masih di kelilingi kobaran api yang tidak terlalu besar.
Madika yang melihat hal itu langsung mendekati Niverom itu.
ia yang tadi-nya berada di udara kini mendarat tepat di hadapan Niverom itu.
"dia masih hidup!.... tapi energi Nara-nya sudah mencapai batas.... di tambah lagi luka yang ia alami sudah sangat banyak dan membuat dia sekarat." batin Madika saat melihat Niverom itu.
ia kemudian melirik kearah Madika dengan ekspresi yang tampak putus asa.
"apa kau datang untuk membantu ksatria tingkat elit itu?" tanya Niverom dengan suara serak dan terdengar tidak bertenaga.
"niat-ku memang seperti itu, tapi seperti-nya itu tidak di perlukan." jawab Madika dengan santai-nya.
"begitu ya.... hei bocah.... apa kau ingin bertambah kuat?" tanya Niverom itu lagi.
Madika yang mendengar ucapan Niverom itu hanya diam dan tidak menunjuk-kan reaksi apa-apa.
"untuk apa kau menanyakan hal itu?.... apa tujuan-mu?" balas Madika yang balik bertanya.
"tidak ada tujuan lain.... aku hanya putus asa dengan keadaan-ku saat ini.... jadi jika kau berminat, kau bisa segera membunuh-ku agar bisa mendapat-kan energi netral yang bisa menaik-kan level Sa....."
ucapan Niverom itu terhenti seketika karena kini kepala-nya tertusuk oleh pedang hingga ujung runcing pedang itu tembus ke tanah dan tertancap di tanah itu.
__ADS_1
"kau tak perlu menjelaskan hal itu pada-ku." ucap Madika dengan ekspresi tenang setelah melempar pedang itu ke arah Niverom.
Setelah itu Madika pun mulai mengedarkan pandangan-nya ke segala arah untuk mencari keberadaan ksatria tingkat elit itu.
"jika ksatria tingkat elit itu di kalahkan, maka setidak-nya aku bisa menemukan jasad-nya." batin Madika sambil menoleh ke segala arah untuk mencari. "mungkin sebaik-nya aku mencari-nya dari tempat yang tinggi." ucap-nya dalam hati.
Setelah itu Madika pun langsung melirik salah satu sisa-sisa batang pohon yang saat ini ada di sekitar tempat itu.
lalu ia langsung naik ke atas batang pohon itu.
setelah itu ia membuka lebar-lebar kedua telapak tangan-nya dan mengarahkan-nya ke bawah tepat di kayu yang ia naik-ki saat ini, dan seketika terbentuklah angin puyuh yang cukup besar.
angin puyuh itu langsung mengangkat Madika yang sedang berdiri di atas batang pohon itu.
karena saat ini angin itu di kendalikan oleh Madika, maka angin puyuh itu tidak membuat kayu yang di naik-ki Madika berputar ataupun terlempar dari posisi-nya.
Ketika Madika merasa ia sudah terbang cukup tinggi, kini ia mulai melihat ke sekeliling-nya. tepat-nya ke seluruh tempat pertarungan itu untuk mencari keberadaan ksatria tingkat elit itu.
Tak butuh waktu lama, kini Madika telah menemukan jasad ksatria itu.
ia kemudian langsung menggerak-kan angin puyuh-nya ke tempat jasad itu. setelah itu ia langsung melompat ke tempat jasad itu.
Kini Madika sudah mendarat tepat di depan jasad itu. ketika melihat jasad itu, kini hari-nya merasa bersalah karena datang terlambat. hal itu di karenakan diri-nya saat ini tengah melihat sosok jasad yang sudah hampir tidak berbentuk lagi karena seluruh tubuh-nya sudah hangus terbakar oleh api.
wajah ksatria itu tidak lagi bisa di identifikasi karena hangus.
hal itu membuat Madika merasa sedikit sedih dengan kejadian itu.
"ini benar-benar mengerikan." ucap Madika.
"tidak perlu berkata seperti itu." ucap Bunggu yang saat ini masih dalam bentuk kalung.
"apa maksud ucapan-mu?" tanya Madika dengan sinis karena ia merasa terusik dengan perkataan Bunggu.
"apa kau pikir hanya Niverom saja yang melakukan hal mengerikan seperti ini pada manusia?.... bukankah kau sendiri juga melakukan hal yang sebalik-nya?" ucap Bunggu.
__ADS_1