Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Membantu Elsi Dan Dion


__ADS_3

Saat ini Madika terus menghajar wajah Niso hingga babak belur.


wajah Niso kini berlumuran darah, dan diri-nya sudah tidak berdaya, apa lagi saat ini mereka semua masih di bawah tekanan aura Saga milik Madika.


Setelah itu kini Madika pun langsung berdiri, setelah itu ia pun berjalan sedikit menjauh dari Niso dan para bawahan-nya itu.


"sebaik-nya kalian bawa dia pergi dari sini." ucap Madika dengan suara yang terdengar dingin dan memberi-kan sedikit rasa takut pada mereka semua.


"selain itu, sebaik-nya kalian jangan pernah menyentuh mereka berdua lagi!.... jika kalian berani mencari masalah lagi dengan mereka, maka kalian akan berhadapan dengan-ku." ucap Madika dengan ekspresi mengancam dan menatap tajam dan penuh intimidasi.


Setelah itu Madika pun langsung melepas-kan mereka dari tekanan aura-nya itu.


Seketika seluruh bawahan Niso itu langsung berdiri dengan cepat dan dengan segera mereka pun langsung membantu Niso untuk berdiri.


lalu salah satu dari mereka pun langsung menggendong Niso di punggung-nya dan setelah itu mereka semua pun langsung pergi dari tempat itu.


"tunggu saja pembalasan kami bocah!" ucap salah satu anggota Niso saat mereka pergi dari tempat itu.


Sementara itu, Madika kini langsung mendekati Elsi dan Dion.


mereka berdua kini hanya bisa menatap Madika dengan rasa khawatir karena Madika kini sudah membuat masalah dengan klan petir.


"hei bocah.... apa kau tak tahu siapa mereka?" tanya Dion dengan ekspresi khawatir.


"aku tak tahu.... tapi berdasar-kan insting-ku saat ini mereka sedang merencana-kan hal buruk pada kalian." jawab Madika dengan santai-nya.


"ja.... jadi itu alasan-mu sampai membela kami di hadapan mereka?" tanya Elsi karena sebelum-nya mereka juga mendengar ucapan Madika yang mengancam para anggota Niso untuk tidak mengganggu Dion dan Elsi lagi.


"ya.... kira-kira begitu-lah." jawab Madika dengan tenang.


"hei bocah, sebaik-nya mulai sekarang kau tidak menampak-kan diri-mu di kerajaan ini, karena jika kau terus berada di wilayah kerajaan ini, maka kemungkinan besar kau akan terbunuh oleh mereka!" ucap Dion memberi peringatan pada Madika.

__ADS_1


"hei Madika, seperti-nya kau sudah membuat masalah dengan orang-orang yang merepot-kan sekarang." tombak Aurel yang baru tiba di dekat Madika.


"tenang saja, lagi pula kita juga tidak akan lama berada di tempat ini.... jadi selama tujuan kita sudah tercapai, kita akan langsung meninggal-kan kota ini dan kembali ke kota ka...." ucap Madika yang kini terhenti sambil menoleh ke arah Aurel.


Madika tampak seolah tidak ingin melanjut-kan perkataan-nya, entah karena hal apa ia kini menghenti-kan ucapan-nya di ujung kalimat.


"hmm??" Aurel tampak kebingungan, kini ia hanya bisa menatap Madika sambil memiring-kan kepala-nya. lalu ia pun melanjut-kan perkataan-nya. "ada apa?.... kenapa berhenti bicara?" tanya Aurel.


"tidak ada apa-apa, aku hanya teringat dengan salah satu tempat persinggahan ku dulu." jawab Madika sambil kembali menoleh ke arah Dion dan Elsi.


"hei kalian berdua." ucap Madika menegur mereka berdua. "siapa nama kalian?" tanya Madika.


"nama-ku Elsi..... sebelum-nya terimakasih sudah membantu kami." ucap Elsi memperkenal-kan diri dan tidak lupa berterima kasih pada Madika.


"kalau aku Dion, aku juga sangat berterimakasih karena kau sudah membuat orang-orang dari klan petir itu kabur.... tapi kalau boleh ku beri satu saran, sebaik-nya kau harus waspada mulai dari sekarang." ucap Dion memperkenal-kan diri-nya dan kemudian memberi saran pada Madika.


"uhm.... terimakasih saran-nya, aku akan mengingat itu baik-baik." balas Madika.


begitu pula dengan Aurel yang saat ini berada dekat dengan Madika.


Setelah memperkenal-kan diri masing-masing, kini mereka berempat pun mulai mencari tempat yang cukup nyaman untuk mengobrol dan mengobati luka yang di alami oleh Elsi dan Dion saat ini.


Saat ini mereka menemukan sebuah pohon raksasa yang dimana akar-nya sangat besar dan tinggi.


di bawah akar pohon raksasa itu terdapat ruang yang cukup besar layak-nya gua.


Akar pohon raksasa itu tampak berwarna kehijau-hijauan karena banyak lumut yang tumbuh di sekitar-nya.


bukan hanya lumut saja, bahkan beberapa jenis tanaman berbunga juga tumbuh di akar pohon raksasa itu.


"ayo masuk, biar ku obati kalian di dalam." ucap Madika dengan ekspresi tenang.

__ADS_1


"tidak ku sangka, selain jago bertarung ternyata Madika juga bisa mengobati orang ya." ucap Dion sambil berjalan mengikuti Madika dari belakang.


"ya itu benar..... aku juga tidak menyangka hal itu." timpal Elsi.


setelah itu Elsi langsung menoleh ke arah Aurel dan tersenyum manis pada-nya.


"kau benar-benar gadis yang beruntung Aurel.... punya pacar yang sangat kuat dan bisa di andal-kan." ucap Aurel.


Mendengar perkataan Elsi, ekspresi Aurel pun langsung berubah dan ia langsung menatap Elsi dengan ekspresi malas.


"tolong jangan berkata seperti itu.... aku tak mau berpacaran dengan pria yang punya sifat yang menakut-kan seperti Madika!" ucap Elsi dengan ekspresi malas dan terlihat seperti orang yang sedang trauma akan apa yang terjadi pada diri-nya saat bersama dengan Madika.


"hah... itu benar.... lagi pula saat ini aku tak mau punya pacar karena pacar hanya akan jadi beban dalam perjalanan-ku." ucap Madika dengan ekspresi datar tanpa menoleh sedikit-pun.


"hoi.... aku juga bisa tersinggung loh." ucap Aurel sambil mengkerut-kan kening-nya karena kesal dengan ucapan Madika yang seolah sedang menyindir diri-nya.


"kenapa kau harus tersinggung?.... memang-nya kau pacar-ku?" ucap Madika.


setelah itu Madika pun langsung berhenti melangkah dan kemudian langsung menoleh ke belakang dengan tatapan yang terlihat seperti orang yang sedang merencana-kan hal jahat.


"atau jangan-jangan kau sedang berharap untuk menjadi pacar-ku ha?!" ucap Madika dengan nada suara yang sedikit di tekan.


"ehh??.... sebaik-nya kau berkaca dulu sebelum bicara, kau pikir wajah-mu itu adalah tipe pria idaman-ku?.... hahahaha jangan bercanda.... orang seperti-mu ini sama sekali tak selevel dengan-ku!" balas Aurel sambil menatap Madika dengan tajam.


"terserah kau saja mau bilang apa." ucap Madika yang kini malas melanjut-kan perdebatan itu.


"hahahaha aku memang." ucap Aurel dengan ekspresi bahagia.


Selama lima hari ini, Madika dan Aurel yang telah melakukan perjalanan bersama kini mulai semakin akrab.


kedua-nya bahkan sudah terbiasa dengan candaan-candaan seperti ini sehingga kedua-nya tidak terlalu tersinggung dengan kata-kata yang sedikit terdengar kasar itu.

__ADS_1


__ADS_2