Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Natalia vs Esi


__ADS_3

Tak butuh waktu lama, kini di telapak tangan Natalia tampak gumpalan petir dan api yang saling menyatu.


Saat gumpalan itu menyatu sempurna, Natalia pun langsung menyerang.


"enyah-lah!" ucap Natalia dengan suara datar.


Seketika gumpalan petir api itu berubah menjadi laser dengan jangkauan yang cukup luas.


laser itu tampak melesat cepat ke arah kelompok misterius itu. pepohonan yang di lewati oleh laser itu langsung terbakar menjadi abu.


tak satu pun tersisa di area yang di lalui laser itu.


tak butuh waktu lama, kini laser itu telah tiba di kelompok misterius itu dan membakar mereka semua.


seketika kelompok misterius itu langsung berubah menjadi abu karena serangan yang sangat mengerikan dari Natalia.


Mindo yang melihat serangan itu kini hanya bisa menganga dengan ekspresi terkejut sekaligus rasa kagum dengan jurus yang di tunjuk-kan oleh Natalia.


"inilah jurus yang di ajarkan ayah-ku secara paksa pada-ku." ucap Natalia.


"lu-luar biasa....." ucap Mindo dengan ekspresi yang tampak kagum.


"hmm...." gumam Natalia sambil mengangguk. "ini memang luar biasa, tapi karena aku masih berada di tingkat atas maka jurus ini banyak menguras energi Saga-ku." jelas Natalia.


"yah.... itu memang sudah pasti.... jurus sekuat itu tidak mungkin menguras hanya sedikit Saga." ucap Mindo membenarkan.


"meskipun jurus ini sangat kuat, bukan berarti tidak bisa di hentikan.... inti-nya, jika ada orang yang memiliki kemampuan yang sangat kuat, maka dia belum tentu akan mati dalam satu serangan." ujar Natalia.


"kau benar.... beda tingkatan dan level juga kadang menentukan kekuatan dan pertahanan seseorang." balas Mindo.


"namun kedua hal itu tidak menjadi tolok ukur untuk mencapai kemenangan dalam pertarungan yang sebenar-nya di lapangan." sambung Natalia.


kemudian Natalia menepuk bahu Mindo. "untuk sekarang aku ingin memulihkan Saga-ku, jadi jika ada masalah kau harus bisa mengurus-nya, dan aku hanya akan memberikan bantuan yang minim kepada-mu agar Saga-ku bisa segera pulih.... dan jika sudah pulih, maka aku bisa bersiap untuk menggunakan-nya melawan Madika."


"seperti-nya kau sangat yakin kalau Madika masih ada di dalam hutan saat ini." ujar Mindo menanggapi.


"tentu saja, bagi-ku, dia adalah orang yang tidak mungkin kalah dengan mudah jika lawan-nya hanyalah siswa-siswa kelas satu saat ini." jelas Natalia dengan yakin.


"begitu ya." balas Mindo.

__ADS_1


<~~~~>


Saat ini Madika, Natalia, Fany, dan Niko tampak sedang berjalan mencari tempat persembunyian yang paling aman.


mereka berempat terlihat selalu waspada. sambil berjalan mereka terus mengedarkan pandangan mereka ke empat arah mata angin untuk memastikan keadaan apakah aman atau tidak.


"kita tak perlu bergerak terlalu jauh, yang terpenting kita bisa berada di area yang aman, agar bisa bertahan sampai akhir." ucap Madika.


Waktu pun terus berlalu. Madika dan ketiga teman-nya kini sudah lebih dari dua kali bertemu dengan kelompok lain yang sedang bertarung. tetapi mereka berempat mengabaikan kelompok-kelompok itu.


mereka hingga kini terus berusaha untuk menghindari pertarungan yang tidak perlu.


setiap kali melihat siswa lain, mereka langsung bersembunyi dan menghindar.


mereka memanfaatkan trik menghilangkan keberadaan dari jurus pendeteksian milik musuh.


hingga pada akhir-nya, kini tersisa tiga kelompok di dalam hutan.


Area terbatas kini semakin sempit. kira-kira jarak diameter dari lingkaran area terbatas tersisa sekitar satu setengah kilometer.


sementara itu di dalam area terbatas hanya tersisa tiga kelompok dengan total delapan siswa.


orang yang Natalia temui saat ini adalah salah satu pengguna Saga terkuat di kelas es, dan yang satu-nya lagi adalah siswa yang kemampuan-nya masih menjadi misteri di kelas petir.


dua orang siswa itu bernama Esi Naleni, (si pengguna es), dan Lulu Ngisiguntu. (si pengguna petir).


"hei Natalia, aku tidak berpikir kalau kita akan kalah." ucap Mindo ketika melihat bahwa lawan mereka kali ini adalah Esi. "aku hanya ingin kau mengetahui bahwa Esi adalah salah satu pengguna Saga es terkuat di kelas kami, bisa di bilang dia bahkan jauh lebih kuat dari-ku." ucap Mindo memberitahu.


"begitu ya." jawab Natalia dengan ekspresi paham. "lalu bagaimana dengan yang satu-nya." aku tidak tahu tentang dia, bahkan teman sekelas-nya juga masih belum tahu pasti seperti apa kekuatan Lulu." jelas Mindo.


"kalau begitu sebaik-nya kita lebih berhati-hati lagi, terutama kepada gadis yang bernama Lulu itu." ucap Natalia.


"uhmm...." balas Mindo sambil mengangguk sekali.


Baru saja selesai mengangguk, kini sebuah es runcing yang berdiameter 40 cm sedang melesat dengan sangat cepat ke arah Mindo.


kecepatan es itu jauh melebihi kecepatan serangan es yang biasa-nya mereka lihat.


Mindo terkejut dan tak sempat menghindar.

__ADS_1


namun beruntung-nya Natalia yang memiliki refleks cepat langsung menghancurkan serangan es itu menggunakan petir milik-nya.


~JJJRRRSSSS~


~BRRRUUFFFH~


Suara serangan petir Natalia terdengar sangat kuat dan di sertai dengan suara hancur-nya es runcing itu hingga ke sumber serangan.


petir Natalia merambat dan menghancurkan es runcing hingga ke sumber-nya, dan serangan petir Natalia itu hampir mengenai Esi. namun Esi bisa menghindari-nya dengan mudah bahkan ia tak perlu melangkah dari tempat-nya berdiri.


"serangan dadakan ya.... apa kau pikir itu bisa berguna saat melawan-ku?" ucap Natalia dengan tatapan intimidasi.


Esi hanya diam. ia tak mengeluarkan sepatah kata-pun. ia kemudian dengan cepat langsung menciptakan pedang es di kedua tangan-nya. lalu dengan segera ia melesat ke arah Natalia dan Mindo.


Natalia yang melihat hal itu langsung bersiap untuk menghadapi Esi secara langsung.


"Mindo! urus yang satu-nya! biar aku yang menghadapi gadis yang satu ini!" ucap Natalia memberi perintah tanpa menoleh.


kurang dari sedetik kini Esi sudah berada di depan Natalia.


Esi dengan segera melompat di udara tepat di atas Natalia. lalu ia berputar sambil menebaskan pedang es-nya ke arah Natalia.


Natalia yang sudah siap bertarung langsung menciptakan perisai api menggunakan tangan kiri-nya.


lalu di saat yang bersamaan ia menggunakan tangan kanan-nya untuk menciptakan petir dan langsung menyerang Esi.


Esi mendarat di tanah. ia segera menangkis serangan petir Natalia menggunakan satu pedang-nya.


kemudian dengan cepat ia mengayun pedang satu-nya lagi ke arah leher Natalia.


Natalia mengangkat tangan-nya dan membentuk perisai.


pedang Esi pun kini menghantam perisai api itu. dan pedang Esi langsung hancur begitu saja.


Saat pedang es itu hancur, Natalia langsung menyipitkan mata-nya seolah ia sedang mencurigai sesuatu. dan benar, ternyata pedang milik Esi tidaklah hancur karena perisai api, melainkan sengaja di hancurkan oleh Esi sendiri.


Kini serpihan pedang es itu langsung bergerak dan melesat cepat ke arah jantung Natalia.


Natalia yang sudah sempat curiga pun kini langsung bisa mengambil tindakan untuk menghindari serangan yang mengarah ke jantung-nya itu.

__ADS_1


__ADS_2