
Saat Nina membuang pandangan-nya dari Madika, kini Madika hanya tersenyum manis melihat Nina. ia kemudian membelai rambut Nina dan mengelus-nya sambil berbisik.
"terimakasih sudah mau mendengarkan permintaan-ku." bisik-nya di telinga Nina.
Nina yang mendengar-nya hanya diam dan acuh. ia terlihat tidak lagi memperdulikan apa yang di katakan oleh Madika.
setelah itu kini Madika langsung mengintip ke luar untuk memastikan keadaan, dan benar, tak lama setelah itu Natalia dan Mindo tampak sedang berjalan di dekat tempat itu.
"percuma saja mencari mereka jika sudah seperti ini." ucap Natalia dengan ekspresi yang tampak sedikit kesal.
"hah.... kalau begitu lebih baik kita beristirahat dulu.... lagi pula kita sudah banyak bertarung sejak masuk ke hutan ini." ujar Mindo menyarankan.
Natalia berhenti melangkah, ia menoleh ke belakang dengan tatapan yang menyeramkan. ia menatap Mindo dan mengintimidasi Mindo dengan tatapan itu. wajah-nya yang manis dan imut itu mendadak hilang dan di gantikan dengan ekspresi yang bagaikan seekor hewan buas yang ingin menyerang siapa saja dan kapan saja.
"kita sedang istirahat sekarang!" ucap Natalia dengan nada suara yang juga terdengar menakutkan meskipun suara-nya tidak terdengar keras.
"tapi sejak tadi kita terus berjalan, apa tak bisa istirahat dulu?" ucap Mindo lagi.
"sudah ku katakan, ini sudah terbilang sebagai istirahat!" tegas Natalia.
Mindo seketika ciut di buat-nya. ia merasa seperti sedang di jajah.
"apa ini? kerja paksa?" batin Mindo sambil menunjuk-kan ekspresi jelek.
"lagi pula ini semua gara-gara kau!.... karena kau terlalu banyak gaya kita jadi kehilangan kesempatan untuk mengalahkan pria itu!" bentak Natalia lagi. namun kini di wajah Natalia tampak ada sedikit kesedihan yang muncul.
Mindo tak menyadari hal itu, namun tidak bagi Madika. ia bisa melihat bahwa saat ini Natalia sedang terlihat sedih dan seolah ada sesuatu yang membuat diri-nya tertekan.
"pria itu memang sangat cepat melarikan diri!.... dia terlihat lebih berpengalaman di hutan.... kemampuan-nya dalam pertarungan sungguhan rasa-nya jauh lebih baik dari-ku!! gara-gara hal itu aku harus...."
ucapan Natalia tiba-tiba terhenti. wajah-nya kini terlihat makin sedih. kemudian ia dengan cepat memutar tubuh-nya dan membelakangi Mindo serta menyembunyikan ekspresi-nya itu agar tak di sadari oleh Mindo.
"jadi dia itu jago melarikan diri ya?" ucap Mindo sambil memasuk-kan kedua tangan-nya ke dalam saku celana-nya. "apa jangan-jangan saat ujian masuk kau di kalahkan oleh-nya dengan cara seperti ini?" tanya Mindo.
Baru saja selesai bertanya seperti itu, kini Natalia sudah berada di depan Mindo. kerah baju Mindo telah berada dalam cengkraman kedua tangan Natalia.
Natalia menunduk-kan kepala-nya, ia tak ingin ekspresi wajah-nya terlihat oleh Mindo.
hal itu di karenakan saat ini ia tidak tahu apakah diri-nya sedang terlihat kesal atau sedih, karena saat ini ia sedang merasakan kedua hal itu.
__ADS_1
"sebaik-nya kau diam saja dan jangan bahas hal itu lagi!..... aku sudah muak!!.... gara-gara hal itu aku terus-terusan di marahi dan di caci maki oleh kedua orangtua-ku sendiri!" ucap Natalia dengan nada yang terdengar tegas.
Mindo terdiam, ia tidak tahu harus berbuat apa, karena sebenar-nya ia juga sempat mengalami hal yang sama saat kalah dari Madika.
kedua orang tua Mindo memarahi Mindo karena telah kalah dari orang biasa seperti madika. namun kemarahan itu tidak berlangsung lama.
sementara itu, Natalia barusa mengatakan bahwa kemarahan orangtua-nya seolah terus berlanjut hingga saat ini.
Setelah memarahi Mindo, kini Natalia langsung melepaskan cengkraman-nya dari kerah baju Mindo. lalu ia langsung beranjak dari tempat itu.
"ayo pergi.... mungkin saja kita masih bisa bertemu dengan kelompok lain-nya di hutan ini." ucap Natalia sambil berjalan tanpa menunggu tanggapan dari Mindo.
Mindo yang tadi-nya terdiam kini langsung mengikuti Natalia dari belakang.
"oke." jawab Mindo singkat.
Kedua-nya berjalan dengan santai dan mulai menyusuri kembali hutan itu.
setelah kedua-nya sudah tidak terlihat lagi, kini Madika langsung menghela nafas lega.
"hah..... akhir-nya mereka pergi juga." ucap Madika.
"ayo kita pergi dari sini!" ucap Madika.
"ke mana?" tanya Nina singkat tanpa ekspresi.
"ke tempat sebelum-nya.... untuk saat ini, karena hari mulai gelap, sebaik-nya kita mengamankan tempat untuk beristirahat.... soal rencana kita sebelum-nya sebaik-nya kita batalkan karena kita sudah kehilangan dua anggota..... mungkin Fany dan Niko sudah di bunuh oleh mereka berdua." ucap Madika dengan ekspresi yang tidak bersemangat.
"uhm.... aku juga berpikir demikian." balas Nina sambil mengangguk sekali.
Setelah itu kini Madika dan Nina kembali ke tempat mereka sebelum-nya.
mereka berjalan dengan sangat berhati-hati karena saat ini mereka tidak mengaktifkan Saga mereka.
Ketika tiba di tempat sebelum-nya, yakni di dekat sungai, kini mereka mulai mencari tempat yang pas untuk beristirahat.
Madika berjalan di tepi sungai. Nina masuk ke dalam sungai itu lalu meminum air untuk menghilangkan haus-nya.
Setelah itu Madika kembali berjalan. Nina mengikuti Madika dari belakang. kedua-nya berjalan tanpa ada suara. hening, kedua-nya diam. tak ada satu kata pun keluar dari mulut mereka. rasa canggung mengguncang mereka.
__ADS_1
Madika tak menyangka ciuman itu akan menghancurkan hubungan-nya dengan anggota kelompok-nya sendiri.
"ini benar-benar di luar dugaan-ku.... ku pikir dia mau mentoleransi perbuatan-ku karena keadaan memang mendesak, tapi ternyata tidak sama sekali." batin Madika.
Setelah cukup lama berjalan, kini mereka melihat sebuah pohon besar.
di sekitar pohon itu terdapat semak-semak yang tinggi.
semak-semak itu mengelilingi batang pohon itu dan menyisakan sebuah lahan kosong di tengah-tengah.
tanah yang kosong itu cukup luas, bisa di tempati oleh tiga atau bahkan empat orang.
tempat itu seolah ada untuk tempat persembunyian karena di bentengi oleh semak-semak yang bisa menghalangi pandangan orang dari luar.
"baiklah, malam ini kita beristirahat di sini." ucap Madika.
"uhm." gumam Nina sambil berjalan melewati Madika.
Nina kemudian duduk di dekat batang pohon itu. lalu ia menyandarkan tubuh-nya ke batang pohon.
Hari kini semakin gelap. Madika duduk cukup jauh dari Nina. ia tak ingin mengganggu Nina.
seperti-nya Nina sedang butuh waktu untuk sendiri.
Madika berdiri dari duduk-nya.
"Nina, aku mau keluar sebentar, jika ada apa-apa jangan ragu untuk memanggil-ku." ucap Madika.
lalu Madika langsung pergi dari tempat itu tanpa menunggu tanggapan dari Nina.
ia merasa kecewa pada diri-nya sendiri karena sudah mengambil keputusan yang salah saat di pertarungan.
"hah.... seperti-nya aku juga butuh waktu sendiri." ucap Madika sambil menghela nafas.
Setelah itu Madika mulai berjalan-jalan di sekitar tempat itu, dan tanpa sengaja diri-nya di pertemukan dengan kelompok lain yang datang ke tempat itu karena tahu ada sungai di sekitar tempat itu.
Madika berpapasan langsung dengan kelompok itu sehingga tak sempat bersembunyi dari mereka.
Madika terkejut, begitu juga kelompok yang berpapasan dengan-nya.
__ADS_1