
Mendengar jawaban Madika itu, kini pria itu tampak berpikir lagi.
"apa aku langsung menguji-nya saja?" batin pria itu sambil mengelus dagu-nya.
Madika kini terlihat terus waspada dan tidak mau mengalihkan pandangan-nya dari pria itu.
namun di saat yang tidak terduga, tiba-tiba pria itu langsung menghilang dari tempat berdiri-nya itu, dan langsung muncul dari belakang Madika sambil melancarkan tinju-nya yang tampak di sertai kilatan-kilatan yang cukup besar di sekitar tangan-nya.
Madika yang tiba-tiba merasakan bahaya dari belakang-nya langsung menoleh sambil melompat untuk menghindar, dan benar ternyata serangan tinju petir pria itu langsung menghantam tanah tempat pijak-kan Madika dan hantaman itu menghasilkan kepulan debu yang di sertai percikan api dan petir.
Melihat hal itu Madika pun tampak kesal.
"sial! sebelum-nya aku baru saja hampir mati dan sekarang hampir mati lagi!.... apa hari ini aku benar-benar sial sampai-sampai bertemu musuh kuat tiga kali berturut-turut." batin Madika sambil membayangkan wajah Natalia, Niverom yang ia lawan tadi, dan pria yang saat ini berada di hadapan-nya.
Setelah itu, pria yang menyerang menggunakan tinju petir itu kini terlihat meluruskan tubuh-nya dari sikap kuda-kuda bertarung. setelah itu ia mulai mengelus dagu-nya lagi sambil berpikir.
"refleks dan tingkat kewaspadaan-nya cukup baik.... meskipun begitu bukan berarti itu cukup untuk menyimpulkan kalau dia adalah sang pengendali angin tingkat legendaris itu." batin pria itu.
Setelah beberapa saat kemudian, pria itu kembali memasang kuda-kuda bertarung-nya.
"bersiaplah!" ucap pria itu dengan nada suara yang tegas.
"bersiap untuk apa lagi ini?!" batin Madika bertanya-tanya sambil pasang ekspresi kesal di wajah-nya.
Baru saja selesai berkata dalam hati, tiba-tiba tampak tiga bilah pedang petir melesat cepat ke arah Madika.
Madika yang melihat pedang itu kini langsung melompat ke belakang untuk menghindari serangan itu.
__ADS_1
"apa yang kau lakukan?!" bentak Madika. "tidak ada guna-nya sesama manusia saling membunuh di tempat ini!" ucap-nya dengan tegas sambil mengibaskan tangan-nya.
"hmm.... begitu ya.... maaf saja, tapi saat ini aku sama sekali tidak peduli hal itu!" ucap pria itu sambil mengangkat tangan-nya ke atas.
ketika pria itu mengangkat tangan-nya, tiba-tiba terjadi badai petir di atas awan, dan tak lama setelah itu banyak petir yang menyambar ke bawah serta bergerak ke arah Madika.
Sementara itu, Madika yang melihat hal itu langsung panik karena badai petir itu terlihat sangat menakutkan.
ketika petir-petir itu melesat ke arah Madika, maka dengan refleks Madika langsung melindungi diri-nya menggunakan lima lapis perisai angin.
Saat petir-petir itu menghantam perisai angin, tak di sangka-sangka ternyata perisai angin itu langsung hancur berkeping-keping dan petir-petir itu langsung menyambar Madika hingga tubuh Madika jadi mati rasa.
Setelah itu, Madika yang terkena Sambaran petir itu kini tergeletak di atas tanah karena kaki-nya tak dapat menopang berat tubuh-nya.
lalu dari jarak yang cukup jauh pria itu berjalan mendekati Madika.
"hah.... padahal aku sudah mengurangi kekuatan petir-ku itu, tapi tidak ku sangka kau selemah ini sampai-sampai tak mampu menahan petir-ku." ucap pria itu dengan santai-nya.
"hmm.... benar juga sih... tapi bagaimanapun juga, rasa-nya mustahil jika pewaris kekuatan ksatria legendaris tak bisa menahan serangan-ku barusan.... setahu-ku tuan Risiwuku itu adalah orang yang sangat cerdas, jadi pewaris kekuatan-nya juga harus-nya memiliki sedikit kesamaan." batin pria itu.
Tak lama setelah itu, pria itu pun hendak bertanya pada Madika. ia kemudian menatap Madika.
namun tatapan pria itu tampak terlihat sedang bertanya-tanya karena saat ini ia melihat bahwa Madika sedang tersenyum licik.
"apa kau pikir kau sudah menang?" ucap Madika sambil berseringai.
Baru saja selesai berkata seperti itu, tiba-tiba terjadi ledakan yang sangat kuat tepat di bawah kaki pria itu.
__ADS_1
ledakan itu membuat Madika terhempas namun masih sempat mempertahankan tubuh-nya agar tidak berguling-guling di atas tanah. hal itu pun membuat Madika bisa langsung berdiri sambil berusaha menggantikan tubuh-nya yang terhempas.
Sementara itu, di tempat terjadi-nya ledakan itu kini terlihat penuh kepulan debu yang di hasilkan oleh ledak-kan peluru angin yang Madika sengaja gunakan untuk menyerang.
"aku tidak yakin serangan-ku barusan bisa melukai-nya." batin Madika yang tampak sedang waspada.
"serangan dadakan-mu itu lumayan juga." ucap pria itu yang saat ini tidak di ketahui sedang berada di mana.
Mendengar suara itu, Madika pun segera mengedarkan pandangan-nya ke segala arah untuk mencari keberadaan pria itu.
"tchi!.... jika kau memang merasa lebih kuat! ayo tunjuk-kan diri-mu dan jangan bersembunyi layak-nya pengecut!" ucap Madika yang terlihat waspada sekaligus kesal.
"ya ya ya.... aku di sini." ucap pria itu sambil keluar dari balik pohon tempat ia bersembunyi.
Baru saja pria itu muncul dari balik pohon, tiba-tiba terjadi lagi ledakan angin bertekanan tinggi tepat di depan pria itu.
hal itu pun membuat pria itu terhempas ke belakang.
Madika yang melihat hal itu tentu tak mau membuang kesempatan. ia dengan cepat langsung melesat ke arah pria itu sambil menebas-kan pedang-nya di udara dan menghasilkan tebasan angin yang jumlah-nya sangat banyak karena Madika melakukan-nya secara beruntun.
Melihat serangan Madika itu, kini pria itu hanya tersenyum melihat tindakan Madika.
"jumlah bukan-lah penentu kemenangan!.... sebanyak apa pun serangan-mu, belum tentu semua itu bisa melukai lawan-mu!" ucap pria itu dengan sangat bersemangat sambil menghindari semua serangan Madika.
"masih belum cukup!" ucap Madika dengan suara keras sambil mengibaskan pedang-nya ke arah pria itu. lalu di saat bersamaan terbentuk-lah sebuah badai angin yang sangat kuat dan membuat angin tajam berbentuk bumerang yang ia gunakan sebelum-nya jadi bergerak secara tidak beraturan.
Melihat hal itu, pria itu pun langsung terbelalak karena pergerakan bumerang angin itu kini tak bisa ia tebak karena bisa berbelok kapan saja akibat badai angin yang saat ini terjadi.
__ADS_1
"lumayan juga!.... tidak ku sangka dia akan membuat kombinasi teknik seperti ini!... sungguh merepotkan!" batin pria itu sambil tersenyum tipis. "tapi teknik ini tidak akan bisa menghentikan petir-ku!" ucap pria itu dengan semangat sambil mengangkat tangan-nya dan menciptakan badai petir di udara.
"mari kita adu mekanik!" ucap pria itu dengan suara keras sambil tersenyum dengan ekspresi bersemangat.