
Setelah Madika siap menerima ujian terakhir dari tuan Mawata, kini jelmaan kura-kura raksasa yang merupakan hewan peliharaan tuan Mawata kini langsung mengaktif-kan jurus milik-nya.
ia menggerak-kan kedua tangan-nya dengan beberapa variasi gerakan hingga akhir-nya tampak telapak tangan-nya muncul cahaya biru keunguan.
lalu jelmaan kura-kura raksasa itu pun langsung menyentuh kepala Madika mengguna-kan dua jari tangan kanan-nya.
seketika itu juga Madika langsung kehilangan kesadaran-nya dan langsung jatuh tersungkur.
Melihat hal itu, Bunggu pun langsung memegang dan menopang tubuh Madika.
"ku harap tuan Madika bisa melalui ujian terakhir ini." batin Bunggu sambil membenar-kan posisi duduk Madika.
sementara itu, jelmaan kura-kura raksasa itu tampak masih mengarah-kan tangan-nya ke kepala Madika, dan tampak dari jari-jari tangan-nya itu cahaya keunguan terus mengalir ke dalam kepala Madika.
Saat ini, di sebuah ruangan yang sangat gelap Madika sedang berdiri.
ia menoleh ke berbagai arah untuk melihat situasi di sekitar-nya, namun sayang-nya di tempat itu tak ada yang bisa di lihat selain kegelapan yang pekat.
hingga akhir-nya Madika tiba-tiba mendengar sebuah suara di yang cukup familiar di telinga-nya.
"tuan, kapan anda akan bergerak?" tanya Bunggu yang saat ini sedang berlutut menghadap Madika yang sedang duduk di sebuah singgasana.
Sementara itu, Madika yang saat ini sedang duduk di sebuah singgasana itu kini menatap Bunggu.
"apa kau ingin kita langsung menyerang kerajaan Tambolo dan menghancur-kan semua kehidupan yang ada di sana?" tanya Madika memasti-kan.
"tentu saja tuan, lagi pula, dengan kekuatan anda saat ini, sudah di pasti-kan tidak akan ada yang bisa menghenti-kan anda.... semua orang akan tunduk pada anda." ucap Bunggu.
__ADS_1
Madika yang mendengar hal itu kini hanya diam ia tampak sedang berpikir dan menimbang apa yang harus ia lakukan.
setelah beberapa saat berpikir, tiba-tiba Madika pun langsung berpindah tempat.
kini diri-nya tampak sedang berdiri di sebuah ruangan kosong yang gelap.
saat ini tampak seolah ada sinar yang sedang menerangi Madika.
tak lama setelah itu, tiba-tiba di depan Madika muncul sosok diri-nya sendiri.
sosok itu adalah sisi gelap dari jiwa Madika, yakni sosok yang memiliki kepribadian yang jahat.
Sosok diri-nya itu kini mendekati Madika sambil menepuk bahu Madika dengan ekspresi kecewa.
"apa lagi yang kau pikir-kan? bukan-kah kau ingin membalas dendam orang tua-mu pada paman-mu itu?.... kenapa sekarang malah banyak berpikir?.... bukan-kah dengan kemampuan-mu yang sudah berada di tingkat legendaris ini kau bisa menghabisi mereka dan menindas semua yang pernah menindas diri-mu dan orang tua-mu?" ucap sosok Madika dengan kepribadian yang jahat itu.
Madika yang mendengar ucapan diri-nya sendiri itu kini terlihat sedikit menyipit-kan mata-nya dan mulai berpikir.
"dari kata-kata mu itu kau terdengar seperti sedang menyuruh-ku untuk membunuh semua yang tidak tunduk pada-ku, karena seperti itu-lah hukum alam yang kau maksud." ucap Madika dengan tatapan menyelidik.
Kepribadian Madika yang lain itu kini terlihat senang ketika Madika memahami maksud ucapan-nya.
"ya!.... benar sekali!.... ingat-lah! saat ini kau-lah satu-satunya pengguna Saga tingkat legendaris di era ini.... dengan kekuatan-mu itu, jangan-kan kerajaan Tambolo, bahkan seluruh benua ini bisa menjadi milik-mu, dan kau lah yang akan berkuasa atas segala yang ada di benua ini." ucap Madika yang lain itu dengan penuh semangat dan terus menggoda Madika dengan iming-iming kekuasaan otoriter.
Di sisi lain, saat ini di dunia nyata tampak Bunggu sedang menjaga Madika yang kini sedang duduk bersila di depan sosok jelmaan kura-kura raksasa yang mereka lawan sebelum-nya.
"sebenar-nya seperti apa ujian yang kau berikan pada tuan-ku?" tanya Bunggu dengan ekspresi serius.
__ADS_1
Si jelmaan kura-kura yang melihat ekspresi Bunggu kini hanya bisa tertawa kecil.
"hehehe.... tenang saja, tidak perlu tegang begitu, aku hanya membuat diri-nya seolah sedang bermimpi.... kemudian di dalam mimpi-nya aku memberi-kan sebuah kekuatan besar pada-nya lalu aku ingin melihat reaksi dari diri-nya, apa-kah dia akan mengikuti keinginan jahat atau-kah a akan memilih jalan yang lebih baik dan membuat keputusan yang bijak." ucap jelmaan kura-kura raksasa itu menjelas-kan.
"begitu ya.... pantas bagaimana keadaan tuan-ku jika ia gagal mengambil keputusan yang bijak?.... apa yang akan terjadi pada-nya?" tanya Bunggu lagi.
"jika ia telah jatuh dalam hasutan jahat, maka aku kan menghenti-kan jurus-ku, dan aku juga tidak akan memberi-kan bola energi yang ke tujuh ini meski-pun nyawa-ku jadi taruhan-nya." jawab jelmaan kura-kura raksasa itu sambil menatap Bunggu dengan tatapan tajam.
Bunggu yang mendengar ucapan-nya kini hanya bisa menghela nafas panjang.
"terserah kau saja, lagi pula aku yakin tuan Madika pasti bisa membuat keputusan yang bijak saat berhadapan dengan situasi yang buruk." ucap Bunggu menanggapi perkataan si jelmaan kura-kura raksasa itu.
setelah itu Bunggu pun langsung berdiri dari duduk-nya.
"hei kura-kura, siapa nama-mu? jika kau peliharaan orang yang bernama Mawata itu, berarti kau punya nama bukan?" tanya Bunggu.
"nama?.... tentu saja aku punya, nama-ku Banteluku, bagaimana dengan-mu?" jawab jelmaan kura-kura itu dan kemudian balik bertanya.
"nama-ku Bunggu." jawab Bunggu. kemudian Bunggu kembali berta-nya. "oh iya, aku ingin tahu, kira-kira bagaimana nasib makhluk-makhluk lain yang saat ini ada di atas cangkang-mu?" tanya Bunggu.
"tenang saja." jawab Banteluku sambil tersenyum. "yang berubah menjadi manusia ini hanyalah bagian utama dari tubuh-ku, sedangkan cangkang-ku tetap berada di permukaan air sehingga pulau-nya tidak akan tenggelam, dengan begitu semua yang hidup di pulau itu tidak akan tenggelam." jawab Banteluku memberi penjelasan.
Mendengar jawaban itu, kini Bunggu pun langsung bisa bernapas lega.
sejak awal Bunggu memang merasa-kan bahwa di luar wilayah domain milik-nya ini masih ada tanda kehidupan yang sangat banyak, baik itu tanaman, hewan, mau-pun manusia. namun Bunggu hanya bisa merasakan-nya dengan samar-samar jadi ia pun bertanya pada Banteluku untuk memasti-kan.
Tak lama setelah Bunggu bertanya, tiba-tiba Banteluku langsung melebar-kan mata-nya.
__ADS_1
ia kemudian langsung menatap Madika.
"anak ini.... ternyata benar-benar tidak mudah di hasut!.... ia memiliki keteguhan hati serta prinsip hidup yang sangat kuat." ucap Banteluku dalam hati.