
Setelah Natalia selesai membuat Sugali dan Axel merasa malu di depan umum, kini Natalia pun kembali ke tempat duduk-nya.
Semua-nya kini kembali tenang. Namun, seperti yang di pikir-kan oleh guru pemandu sebelum-nya, kejadian ini pasti akan menghasil-kan sebuah dendam, dan benar saja, Sugali yang seorang ksatria tingkat Epic itu pun langsung menaruh dendam pada Natalia dan berniat membunuh Natalia secara diam-diam malam ini.
"Apa pun yang terjadi! Malam ini nyawa gadis itu harus melayang!" ucap Sugali dalam hati.
Sementara itu, kini pertandingan kembali di lanjut-kan dan semua orang berusaha melupa-kan kejadian barusan serta kembali fokus pada pertandingan yang sudah terencana sebelum-nya.
Sementara itu di bangku penonton tampak Natalia dan Diana duduk bersampingan.
Axel yang sudah di permalu-kan oleh Natalia itu kini hanya bisa duduk di tempat yang berjauhan dari Natalia dan Diana karena diri-nya sudah merasa takut dan malu.
*******
Saat ini jauh dari wilayah sekte Balumba tepat-nya di sebuah hutan belantara tampak sosok Madika sedang bertarung dengan salah satu orang yang kuat dari sekte Balumba.
orang tua itu sudah berada di tingkat Epic dan kemampuan bertarung-nya juga sangat kuat sehingga dengan kemampuan Madika saat ini bisa di pasti-kan Madika akan kalah jika langsung terkena serangan itu.
Kini tinggal satu tebasan pedang saja yang di gunakan oleh pria tua itu dan akhir-nya semua monster semut milik Madika sudah habis dan tak tak tersisa satu pun lagi di tempat itu.
"Apa hanya segini saja? Apa cuma ini kekuatan yang sudah memporak-porandakan klan petir itu?" Ucap orang tua itu dengan ekspresi meremeh-kan Madika.
"Tingkatan-mu memang bukan sekedar isapan jempol semata ya?!" Ucap Madika mengakui kemampuan yang di miliki oleh pria tua itu.
"Hahahaha, Tentu saja bocah! Jadi apa sekarang kau sudah sadar diri hah?!" Ucap si pria tua yang bernama Rukadu itu dengan penuh percaya diri.
"Hahaha! Harus-nya bocah itu sudah sadar akan posisi-nya sekarang!"
"Mana mungkin bocah rendahan seperti-nya bisa melawan tuan Rukadu!"
"Ayo beri Penghakiman pada bocah itu tuan Rukadu!"
Para anggota yang bersama Rukadu kini terus berteriak dan meremeh-kan Madika.
__ADS_1
Mereka sedari tadi terus memandang tinggi Rukadu dan memandang rendah pada Madika.
Namun sampai saat ini mereka benar-benar sudah di buta-kan oleh kenyataan bahwa Madika adalah orang yang telah menghancur-kan satu klan terkuat di kerajaan ini.
Kelompok kecil seperti mereka saat ini sama sekali bukan tandingan Madika, bahkan tanpa harus mengguna-kan banyak senjata pusaka Madika pasti bisa mengalah-kan mereka asal-kan si Rukadu itu bisa di bunuh.
"Heh?... Sebaik-nya jangan terlalu percaya diri dulu pak tua!" Ucap Madika sambil mengangkat dagu-nya dan menatap sinis ke arah Rukadu.
"Memang-nya kenapa hah?! Apa kau berpikir bahwa kau punya kekuatan untuk mengalah-kan ku hah?! Jika memang iya! maka tunjuk-kan kekuatan itu sekarang! Jangan terlalu banyak berbelit-belit!" Ucap Rukadu menantang Madika sambil membalas tatapan sinis Madika dengan tatapan tajam mengintimidasi milik-nya.
"Baiklah kalau begitu! Tapi ku harap kau tidak terkejut melihat kekuatan-ku yang sebenar-nya." Ucap Madika dengan santai-nya.
Lalu Madika pun mengangkat tangan-nya ke depan dengan posisi telapak tangan terbuka.
"Domain Badai Kehancuran!!" Ucap Madika dengan suara keras.
Seketika suasana pun berubah. Angin langsung berhembus kencang dan tampak tempat mereka berada saat ini langsung berubah.
Hal itu pun sedikit berhasil memicu kepanikan di antara para anggota yang datang bersama dengan Rukadu karena saat ini tidak hanya Rukadu saja yang masuk ke dalam domain, bahkan para anggota-nya pun juga kini ikut masuk dalam domain milik Madika itu.
"Apa ini?!"
"Apa ini yang di sebut domain itu?!"
"Di mana kita?!"
"Jangan bertanya pada-ku! Aku juga tak tahu!"
Para anggota bawahan Rukadu kini semakin panik. Hingga akhir-nya badai angin yang membawa debu itu pun perlahan lenyap dan Madika pun muncul di udara dan diri-nya tampak sedang melayang mengguna-kan sayap angin-nya.
"Kenapa? Apa kalian terkejut hanya dengan jurus kecil ini?" Tanya Madika sambil memandang mereka dari atas langit domain itu.
"Jadi begini ya! Rasa-nya memandang orang dari atas! Rasa-nya mereka semua terlihat seperti sampah sekarang! Huaahahhaha!" pikir Madika sambil tertawa dalam hati.
__ADS_1
Namun ekspresi wajah Madika tampak seperti orang yang sedang tertawa.
Rukadu yang melihat hal itu tentu-nya merasa tersinggung dengan tingkah Madika saat ini.
"Terkejut hah?! Hmm... Mungkin aku memang sedikit terkejut, Tapi bukan berarti aku akan takut hanya dengan jurus domain yang seperti ini!" ucap Rukadu dengan tegas.
"Tentu saja tidak perlu terkejut! Lagi pula bukan jurus ini yang ingin ku tunjuk-kan pada kalian!" Ucap Madika sambil tersenyum licik serta menatap mereka dengan sorot mata yang tajam.
"Yang ingin ku tunjuk-kan pada kalian adalah sebuah jurus yang baru yang baru-baru ini berhasil ku kuasai!" Ucap Madika dengan tatapan penuh makna.
Lalu Madika pun langsung mengaktif-kan kekuatan dari pusaka raja kera bayangan milik-nya, yakni sebuah pusaka yang berupa mahkota.
Begitu mahkota itu muncul dan melayang di atas kepala Madika, kini Madika pun langsung menghentak-kan kedua tangan-nya ke samping.
"Jurus terlarang!!" Ucap Madika dengan suara yang terdengar menggema di udara.
"BUDAK BAYANGAN!!"
Sekali lagi suara Madika terdengar menggelegar di udara, dan di saat yang bersamaan kini sebuah aura hitam bermunculan di depan Madika.
Aura hitam itu kini berkumpul menjadi beberapa gumpalan dan gumpalan aura hitam itu perlahan berubah menjadi sosok manusia.
Melihat perubahan wujud dari gumpalan aura hitam itu, kini semua orang yang ada di situ langsung terkejut, bahkan Rukadu pun juga tampak sangat terkejut melihat hal itu.
Yang membuat mereka sangat terkejut saat ini karena wujud manusia yang terbentuk oleh bayangan itu adalah sosok yang mereka kenali, yakni tiga tetua dari klan petir.
Mereka adalah tetua Akina, tetua Lingka, dan tetua Rionda.
"Ba... Bagaimana mungkin?!" ucap Rukadu dengan ekspresi yang tampak terkejut dan tidak percaya akan apa yang di lihat-nya itu.
Sementara itu, Madika yang melihat ekspresi Rukadu itu kini langsung tertawa kecil sambil menutupi wajah-nya mengguna-kan telapak tangan-nya.
"Bagaimana? Apa sekarang kau yakin ingin melawan diri-ku yang di kawal oleh tiga ksatria tingkat Epic ini hah?!" Ucap Madika sambil membuka jari-nya yang menutupi sebelah mata-nya saat ini.
__ADS_1