Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Serangan Niverom


__ADS_3

Saat ini Madika telah memuncul-kan sebuah singgasana yang tampak melayang di udara.


Singgasana itu adalah sebuah benda pusaka milik-nya, yakni pusaka singgasana harimau api.


Setelah memuncul-kan singgasana itu, kini Madika pun langsung mendekati singgasana itu dan kemudian menurun-kan Natalia ke singgasana itu.


"Kau tunggu di sini sebentar, aku ingin melawan para Niverom itu... Ini tidak akan lama kok." Ucap Madika.


"uhm... Tolong berhati-hati." Ucap Natalia sambil mengangguk sekali.


Setelah itu kini Madika pun terbang ke atas para Niverom dan ksatria Saga yang sedang bertarung itu.


"Kacau sekali tempat ini." Ucap Madika saat melihat sudah ada begitu banyak gedung di kota itu yang rusak dan hancur.


Setelah melihat situasi itu, kini tanpa berlama-lama lagi Madika pun langsung memuncul-kan ribuan budak bayangan milik-nya untuk melawan para Niverom tersebut.


Begitu jurus budak bayangan itu di aktif-kan, seketika itu pula muncul ribuan budak bayangan baik itu budak bayangan dari ras manusia, mau-pun dari ras Niverom.


Setelah itu kini seluruh budak bayangan itu langsung melesat ke bawah dan menghadapi para Niverom yang menyerang kota itu.


Kemunculan ribuan budak bayangan itu pun langsung membuat semua orang yang di tempat itu langsung terkejut, apa lagi saat mereka melihat sosok Niverom yang merupa-kan budak bayangan Madika yang kini menghajar Niverom lain-nya yang merupa-kan Niverom yang datang menyerang kota tersebut.


Seketika semua orang tampak terperangah dan menatap pertarungan pera budak bayangan milik Madika dengan tatapan bingung.


"A... Apa yang terjadi di sini?"


"Kenapa para Niverom itu melawan Niverom lain-nya!"


"Ini benar-benar di luar dugaan!... Apa yang sebenar-nya sedang terjadi di sini."


Berbagai komentar bermunculan dari bibir para ksatria Saga yang ada di tempat itu.


Tak butuh waktu lama, kini Madika pun terbang dan mendekati beberapa dari merek yang ada di tempat itu.


Saat para ksatria Saga itu melihat sosok Madika yang terbang mengguna-kan sayap angin membuat seluruh ksatria Saga itu tampak terkejut.


"Apa kalian semua masih bisa bergerak dengan baik?" Tanya Madika.


Mendengar pertanyaan Madika mereka yang tadi-nya menatap Madika dengan ekspresi wajah yang tampak terkejut kini langsung tersadar dan kemudian segera menjawab pertanyaan Madika.


"Ya, kami masih bisa bergerak dengan baik!" Jawab salah satu ksatria Saga itu.


"Bagus-lah... Kalau begitu aku ingin kalian melakukan evakuasi terhadap semua masyarakat yang ada di kota ini." Ucap Madika.


"Kami ingin segera melakukan hal itu, tapi sayang-nya para Niverom ini akan terus menyerang!" Balas salah satu dari mereka.


"Serah-kan saja para Niverom itu pada-ku!... Biar aku yang mengurusi mereka!" Ujar Madika dengan tegas.

__ADS_1


Mendengar ucapan Madika itu, kini mereka pun langsung menatap Madika dengan tatapan sinis karena mereka merasa bahwa Madika seperti orang yang sedang bermain-main saja menghadapi para Niverom.


"Hei bocah... Jangan bertingkah sok jago!... Medan pertempuran ini bukan-lah tempat untuk bermain-main!... Orang-orang yang bahkan tingkatan-nya masih berada di tingkat tinggi ataupun tingkat atas seperti-mu mana bisa melawan para Niverom dengan benar!" Ucap salah satu dari para ksatria itu dengan suara tegas.


"Benar!... Bahkan kami yang sudah berada di tingkat elite pun sekarang sedang kesulitan! Dan sekarang kau mau sok-sokan datang dan memerintah kami?... Benar-benar angkuh kau bocah!" Balas yang lain-nya menyanggah ucapan pria sebelum-nya.


"Bocah seperti-mu tidak akan bisa melawan bahkan satu dari Niverom yang ada di sini!... Lagi pula, paling-paling kau sekarang masih berada di tingkat atas, dan kalau beruntung paling masih tingkat tinggi level awal!" Timpal ksatria Saga yang satu-nya lagi dengan tatapan meremeh-kan.


Madika yang mendengar ucapan mereka pun kini hanya tersenyum tipis dan tidak membalas ucapan para ksatria Saga itu.


"Sudah-lah, terserah kalian mau bicara apa!" Ucap Madika yang kemudian berjalan ke depan dan melewati mereka semua.


"Yang jelas-nya sekarang jika kalian ingin tidak banyak korban di kota ini maka sebaik-nya kalian dengar-kan perintah-ku." Ucap Madika yang kemudian langsung menghentak-kan tubuh-nya.


Seketika itu juga aura membunuh dari aura Saga tingkat master milik Madika langsung merembes keluar dari tubuh-nya dan di saat itu aura Saga tingkat master itu pun langsung di rasa-kan oleh para ksatria Saga tingkat elite tersebut.


Begitu mereka semua merasa-kan aura Saga tingkat Elite yang merembes dari tubuh Madika kini mereka pun langsung terkejut dan menatap Madika dengan ekspresi terkejut serta mata yang terbelalak dan mulut yang menganga.


"Bo... Bocah itu...."


"Ternyata bocah itu tidak biasa!"


Seketika mereka semua pun heboh sendiri melihat sosok Madika yang sudah berada di tingkat master.


"Aura-nya sangat kuat dan sangat mengeri-kan... Sekujur tubuh-ku jadi sedikit merinding di buat-nya!"


"Siapa sebenar-nya bocah ini?"


Kini semua ksatria Saga itu pun langsung bertanya-tanya dan mulai penasaran dengan identitas Madika yang sebenar-nya.


Sementara itu, Madika yang saat ini sudah berada jauh di depan mereka kini langsung mengangkat tangan kanan-nya ke samping dan seketika itu juga muncul-lah seribu pasukan kera bayangan yang mengguna-kan senjata pedang ganda.


"Apa-apaan itu?" ucap salah satu ksatria Saga yang langsung terkejut melihat pasukan kera bayangan milik Madika.


Seketika semua orang yang melihat kemunculan seribu pasukan kera bayangan itu pun kini langsung terkejut dan menunjuk-kan ekspresi yang terlihat seolah tak percaya dengan situasi itu.


"Yang benar saja!... Apa jangan-jangan para Niverom yang melawan Niverom barusan juga merupa-kan bagian dari jurus milik bocah ini?" Ucap salah satu ksatria Saga itu.


"Aku belum pernah melihat yang seperti ini!... Dari mana sebenar-nya bocah ini berasal."


Kemudian Madika pun kini langsung memerintah-kan seluruh pasukan kera bayangan milik-nya itu untuk menyerang semua Niverom yang ada.


Para kera bayangan itu pun langsung melakukan apa yang di perintah-kan oleh Madika pada mereka.


Kini dengan ada-nya ribuan budak bayangan serta seribu pasukan kera bayangan milik Madika maka pertarungan saat ini pun sudah berhasil di dominasi oleh Madika.


Tampak para Niverom yang datang menyerang tampak terdesak oleh para pasukan milik Madika.

__ADS_1


Selain para ksatria Saga, ternyata para Niverom sendiri pun terkejut saat melihat sesama mereka menyerang mereka sendiri.


Mereka kini jadi kebingungan saat melihat para Niverom yang merupa-kan budak bayangan Madika yang kini menyerang mereka.


"Hei bodoh!... Kenapa kau menyerang rekan sendiri?!" Tanya salah satu Niverom menegur Niverom yang merupa-kan budak bayangan Madika.


Namun hasil-nya, si Niverom itu malah tidak mendapat jawaban, ia justru mendapat-kan sebuah tinju petir yang sangat kuat yang tepat mengenai ulu hati-nya dan membuat Niverom itu langsung terhempas sangat kuat akibat pukulan dari budak bayangan milik Madika.


Di sisi lain, para ksatria Saga yang sebelum-nya meremeh-kan Madika dan merasa kesal karena Madika memerintah mereka kini langsung mulai membuka pikiran mereka dan berusaha melihat sisi positif dari perkataan Madika sebelum-nya.


"Seperti-nya kita-lah yang terlalu merendah-kan bocah itu!... Untuk sekarang sebaik-nya kita lakukan saja apa yang ia arah-kan sebelum-nya." Ucap salah satu ksatria Saga itu.


"Kau benar!... Aku juga jadi merasa malu sendiri ketika tahu kalau ternyata tingkatan bocah itu jauh lebih tinggi dari-ku." Balas ksatria Saga lain-nya.


Setelah berkata seperti itu, kini sekelompok ksatria Saga itu pun langsung memilih untuk berpencar dan mencari ksatria Saga lain-nya untuk menyuruh mereka membantu dalam melakukan evakuasi agar proses evakuasi bisa jadi lebih cepat dari yang sebelu-nya.


Sementara itu, Natalia dan yang lain-nya yang saat ini sedang melayang di udara kini hanya bisa menatap pertarungan yang sedang berlangsung di bawah sana.


Mereka terus memperhati-kan pergerakan Madika dan melihat bagaimana cara Madika mengatasi semua masalah yang terjadi di area pertempuran ini.


"Bocah ini seperti-nya cocok memimpin jalan-nya suatu pertempuran... Dia seolah-olah sudah terbiasa dengan perang seperti ini... Padahal dia masih sangat muda tapi sudah seperti orang yang berpengalaman dalam peperangan." Ucap si guru pemandu dalam.hati saat melihat bagaimana Madika mengatur posisi para pasukan-nya serta mengatur arah evakuasi agar lebih aman dan bisa berlangsung cepat.


Sementara itu, dalam pertarungan tersebut, Madika menyerah-kan sepenuh-nya pertarungan itu pada budak bayangan dan pasukan kera bayangan milik-nya.


Dalam pertarungan itu terlihat beberapa budak bayangan milik Madika yang berada di tingkat Sasio kini sedang berhadapan dengan para pemimpin kelompok Niverom yang menyerang kota tersebut.


Para pemimpin penyerangan itu jumlah-nya sekitar delapan orang dan mereka semua berada di tingkat Sasio.


"Tidak ku sangka kalian semua berkhianat!... Apa yang sebenar-nya terjadi pada kalian sampai kalian berkhianat seperti ini?" Tanya salah satu Niverom tingkat Sasio itu dengan tatapan yang tajam mengintimidasi.


Namun sayang-nya pertanyaan itu sama sekali tak mendapat-kan jawaban dari Niverom yang sudah menjadi budak bayangan Madika.


Karena tak mendapat-kan jawaban sama sekali, kini para Niverom itu pun langsung menyerang para budak bayangan tersebut.


Pertarungan mereka pun cukup sengit, setiap serangan menghasil-kan ledakan yang luar biasa.


Berbagai jurus mereka gunakan untuk saling menyerang.


Tampak seorang Niverom memuncul-kan piton petir dan melesat cepat menyerang budak bayangan.


Namun dengan segera budak bayangan mengguna-kan jurus banteng api untuk menahan serangan piton petir.


Jurus itu berhantaman dan menghasil-kan ledakan yang luar biasa serta merusak beberapa bangunan yang ada di dekat mereka.


Kalau ada yang minat baca karya saya yang lainnya bisa cek di profil author ya.


__ADS_1


__ADS_2