
Setelah cukup lama berpikir, kini Liga pun langsung bosan dan kemudian berhenti memikir-kan kejadian sebelum-nya serta rahasia orang yang duduk di atas kepala naga kuno legendaris itu.
Setelah tidak bisa menebak, kini Liga pun langsung membalik-kan badan-nya dan langsung menghadap pada bawahan setia-nya yang bernama Sigo itu.
"apa kau sudah menyiap-kan semua-nya untuk pertemuan besok?" tanya Liga serius.
"ya tuan, semua sudah ku siap-kan." jawab-nya sopan. "aku juga sudah memberitahu-kan para ksatria Saga lain-nya yang sudah anda pilih untuk berkumpul di ruangan anda besok." timpal-nya.
"bagus.... tetap pertahan-kan kerja keras-mu itu hingga kita bisa menang." ucap Liga penuh percaya diri.
Sementara itu, Sigo yang mendengar pujian Liga kini hanya tersenyum ke arah Liga.
lalu Liga pun langsung berjalan mendekati Sigo.
"ayo kita pulang sekarang." ucap Liga sambil menepuk kecil bahu Sigo, dan kemudian ia langsung berjalan melewati Sigo.
"baik tuan." jawab Sigo dengan patuh dan kemudian langsung memutar tubuh-nya serta berjalan mengikuti Liga dari belakang.
*******
Keesokan hari-nya, kini di ruangan Liga tampak ada empat orang pria berusia 30-an dan dua orang wanita berusia sama.
mereka semua adalah orang-orang yang di pilih oleh liga untuk menjalan-kan misi pembunuhan keluarga Nemosu secara diam-diam.
Membunuh, bukan berarti harus bertarung secara langsung, melain-kan membunuh saat lawan belum siap bertarung pun, itu juga termasuk.
Saat ini mereka sedang duduk di sofa yang ada di ruangan Liga.
tampak mereka berenam berbincang-bincang dengan akrab.
bisa di pasti-kan bahwa mereka berenam sudah saling kenal sejak lama.
Sementara itu, Liga yang sedang duduk di depan meja-nya kini langsung menatap jam tangan-nya.
"jam berapa bocah itu akan datang sih?" batin Liga bertanya-tanya.
Beberapa saat kemudian akhir-nya Madika pun tiba di depan kantor asosiasi ksatria Saga itu.
__ADS_1
diri-nya saat ini sedang memakai sebuah topeng penyamaran, bahkan pakaian-nya pun ia ganti agar tak ada yang mengenali-nya.
Saat Madika masuk ke dalam kantor asosiasi itu, banyak mata yang langsung melirik ke arah Madika karena bagi mereka Madika saat ini sangat-lah mencurigakan.
apalagi dengan ada-nya kejadian pertarungan dua orang misterius semalam.
hal itu tentu-nya memancing banyak rumor yang beredar.
baik itu rumor yang benar mau-pun rumor yang di buat-buat dari cerita yang di lebih-lebihkan.
Madika yang melihat semua orang di tempat itu tampak waspada kini hanya bisa diam sambil menghela nafas.
lagi pula Madika juga bisa mengerti mengapa hal seperti itu bisa terjadi.
Tak lama setelah itu, Madika pun mendatangi Sigo, bawahan setia Liga.
lalu Madika pun segera memperkenal-kan diri pada Sigo.
Setelah Sigo memasti-kan bahwa itu benar-benar Madika, kini Sigo pun membawa Madika ke ruangan Liga.
Saat orang-orang melihat Sigo menyambut Madika dengan sopan, kini mereka semua berpikir bahwa Madika pasti kenalan Sigo atau-pun Liga.
Tak butuh waktu lama, kini Madika dan Sigo pun tiba di ruangan Liga.
Liga yang melihat Madika dan Sigo memasuki ruangan itu kini langsung berdiri untuk menyambut Madika.
"silahkan duduk dulu." ucap Liga. "Sigo, buat-kan minuman untuk-nya." ucap Liga lagi memberi perintah pada Sigo untuk menyeduh-kan minuman hangat untuk Madika.
Setelah itu, kini Madika pun duduk bersama enam orang yang ada di sofa yang hanya berjarak kurang lebih tiga atau empat meter dari depan meja Liga.
"apa mereka semua orang-orang yang akan bekerjasama dengan-ku?" batin Madika sambil melirik mereka tanpa menggerak-kan kepala-nya sehingga ke enam orang itu tidak menyadari tindakan Madika.
Setelah Madika duduk, kini keenam orang tua itu mulai mengajak Madika ngobrol bersama mereka untuk saling mendekat-kan diri.
"apa dia orang yang terakhir?" tanya salah satu pria yang duduk bersebelahan dengan Madika.
"ya dia orang-nya." ucap Liga sambil tersenyum ramah pada pria itu.
__ADS_1
"hmm..... ku dengar usia-nya masih sangat muda." balas pria itu sambil menatap ke arah Madika.
"hei bocah." pria itu kini dengan akrab-nya langsung mengalungi leher Madika mengguna-kan tangan-nya.
kemudian ia melanjut-kan perkataan-nya. "kau boleh membuka topeng-mu itu sekarang, di sini tidak ada yang perlu kau khawatir-kan." ucap pria itu sambil melebar-kan senyum-nya pada Madika.
"ya itu benar nak, lagi pula kami penasaran dengan wajah orang yang berani menentang keluarga Nemosu secara terang-terangan sampai-sampai berani membunuh putra mereka satu-satunya itu." timpal seorang wanita yang duduk di hadapan Madika.
Madika pun kini hanya bisa menghela nafas.
kemudian ia pun langsung membuka topeng-nya itu.
Seketika keenam orang pilihan Liga itu tampak terkejut melihat wajah Madika.
mereka.semua kini yakin bahwa Madika memang masih sangat muda.
Awal-nya mereka semua ragu dengan hal itu, namun setelah bertemu langsung dengan madika, kini mereka bisa percaya pada ucapan Liga sebelum-nya saat Madika belum tiba di ruangan ini.
"hei nak, apa kau benar-benar sudah berada di tingkat elite?" tanya wanita itu lagi yang tampak penasaran.
"ya..... aku sangat beruntung bisa memiliki kemampuan unik untuk mempercepat peningkatan kekuatan-ku." jawab Madika.
Mendengar jawaban Madika, mereka pun langsung percaya begitu saja dan tak meminta Madika untuk menunjuk-kan bahwa ia memang berada di tingkat elite.
Setelah itu, karena mereka semua belum memperkenal-kan diri pada Madika, kini mereka berenam pun langsung memperkenal-kan diri masing-masing.
Pria yang sebelum-nya duduk di samping Madika itu berna Jos, sedangkan wanita yang duduk berhadapan dengan Madika itu bernama Vera.
Setelah mereka semua sudah saling memperkenal-kan diri, kini mereka pun mulai mengobrol ringan sambil bergurau.
Liga yang melihat mereka yang kini sudah bisa saling mengakrab-kan diri dengan Madika kini langsung berdiri.
"baik-lah, karena kalian semua sudah terlihat saling akrab satu sama lain, maka sebaik-nya kita pindah tempat sekarang." ucap Liga yang kemudian berjalan mendekati sebuah rak buku milik-nya.
Lalu Liga pun menyingkir-kan beberapa buku, setelah itu di balik buku-buku yang sudah ia singkir-kan itu terdapat sebuah benda berbentuk lingkaran.
Lalu Liga pun kini meletak-kan telapak tangan-nya di benda berbentuk lingkaran itu.
__ADS_1
setelah melakukan hal itu, kini sebuah pintu rahasia yang berada di samping rak buku itu langsung terbuka.