
Saat ini, Liga dan ketiga rekan-nya itu pun di perhadap-kan dengan puluhan serigala petir yang merupa-kan peliharaan Madika.
mereka berempat saat ini berpikir bahwa puluhan serigala petir itu adalah sekelompok serigala yang telah di takluk-kan dan di kendali-kan oleh Madika sebagai hewan peliharaan-nya.
Mereka berempat saat ini sama sekali tidak mengetahui bahwa sebenar-nya puluhan serigala petir itu hanya-lah satu individu saja, dan yang lain-nya hanya-lah kloning.
hal itu membuat mereka berpikir bahwa seluruh serigala itu adalah serigala yang asli.
Kini Askila yang saat ini berdiri di posisi paling depan di antara para kloning-nya langsung menatap Liga dengan tatapan tajam mengintimidasi.
ia merasa sangat kesal karena Liga hampir membuat Madika terluka parah.
Beruntung Madika masih sempat melakukan jurus pemanggilan, jika tidak maka Madika pasti akan mengalami luka yang cukup serius.
"berani-beraninya kalian main keroyok saat bertarung dengan tuan-ku!" ucap Askila sambil menunjuk-kan gigi-gigi tajam-nya dan membuat wajah-nya terlihat semakin sangar dan menakut-kan.
"tuan! apa perlu kami membunuh orang-orang ini?!" tanya salah satu kloning Askila sambil menoleh ke arah Madika.
"tidak perlu." ucap Madika dengan santai-nya sambil memejam-kan mata-nya sejenak.
"mereka hanya-lah orang bodoh yang terlalu cepat terbawa emosi sampai-sampai tak bisa berpikir jernih dan mencoba mendengar-kan penjelasan dari orang lain." ucap Madika sambil mulai melangkah ke depan.
Kini Madika pun berjalan maju ke depan Askila yang asli.
"ada apa tuan?" tanya Askila dengan sopan.
"biar aku yang mengurus mereka dan menunjuk-kan kesenjangan antara aku dan mereka." ucap Madika dengan ekspresi datar dan penuh ketenangan.
"ehm.... baik-kah kalau begitu." jawab Askila dengan patuh.
Lalu Madika pun kini kembali menoleh ke arah Liga dan yang lain-nya.
__ADS_1
ia melihat Liga dan yang lain-nya saat ini sedang menatap-nya dengan penuh waspada.
tak satu pun dari mereka berani memulai membuka suara di hadapan Madika dan Askila.
Mereka hanya menatap Madika dengan tatapan yang terlihat seperti orang yang sedang berada di bawah tekanan dari seorang penguasa tertinggi yang di takuti.
Madika yang menyadari hal itu tentu-nya tidak mau melewat-kan kesempatan ini.
bagi Madika, melawan musuh hanya dengan mengguna-kan kekerasan saja tidak cukup.
bagi-nya ia harus bisa setidak-nya memberi-kan sebuah efek yang akan membuat mental musuh-nya langsung layu saat bertemu dengan diri-nya untuk kedua kali-nya.
Karena hal itu lah Madika pun memilih untuk bersikap sangat dingin dan tidak banyak bicara lagi kali ini.
bahkan dalam momen ini ia juga menyempat-kan diri untuk mengguna-kan aura Saga yang penuh dengan niatan membunuh dari-nya.
hal itulah yang membuat Liga dan yang lain-nya saat ini merasa merinding ketakutan serta bulu kuduk mereka langsung berdiri.
Lalu Madika pun memanfaat-kan hal itu untuk menyebar-kan aura Saga-nya agar seolah-olah aura Saga milik-nya jauh lebih mengerikan dari sebelum-nya.
"di..... dia tampak seperti orang lain kali ini!" ucap Liga yang melihat perubahan ekspresi serta cara berbicara Madika yang kini seolah lebih tenang dan terkesan lebih mengancam.
"apa jangan-jangan ini adalah diri-nya yang sebenar-nya?" timpal Jos yang masih tampak waspada.
"jika memang begitu berarti dari tadi ia terus menyembunyi-kan identitas-nya yang sebenar-nya." balas wanita yang berada sedikit jauh dari Jos.
"dan jika itu benar, maka kemungkinan ia yang sekarang jauh lebih kuat dari yang sebelum-nya!" timpal pria yang saat ini tidak jauh dari Liga.
Seketika mereka pun jadi semakin gentar.
wajah mereka semakin waspada dan rasa takut mulai terus menjalar di dalam diri mereka.
__ADS_1
Sementara itu, Askila yang saat ini berdiri di belakang Madika tentu-nya langsung memahami kenapa Madika ingin mengurusi Liga dan yang lain-nya seorang diri.
Alasan-nya adalah, karena Madika ingin melemah-kan mental lawan-nya saat berhadapan dengan diri-nya.
"langkah dewa angin." ucap Madika dengan suara pelan dan santai, namun bisa terdengar oleh Liga dan yang lain-nya.
Suara yang begitu dingin dengan aura membunuh yang kuat itu berhasil membuat mereka terkejut sekali lagi.
mata mereka langsung terbelalak dan mereka secara bersamaan langsung tersentak terutama saat mendengar kata 'dewa'.
~BHUUUUUFFFFF!!!!~
Seketika Madika yang mendarat-kan kaki-nya dengan santai ke atas tanah kini langsung mencipta-kan gelombang angin yang sangat besar dan sangat kuat.
gelombang angin yang sangat kuat itu pun kini langsung bergerak melebar dan langsung menghantam segala yang ada di sekitar-nya.
Liga dan ketiga rekan-nya itu pun kini terhantam oleh gelombang angin yang sangat besar dan bertekanan kuat itu.
mereka berempat pun kini langsung terhempas sangat jauh karena belum siap untuk mengantisipasi jurus Madika yang satu itu.
Tidak hanya itu saja, bahkan pohon-pohon yang ada di hutan kota saat ini langsung terhempas, beberapa pohon yang berada dekat Madika langsung patah, sementara yang berada jauh dari Madika langsung tercabut hingga akar-akarnya dan terlempar bersamaan dengan jalur gelombang angin itu.
Selain pepohonan, gelombang angin yang sangat dahsyat dari jurus langkah dewa angin itu kini mencapai beberapa bangunan serta gedung-gedung pencakar langit yang ada di kota itu.
alhasil beberapa gedung kini rata dengan tanah, sementara gedung pencakar langit banyak yang langsung hancur serta tumbang karena tiang penopang-nya sudah hancur akibat gelombang angin itu.
Sementara itu, beberapa ksatria Saga tingkat profesional, Elite, master dan grand master yang sebelum-nya penasaran akan pertarungan ini kini langsung terhempas sebelum mereka berhasil sampai ke tempat Madika dan Liga serta rekan-rekannya yang sedang bertarung.
"apa-apaan ini!!" teriak beberapa dari mereka yang penasaran itu saat terdorong ke belakang akibat dari serangan gelombang angin itu.
Sementara itu, Karu yang saat ini sudah berada di luar ruangan dan lebih tepat-nya berada di salah satu atap gedung pencakar langit kini langsung tertegun saat melihat sebuah gelombang angin yang sangat mengerikan itu.
__ADS_1
diri-nya yang hanya melihat dari kejauhan itu tidak tahu itu perbuatan siapa, namun yang ia ketahui adalah, gelombang angin sekuat itu tentu-nya sangat berbahaya jika terkena telak tanpa ada-nya perlindungan sama sekali dari perisai yang bisa di gunakan untuk memblokir serangan