
Saat ini, empat jenis penghalang berbentuk setengah bola langsung terbentuk dan mengurung Madika di dalamnya.
Empat penghalang itu masing-masing berasal dari satu tetua, mulai dari tetua penguasa angin, Tetua penguasa petir, tetua penguasa api, dan tetua penguasa es.
Empat lapis penghalang itu tampak sangat kokoh dan tak bisa di hancurkan oleh jurus biasa saja. Bahkan mungkin langkah dewa angin Madika pun belum tentu bisa menghancurkan semua dinding penghalang itu.
"Wah wah wah... Sepertinya aku akan di keroyok empat tetua nih!" Ucap Madika sambil mengedarkan pandangannya menatap empat tetua itu.
Namun beberapa saat kemudian, kini terbentuklah sebuah cela yang berbentuk persegi panjang layaknya sebuah pintu di permukaan keempat dinding penghalang itu.
Kini dari cela yang berbentuk pintu itu terlihat Axel yang sedang terbang menggunakan pedang miliknya dan Axel pun kini masuk ke dalam penghalang berbentuk setengah bola itu melalui cela berbentuk pintu yang sengaja di buat oleh empat tetua tersebut.
"Kali ini akulah yang akan menjadi lawan-mu!" Ucap Axel dengan tatapan angkuh di wajahnya.
Ia tersu menatap Madika dengan tatapan sinis dan sombong. Ia merasa bahwa dirinya saat ini jauh lebih kuat dari Madika, dan memang jika di lihat berdasarkan kapasitas tingkatan Axel memang lebih kuat, namu, kekuatan saja tidak berlaku di hadapan jurus-jurus unik milik Madika, terutama di depan jurus-jurus unik yang berasal dari senjata energi maupun senjata pusaka yang Madika miliki.
Madika yang melihat hal itu kini hanya menatap Axel dengan tatapan tajam mengintimidasi.
Dirinya sama sekali tidak peduli dengan kata-kata Axel saat ini.
Bahkan sekali pun jika Axel menghina dirinya, ia tetap tidak akan peduli karena tujuan Madika saat ini hanyalah tongkat kaisar rotan api.
"Sebaiknya kau pergi saja dan beritahukan pada ketua sekte kalian bahwa aku kemari hanya untuk mengambil kembali tongkat milikku!" Ucap Madika menyuruh Axel.
"Hah?!... Kau bicara apa barusan?!" Ucap Axel dengan eskpresi mengejek sambil mendarat ke lantai arena yang saat ini sudah hancur.
"Kau pikir kau siapa hah?!... Jangan pikir kau bisa memerintah putra dari raja Ando Bangareso! Sang penguasa kerajaan Doroko ini!" Ucap Axel dengan angkuhnya memamerkan kedudukan ayahnya sebagai raja.
Madika yang mendengar ucapan Axel itu kini hanya menggelengkan kepalanya sambil menghela nafas panjang.
"Orang yang seperti ini sepertinya memang harus di kasih paham!" Ucap Madika dalam hati.
Lalu Madika pun menatap Axel dengan tatapan tajam mengintimidasi.
Madika pun melihat bahwa saat ini tepat di depan Axel terdapat satu puing batu besar yang memiliki bayangan yang bisa di gunakan oleh Madika untuk berpindah antar ruang.
__ADS_1
Tanpa banyak berkata-kata lagi, Madika pun langsung melakukan teleportasi tepat ke depan Axel dan dengan cepat ia langsung mencengkram mulut Axel dengan sangat kuat.
"Hmmmppp!!"
Axel pun terkejut dan merasakan kesakitan saat tangan Madika mencengkram mulutnya.
Rasanya rahang mulutnya seperti mau hancur akibat cengkraman tangan Madika.
"Mulutmu ini terlalu banyak bicara, lebih baik ku hancurkan saja!" Ucap Madika sambil memperkuat tangganya menggunakan energi Saga milik-nya.
KRAAAKKK!!!
Kini sebuah bunyi retakan terdengar dan benar saja rahang bawah milik Axel saat ini berhasil di patahkan oleh Madika.
Axel pun langsung mengerang kesakitan. Ia tak bisa mengeluarkan suara namun air matanya keluar sedikit dan tampak membuat matanya berkaca-kaca.
Ia lalu menendang Madika sekuat tenaga, namun tiba-tiba Madika jatuh ke dalam bayangan dengan sangat cepat sehingga tendangannya tidak mengenai Madika.
"Sialan! Sialan! Sialan! Sialaaaannnn!!!!" Teriak Axel dalam hati dengan mata yang tampak berkaca-kaca meskipun air matanya hanya sedikit yang keluar.
"Aku menunjukkan sesuatu yang memalukan di depan Natalia!!" Ucap Axel dengan ekspresi yang kesal. Ia kemudian melihat ke arah Natalia, namun Natalia saat ini malah terlihat fokus memandangi sosok Madika yang kini sudah berada cukup jauh dari Axel.
"Sialan kau! Kau belum tahu siapa dan sekuat apa diriku bang$at!!" Bentak Axel dalam hati.
"Axel!! Kau baik-baik saja?!" Teriak ketua sekte sambil mendekat ke penghalang tersebut.
Axel hanya menoleh ke arah ketua sekte sambil mengangguk dan menunjuk ke arah rahang bawah-nya yang patah saat ini.
Ketua sekte pun langsung paham apa yang di maksudkan oleh Axel saat ini.
"Apa kau yakin bisa melawan bocah itu?!" Tanya ketua sekte lagi.
Sekali lagi Axel hanya bisa mengangguk karena kini ia benar-benar sudah kesulitan untuk berbicara dan dari mulutnya kini mengalir sangat banyak darah.
Sementara itu, Madika kini menatap ke arah si ketua sekte itu.
__ADS_1
"Hoi ketua sekte! Kembalikan tongkatku sekarang juga!" Ucap Madika dengan suara tegas dan bisa terdengar oleh si ketua sekte itu.
"Tongkat? Tongkat apa yang kau maksud?" Tanya si ketua sekte yang sedang berpura-pura tidak tahu.
"Jangan berpura-pura bodoh kau! Aku yakin muridmu itu telah membawa tongkatku ke tempat ini!" Bentak Madika.
"Begitu ya! Memangnya kalau ia kenapa? Apa kau pikir kami akan menyerahkannya begitu saja padamu?!" Balas ketua sekte dengan suara yang terdengar tegas.
"Jangan sombong anak muda! Hanya karena kau berpikir bisa menghancurkan klan petir, jangan pikir kau bisa mengacau di sekte ku!" Ucap ketua sekte sambil menurunkan aura tingkat ke arah Madika.
Seketika itu juga Madika pun langsung tertunduk dan berlutut.
Tekanan aura milik ketua sekte itu sangatlah kuat, dan bisa di ketahui bahwa kemungkinannya ketua sekte ini juga mendalami ilmu memperkuat tekanan aura yang di miliki oleh si pengguna.
"Sialan! Tekanan aura orang ini sangat kuat! Bisa di pastikan dia juga mendalami ilmu yang sama denganku!" Batin Madika sambil menatap ketua sekte itu dengan ekspresi wajah yang tampak waspada.
Di sisi lain, Axel yang melihat Madika yang sedang tidak bisa bergerak akibat tekanan aura itu kini menganggap bahwa ini adalah kesempatan baginya untuk menghabisi Madika sekarang juga.
"Ini kesempatanku!!" Ucap Axel dalam hati.
Lalu Axel pun langsung melesat ke arah Madika sambil memunculkan pedang es dan angin miliknya.
Dengan kedua pedang itu, kini Axel langsung melompat di udara dan hendak mendarat ke arah Madika sambil menebas leher Madika.
"Dasar laki-laki pengecut!!" Teriak Natalia yang melihat tindakan Axel yang hendak menyerang di saat Madika tidak berdaya.
Namun karena Madika bisa merasakan keberadaan Axel yang sedang melesat ke arahnya, kini Madika pun bisa mengantisipasi hal itu.
"Sial! Kalau begini lebih baik segera ku selesaikan saja semua ini!!" Ucap Madika dalam hati.
Lalu Madika pun langsung menjatuhkan dirinya ke dalam dimensi bayangan. Hal itu pun membuat Axel kini hanya menebas angin karena Madika sudah tidak ada di tempat itu lagi.
Kira-kira hanya berselang sedetik saja, kini Madika sudah muncul di luar di Ding penghalang setengah bola itu.
Madika muncul tepat di samping puing-puing yang menghasilkan sebuah bayangan saat ini.
__ADS_1
Melihat Madika yang bisa keluar dengan sangat mudahnya kini membuat semua orang di tempat itu langsung menganga dan terkejut.
"Pada akhirnya menggunakan dinding penghalang sama sekali tak berguna melawan bocah itu!!" Gerutu tetua Barugo dengan ekspresi kesal karena ternyata usaha mereka untuk mengurung Madika hanyalah sebuah kesia-siaan saja.