Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Dendam Anak Karu


__ADS_3

Saat ini, di alun-alun kota tempat Liga, Tago, serta para rekan Liga kini sudah di lepas-kan oleh Nia dan Emi, mereka semua kini tampak sedang menanti-nanti sambil terus melihat-lihat ke segala arah karena penasaran dengan keadaan Madika saat ini.


Di lain sisi, para masyarakat sipil yang jumlah-nya sangat banyak itu tampak masih berada di alun-alun, mereka juga terlihat antusias untuk menanti-kan kemunculan Madika lagi karena saat ini mereka juga penasaran dengan keadaan serta apa yang terjadi di dalam wilayah domain milik Madika itu.


Tak lama setelah itu, tiba-tiba Madika langsung muncul secara tiba-tiba di tengah-tengah mereka.


bersamaan dengan kemunculan Madika, kini muncul pula Karu, Sigo, dan para pengikut Karu yang melakukan tindak kejahatan bersama Karu, termasuk seorang ksatria penjaga yang sebelum-nya telah menguliti Vera hidup-hidup.


Saat Karu dan para bawahan-nya itu muncul dalam keadaan tidak bernyawa, kini seluruh masyarakat di tempat itu langsung terkejut dan mulai gaduh.


Mereka semua langsung mulai berkata-kata dan mengeluar-kan pendapat mereka masing-masing.


Namun kebanyakan dari mereka saat ini tampak memuji perbuatan Madika serta keputusan dari raja Andreas karena pada dasar-nya memang sudah banyak masyarakat yang merasa resah dengan perlakuan serta kepemimpinan Karu di kota Kayau ini.


"luar biasa!!"


"hahahaha.... akhir-nya orang sombong itu menerima akibat dari perbuatan-nya!"


"ini baru nama-nya menegak-kan keadilan!"


"Hormat pada perwakilan raja!!..... panjang umur raja Andreas!!" teriak salah satu masyarakat yang selama ini selalu berada dalam penindasan dan di sisih-kan selama pemerintahan Karu.


Sontak seluruh masyarakat yang mendengar teriakan seorang pria itu kini langsung antusias dan dengan semangat langsung mengikuti teriakan dari pria itu.


kini sorak-sorai terdengar menggelegar di alun-alun itu, banyak yang langsung bersorak untuk Madika dan raja Andreas yang telah membuat keputusan untuk menghukum Karu dan para pengikut-nya.

__ADS_1


Sementara itu, terlihat dari tempat keramaian terlihat seorang ibu yang membawa seorang anak gadis seusia Madika serta seorang anak perempuan yang masih berusia lima tahun.


Ibu yang membawa kedua putri-nya itu kini langsung menangis dan dengan cepat mereka langsung berlari ke arah Karu yang kini sudah tak bernyawa.


Kini wanita beranak dua yang mengenakan pakaian mewah itu langsung memeluk mayat Karu sambil menangis dengan suara keras.


wanita itu adalah istri Karu, sementara kedua anak yang bersama wanita itu adalah anak mereka.


Kini mereka bertiga hanya bisa menangis melihat kematian Karu.


ketiga-nya tak kuasa menahan tangis. suara tangisan mereka kini bercampur dengan suara sorak-sorai orang-orang yang terus menyoraki Madika dan nama raja Andreas.


Para masyarakat tampak seolah tidak peduli dengan perasaan sedih yang di alami oleh istri dan anak Karu, mereka terus bersorak untuk Madika.


"kau sangat jahat!!..... kembali-kan papa seperti semula!!" ucap gadis kecil itu sambil menangis dan terus memukuli perut Madika.


Gadis kecil itu tampak sangat sedih, ia yang sangat polos itu seolah tidak takut dengan Madika dan dia seolah tidak peduli kalau Madika akan melukai-nya.


ia yang masih kecil itu hanya mengikuti naluri-nya dan melakukan apa yang benar menurut-nya tanpa peduli apa yang akan terjadi selanjut-nya.


Melihat kepolosan gadis kecil itu, kini Madika pun hanya bisa menunduk-kan wajah-nya, tampak ia merasa bersimpati kepada wanita itu.


"aku baru sadar ketika semua sudah terlanjur.... saat kita mengambil nyawa orang lain, saat itu kita tidak tahu bahwa orang yang kita bunuh itu ternyata sosok yang sempurna di mata keluarga-nya..... sekarang aku malah terlihat seperti orang jahat yang telah merenggut kebahagiaan kecil milik keluarga Karu." batin Madika yang kini bisa merasakan sedih yang di alami oleh keluarga Karu saat ini.


Lalu Madika yang merasa bersimpati itu pun kini langsung meraih tangan gadis kecil itu, lalu ia pun langsung berjongkok sambil menatap gadis kecil itu yang tengah mengelap air mata-nya dengan satu tangan.

__ADS_1


"maaf, aku tak bisa melakukan apa yang kau ingin-kan." ucap Madika dengan suara yang halus.


Setelah berkata seperti itu, kini Madika pun langsung berdiri dan memutar tubuh-nya serta membelakangi gadis kecil itu.


Kini gadis kecil itu kembali menangis, dan suara tangisan-nya semakin mengeras di sertai derai air mata yang terus menetes tanpa henti.


Madika yang mendengar tangisan gadis kecil itu kini hanya bisa diam, dalam hati ia merasa bersimpati, namun ia sadar diri bahwa ia tidak akan bisa menghibur gadis kecil itu karena dia sendiri-kah yang merupakan akar dari kesedihan mereka saat ini.


Kini Madika pun langsung berjalan menjauh dari tempat itu, sementara Liga, Tago, serta beberapa rekan Liga kini langsung berlari ke arah Madika dan mencoba mendekati Madika yang terlihat hendak pergi dari alun-alun kota itu.


Di sisi lain, kini kakak dari gadis kecil itu langsung memeluk si gadis kecil itu dari belakang sambil menetes-kan air mata-nya.


anak Karu yang paling kakak itu tentu juga merasa-kan kesedihan mendalam atas kematian ayah-nya, namun diri-nya juga sadar bahwa ini juga merupa-kan balasan untuk ayah-nya karena telah melakukan banyak kejahatan.


Sebenar-nya anak gadis Karu yang tertua itu sudah lama mengetahui tentang kejahatan Karu, namun Karu terus menyuruh putri-nya itu untuk tidak ikut campur karena pada dasar-nya Karu memang tak mau istri dan anak-nya terlibat dalam masalah yang ia buat.


Meski-pun anak gadis tertua Karu itu tahu bahwa ini balasan untuk ayah-nya, namun ia tetap merasa sedikit kesal atas perbuatan Madika yang kejam dan terkesan berdarah dingin itu.


Hal itu di karena-kan anak gadis tertua Karu itu yakin bahwa Madika pasti sudah menyiksa ayah-nya habis-habisan sebelum membunuh-nya.


anak gadis tertua Karu itu sebenar-nya juga sadar diri bahwa itu tidak-lah seberapa di banding dengan perbuatan ayah-nya, akan tetapi, sebagai seorang anak tentu ia merasa tidak bisa terima begitu saja jika ayah-nya di perlakukan semena-mena.


Kini anak gadis tertua Karu itu langsung menatap Madika dengan tatapan tajam, dan di wajah-nya tersirat niat balas dendam yang kuat.


"akan ku balas-kan dendam ayah-ku pada-mu!" ucap gadis itu dalam hati dengan pasti.

__ADS_1


__ADS_2