Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Domain Badai Kehancuran


__ADS_3

Saat ini Nia yang di pasang-kan alat penekan Saga itu sudah di bawa masuk ke dalam kereta pengangkut tahanan itu.


"Ni... Nia." ucap Emi saat melihat Nia di lempar ke dalam kurungan yang ada di kereta kuda itu.


Sementara itu, Emi yang saat ini sedang di cekik itu kini langsung mengeluar-kan pedang api di tangan-nya.


ia kini sudah merasa sangat kesal dengan perlakuan dari para ksatria penjaga itu.


ia kini kehabisan kesabaran-nya.


Kini Emi pun langsung menebas tangan ksatria penjaga itu hingga tangan-nya putus.


"AAARRRRGGGGHHH!!!"


Ksatria penjaga itu langsung berteriak keras menahan rasa sakit saat tangan-nya putih hanya dengan satu tebasan saja.


Hal itu pun membuat Emi langsung jatuh dan mendarat ke tanah.


Emi pun kini berdiri dengan baik, ia kemudian langsung menyingkir-kan tangan ksatria penjaga yang masih bergelantungan di leher-nya itu.


Sementara semua orang yang melihat kejadian itu langsung terkejut.


mereka tak menyangka kalau Emi akan berani melakukan hal itu.


dalam hati orang-orang itu saat ini mereka mengatakan bahwa Emi yang saat ini pasti akan menjadi incaran untuk di bunuh oleh penguasa kota Kayau, yakni keluarga Nemosu karena Emi sudah berani menentang ksatria penjaga dari keluarga Nemosu yang sedang menjalan-kan tugas.


"menghalangi tugas ksatria penjaga dari keluarga Nemosu itu sama arti-nya membuat masalah dengan keluarga Nemosu itu sendiri." ucap salah satu orang yang melihat kejadian itu.


"aku harap Emi hanya akan mendapat hukuman ringan."


"semua-nya tidak semudah itu, aku yakin mereka akan membuat Emi tersiksa terlebih dahulu baru di bebas-kan dari kesalahan-nya!"


Berbagai pendapat publik mulai bermunculan.


namun tak satu pun dari orang-orang itu yang berani bergerak untuk membantu Emi maupun Nia.


"Emi!.... lari!!!" teriak Nia dari dalam kurungan sambil menatap Emi yang saat ini akan di serang mengguna-kan tombak petir dari belakang.


Saat mendengar teriakan Nia, Emi pun langsung merasa-kan ada firasat aneh.


ia pun langsung menoleh ke belakang dan melihat kini sebuah tombak sedang melesat ke arah-nya.


"tidak sempat menghindar!" pikir Emi yang saat ini tak sempat melakukan gerakan antisipasi.

__ADS_1


Hal itu pun kini membuat Emi langsung pasrah begitu saja dan langsung memejam-kan mata-nya.


Namun ketika sudah lewat beberapa detik, Emi merasa aneh karena diri-nya tidak merasakan apa-apa.


Sementara itu, saat ini orang-orang mulai gaduh lagi.


hal itu pun membuat Emi langsung membuka mata-nya dan ia pun kini melihat sosok seorang pria yang saat ini berhasil menangkap tongkat itu dengan tangan kosong sehingga tombak itu tidak mengenai Emi.


Saat ini, Emi tidak mengetahui bahwa pria yang menangkap tombak itu dengan tangan kosong adalah Madika.


ia yang saat ini sedikit merasa takut kini langsung mundur.


"si.... siapa kau?" tanya Emi dengan waspada.


Lalu Madika pun langsung menoleh ke arah Emi.


"apa begitu ekspresi yang harus di tunjuk-kan pada orang yang menyelamat-kan mu?" tanya Madika dengan nada suara yang terkesan dingin saat melihat ekspresi waspada terukir di wajah Emi.


Mendengar ucapan Madika itu, kini Emi pun mulai mengendur-kan sedikit kewaspadaan-nya terhadap Madika.


"ma... maaf..... dan juga terima kasih sudah menolong-ku." ucap Emi sedikit terbata-bata.


Madika yang mendengar ucapan Emi kini hanya diam.


Namun, baru saja Madika menoleh, kini seorang ksatria penjaga lain-nya sudah berada di depan Madika sambil menebas-kan pedang angin-nya ke wajah Madika.


Namun karena Madika memiliki refleks yang cukup baik, ia pun langsung melangkah selangkah ke samping sambil memutar tubuh-nya untuk menghindar.


Di waktu yang hampir bersamaan saat menghindar dan memutar tubuh, Madika dengan cepat mengeluar-kan sebuah belati angin di tangan kanan-nya.


lalu ia pun memanfaat-kan momentum saat memutar tubuh-nya itu untuk menusuk perang yang menebas-nya itu.


Kini leher Ksatria penjaga yang menebas-nya itu langsung di tembus oleh belati angin.


lalu Madika pun dengan cepat menyayat belati-nya itu ke depan.


seketika tenggorokan orang itu pun langsung putus dan darah langsung bermuncratan keluar dari tenggorokan-nya.


Semua orang yang melihat pemandangan itu langsung terkejut.


Sementara itu, para ksatria penjaga yang lain-nya kini langsung kesal melihat Madika.


mereka semua pun langsung menyiap-kan serangan terkuat mereka untuk menyerang Madika dari jarak yang cukup jauh.

__ADS_1


Jumlah total para ksatria penjaga itu ada 13 orang, dan ketiga belas orang itu kini sedang menyiap-kan serang mereka pada Madika.


Melihat hal itu, kini seluruh pengunjung kantor asosiasi serta orang-orang yang sebelum-nya berkerumun langsung melarikan diri berusaha menjauh dari tempat itu.


Sementara itu, Emi yang melihat keadaan jadi semakin runyam kini langsung mendekati Madika.


ia langsung berdiri di belakang Madika sambil membelakangi Madika, sehingga mereka berdua pun saling membelakangi.


"kau urus yang di belakang-ku!.... biar aku urus yang di belakang-mu!" ucap Emi memberi aba-aba.


Namun Madika yang mendengar ucapan Emi kini hanya diam saja.


Setelah itu Madika pun mulai berbicara.


"itu tidak perlu." ujar Madika dengan nada suara yang terdengar dingin.


"apa maksud-mu tidak perlu?!" tanya Emi yang kini jadi sedikit bingung.


Namun Madika mengabai-kan pertanyaan Emi, kini Madika pun menatap para ksatria penjaga itu satu persatu lalu berkata dengan suara yang terdengar dingin.


"domain badai kehancuran."


Seketika wilayah di sekitar Madika langsung berubah menjadi Padang pasir dengan badai angin yang sangat mengerikan.


Para ksatria penjaga itu langsung terkejut saat tiba-tiba mereka langsung berada di sebuah Padang gurun dengan badai angin yang mengerikan serta banyak debu beterbangan di udara dan membuat pandangan mata jadi terhalang.


Bukan hanya para ksatria penjaga saja, bahkan beberapa orang yang tidak sempat kabur dan menjauh dari lokasi pertarungan mereka kini ikut terbawa ke dalam domain milik Madika.


Emi yang saat ini berada di belakang Madika langsung terkejut dan ia langsung berusaha melindungi mata-nya mengguna-kan tangan agar mata-nya tak kemasukan debu.


"do.... domain kata-nya?." batin Emi yang saat ini terkejut seolah tak percaya.


"siapa sebenar-nya orang ini?!" ucap-nya lagi yang kini semakin bertanya-tanya.


Sementara itu, Nia yang melihat wilayah sekitar-nya langsung berubah kini hanya bisa menatap dengan terbelalak.


mulut-nya sedikit menganga, ia belum pernah mengalami hal seperti ini sebelum-nya.


"di.... di mana ini?" ucap-nya.


"kita berada di dalam wilayah domain pria misterius tadi!" jawab Emi yang saat ini tiba-tiba muncul di dekat kereta kuda tempat Emi di kurung.


"Wilayah domain?.... siapa sebenar-nya orang itu.... bagaimana bisa dia memiliki jurus yang sekuat ini?" ucap Nia yang terlihat terkejut dengan ekspresi tidak percaya.

__ADS_1


__ADS_2