Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Melawan Niverom


__ADS_3

Saat ini hanya dua Nina dan dua siswa lain-nya yang masih belum mengguna-kan seluruh kekuatan-nya.


hal itu karena sejak awal mereka sudah memperkira-kan hal seperti ini akan terjadi.


Kini Nina dan dua siswa lain-nya maju menghadapi tujuh Niverom itu.


meski-pun mereka sadar bahwa mereka tidak akan bisa mengatasi Niverom itu dengan baik, namun mereka tepat berusaha untuk optimis.


"apa pun yang terjadi kita harus tetap melawan mereka!" ucap Nina dengan tegas.


"lebih baik mati dengan perlawanan ketimbang mati tanpa perlawanan!" timpal siswa laki-laki dengan tegas.


"itu benar!.... aku akan terus mengikuti kalian apa pun yang terjadi!" sambung siswa perempuan.


Mendengar hal itu, kini para Niverom itu hanya bisa tertawa cekikikan.


"hahahaha.... kalian pikir bisa melawan kami dengan jumlah itu?" ucap salah satu Niverom dengan angkuh-nya.


"bahkan sekali pun jumlah kalian sepuluh atau lebih, kalian tetap tidak akan bisa setara dengan kami!.... kalian di takdir-kan mati di sini!" timpa Niverom lain-nya dengan suara mengancam.


Baru saja si Niverom itu selesai berbicara, kini sebuah serangan panah api yang sangat banyak langsung melesat ke arah para Niverom itu.


panah api itu kini turun ke arah mereka bagai-kan hujan.


mereka pun langsung membuat perisai api untuk menahan serangan panah api itu.


Selain itu, di sela-sela panah api itu, tampak seekor burung api raksasa terbang mengitari para Niverom sambil menembak-kan bulu api tajam dari tubuh-nya.


saat bulu api itu menghantam tanah serta perisai si Niverom, bulu api itu pun menghasil-kan ledakan yang hampir sama kuat-nya dengan ledakan panah api dari Nina.


hal itu pun kini membuat perisai milik para Niverom itu langsung retak dan tak butuh waktu lama perisai mereka pun langsung hancur berkeping-keping dan membuat para Niverom itu langsung terkejut.


Melihat hal itu, para Niverom pun langsung bergerak dengan cepat layak-nya petir yang menyambar.


ya, mereka memanfaat-kan elemen petir mereka untuk bergerak cepat dan menghindari serangan baik itu serangan anak panah atau-pun bulu api.

__ADS_1


Sambil mengguna-kan pedang petir mereka bergerak dan menebas setiap serangan yang bergerak ke arah mereka.


alhasil di setiap jalur yang di lalui para Niverom tampak terjadi ledakan, namun ledakan-nya sedikit terminimalisir karena pada dasar-nya serangan Nina maupun serangan burung api kini telah di hancur-kan mengguna-kan pedang mereka.


bulu api serta anak panah api yang di hancur-kan itu tentu-nya tidak akan menghasil-kan ledakan yang sempurna seperti saat mereka tidak di hancur-kan.


Melihat pergerakan para Niverom yang sangat cepat itu, kini siswa perempuan sebelum-nya langsung mengguna-kan hampir seluruh energi Saga-nya untuk mencipta-kan lumpur api di depan mereka tepat di tempat para Niverom akan berpijak.


Lumpur api yang sangat panas itu kini memenuhi setengah dari wilayah yang di halangi oleh para Niverom itu.


Para Niverom yang saat ini masih berada di udara karena sebelum-nya melompat dari tanah kini langsung terkejut dengan perubahan tanah menjadi lahar panas itu.


Kini siswa perempuan itu langsung terlihat kelelahan karena stamina dan energi-nya hampir habis untuk mencipta-kan area lahar tersebut.


"aku mau istirahat dulu." ucap gadis itu sambil duduk bersila dan mencoba memulih-kan energi-nya.


Sementara itu, tujuh Niverom yang saat ini berada di udara tampak akan segera mendarat, namun tempat pendaratan mereka kini telah berubah menjadi lahar.


hal itu membuat para Niverom mulai panik.


"mereka seperti-nya sengaja memancing kita untuk bergerak di udara agar mereka bisa mengguna-kan jurus ini dan menjebak kita!" timpal Niverom lain-nya.


Namun, saat para Niverom akan jatuh, tiba-tiba muncul tujuh benang api berukuran cukup besar yang langsung melilit para Niverom yang akan terjatuh itu.


benang api itu berasal dari salah satu Niverom yang berada di luar dinding penghalang, yakni salah satu Niverom yang bertugas mempertahan-kan dinding itu.


Kini tujuh Niverom yang di lilit oleh benang api itu langsung di lempar-kan ke arah Natalia, Lili, dan dua pria lain-nya yang saat ini sedang duduk bersila dan mencoba memulih-kan energi-nya.


Melihat hal itu, Nina dan siswa pengguna burung api pun langsung bergerak ke arah Natalia dan yang lain-nya sambil terus menyerang para Niverom yang mengarah pada Natalia dan kawan-kawan.


Para Niverom yang melihat serangan bertubi-tubi sedang di arah-kan pada mereka kini langsung mengeluar-kan senjata masing-masing dan langsung menghancur-kan serangan dari Nina dan siswa laki-laki itu.


******


Saat ini Madika yang berada di tempat yang berbeda kini terlihat sedang khawatir dan terus berusaha untuk mencari keberadaan Natalia dan yang lain-nya.

__ADS_1


Madika yang saat ini terbang di udara tampak sedang gelisah sambil celingak-celinguk mencari petunjuk keberadaan Natalia dan yang lain-nya.


hingga akhir-nya kini Askila langsung menghubungi Madika melalui telepati-nya.


"tuan!.... aku mendapat-kan petunjuk!" ucap Askila yang terdengar antusias.


"di mana kau menemukan-nya?! dan seperti apa petunjuk-nya?!" tanya Madika dengan cepat sambil berhenti terbang.


"di sini aku menemu-kan beberapa jejak kaki serta jejak hewan monster.... seperti-nya hewan monster ini adalah seekor ular.... selain itu, meski-pun samar-samar, tapi aku bisa merasa-kan siswa Saga Natalia di jejak kaki yang tertinggal ini." ucap Askila memberi laporan.


"kalau begitu ke arah mana mereka pergi?!" tanya Madika yang terdengar terburu-buru.


"mereka bergerak ke arah barat!..... kemungkinan-nya mereka ke arah siswa akademi Narodo berada!" jawab Askila cepat.


"arah itu?..... berarti mereka ada di arah sebalik-nya dari arah yang ku tempuh saat ini!" ucap Madika.


"terima kasih informasi-nya!.... aku akan segera ke sana.... sebaik-nya kau juga bergegas ke sana!" ucap Madika memerintah Askila untuk segera bergerak.


"baik tuan!" jawab Askila cepat.


Setelah Askila memutus-kan telepati-nya, kini Madika pun langsung menengadah ke atas.


"seperti-nya akan lebih cepat jika aku melesat dari atas sana!" batin Madika sambil melihat ke atas langit.


Setelah itu Madika pun langsung terbang ke atas.


ia terbang setinggi-tinggi Mungin sampai ia bisa melihat tempat pertarungan Natalia dan yang lain-nya.


"seperti-nya mereka berada di sana!" ucap Madika saat melihat sebuah tempat yang tampak tandus dan di kelilingi oleh penghalang elemen api.


Dari ketinggian itu, Madika tak bisa melihat sosok Natalia dan yang lain-nya.


bahkan lokasi yang sangat besar itu saat ini hanya terlihat seperti sebuah lingkaran kecil di mata Madika karena Madika saat ini berada di ketinggian yang sangat jauh dari dataran.


"semoga aku masih sempat!" batin Madika.

__ADS_1


__ADS_2