
Si ibu yang saat ini sedang menangisi kematian putra-nya itu kini terus mengumpat dalam hati.
Dalam hati ia terus mengutuk orang yang telah membuat kekacauan di klan mereka ini sehingga orang-orang yang tak bersalah pun jadi korban.
Saat ini, si ibu itu benar-benar sudah lupa diri.
Ia terus memaki dalam hati-nya tanpa ia sadari bahwa sebenar-nya ini semua adalah sebuah karma bagi klan mereka yang terkenal bengis.
Popularitas yang di dapat-kan oleh klan petir bukan-lah melalui jalan yang benar, melain-kan karena mereka sering melakukan penyerangan terhadap orang-orang yang tak bersalah.
Selain itu, mereka juga sudah banyak merampas hak milik orang lain, serta melakukan peperangan dengan klan lain-nya secara brutal tanpa ada ampunan.
Mereka sama sekali tidak segan-segan melakukan pembunuhan terhadap anggota klan lawan yang tidak memiliki kekuatan sama sekali.
Sudah sangat banyak wanita dan anak-anak dari klan lain-nya yang jadi korban keganasan mereka, dan hari ini, hal itu pun di balas-kan secara tuntas oleh kedatangan Madika yang sebenar-nya juga terjadi secara tidak sengaja.
Namun, sejauh ini orang-orang yang tidak memiliki kekuatan yang sudah terbunuh oleh Madika jumlah-nya tidak mencapai 20 orang karena pada dasar-nya saat mengguna-kan jurus langkah dewa angin sebelum-nya, semua gedung yang di hancurkan oleh Madika itu adalah gedung tempat para junior yang sedang berlatih, dan hanya ada beberapa orang biasa saja yang secara tidak sengaja lewat di sekitar tempat itu dan terkena serangan kesasar dari langkah dewa angin milik Madika.
Inilah karma dari sebuah perang, tidak selama-nya bisa selalu mendominasi, karena suatu saat nanti, semua itu akan berbalik menyerang diri sendiri.
******
Saat ini Alfa tampak berhasil memberantas semua pasukan klan petir yang sebelum-nya mengatur evakuasi.
Setelah menghabisi mereka semua, kini Alfa kembali ke tempat sebelum-nya, yakni tempat di mana Madika berada.
Sementara itu, Madika yang saat ini sedang duduk di singgasana harimau api itu kini hanya bisa menghela nafas melihat pertarungan yang terjadi di bawah-nya saat ini.
"Pertarungan ini benar-benar memakan banyak korban dari klan petir." Ucap Madika dalam hati sambil melirik ke berbagai arah dan melihat ada begitu banyak mayat para pasukan klan petir yang tergeletak dan berserakan di mana-mana.
"Selain itu, banyak pula bangunan yang hancur serta terbakar akibat perang ini." Ucap-nya lagi sambil melihat begitu banyak bangunan yang hancur serta terbakar.
Kebakaran terjadi hampir di seluruh tempat karena api terus menjalar dari satu bangunan ke bangunan lain-nya.
Hanya tinggal menunggu waktu saja, maka seluruh bangunan di klan petir ini akan terbakar habis oleh api itu.
__ADS_1
Di sisi lain, jauh di luar klan petir tampak sangat banyak masyarakat yang sedang memperhati-kan dan heboh ketika melihat kepulan asap tebal berada di atas langit klan petir.
Asap hitam tebal itu datang dari bawah, tepat di mana klan petir berada.
"Hei... Coba lihat itu!!"
"Apa yang terjadi di sana?!"
"Seperti-nya di klan petir sedang terjadi pertarungan!"
"Yang benar saja!... Bukankah selama ini mereka-lah yang selalu menyerang klan lain?... apa sekarang mereka sudah kena batu-nya?"
"Hahaha... Bagus-lah jika memang begitu!... Klan sombong seperti itu memang pantas di bumi hangus-kan."
"Hahaha kau benar!"
"Tapi kira-kira Klan mana yang berani melakukan hal itu?"
"Di kerajaan ini hanya sedikit yang bisa bersinggungan dengan klan petir dan bisa membuat klan petir jadi seperti itu!"
"Apa mungkin itu perbuatan sekte Balumba?"
"Ahh!!... Mana mungkin, ku dengar-dengar klan petir itu punya hubungan baik dengan sekte Balumba, jadi mana mungkin sekte Balumba pelaku-nya."
"Kalau bukan sekte Balumba lalu siapa?"
Masyarakat di kota itu pun mulai bertanya-tanya siapa pelaku dari penyerangan klan petir saat ini.
Mereka semua mulai penasaran akan hal itu.
Di sisi lain, ketiga klan yang mendapat kabar bahwa klan petir sedang di serang kini langsung terkejut bukan main.
Mereka semua langsung bertanya-tanya siapa sebenar-nya penyerang itu.
Mereka semua tentu-nya tahu bahwa tak satu pun dari klan mereka berani melakukan tindakan seperti itu pada klan petir.
__ADS_1
Saat ini di klan angin tampak ada tiga pria paruh Baya serta dua pria tua yang berusia sekitar 100 tahun lebih, sedang duduk di sebuah ruangan khusus.
Pria paruh baya itu adalah seorang ketua klan, sementara dua pria tua itu adalah tetua klan.
Selain mereka bertiga, saat ini juga ada satu orang pria yang merupakan petinggi klan yang datang menghadap pada mereka bertiga.
"Hmm..." Salah satu tetua itu kini bergumam sambil mengelus-elus janggut-nya.
Lalu ia melanjut-kan perkataan-nya. "Apa informasi-mu ini benar ada-nya?" Tanya tetua itu penuh selidik.
"Ini informasi yang benar tetua Guson!... Aku berani menjamin-nya karena aku sendiri juga melihat bahwa asap hitam tebal itu memang berada di atas pemukiman klan petir." Jawab pria yang merupa-kan petinggi klan angin itu.
"Hmm... Begitu ya." Balas tetua Guson sambil terus mengelus janggut-nya.
"Apa kau sudah mengecek situasi di sana untuk memasti-kan?" Tanya ketua klan.
"Maaf tuan Husen!... Aku belum mengecek-nya karena tak berani bergerak seorang diri ke klan petir." Jawab petinggi klan itu sambil meminta maaf.
Ketua klan yang bernama Husen itu pun menganggap itu hak yang wajar karena memang selama ini tidak ada yang berani membuat masalah dengan klan petir karena mereka memang cukup di takuti di wilayah kerajaan ini.
"Baiklah, kalau begitu kumpul-kan beberapa petinggi lain-nya!... Aku sendiri yang akan memimpin kalian pergi mengecek situasi di sana." Ucap Husen sambil berdiri.
"Baik tuan!... Aku akan melaksanakan perintah anda." Jawab pria itu patuh dan kemudian ia pamit undur diri untuk mengumpul-kan beberapa petinggi klan yang ada saat ini.
Saat ini, bukan hanya klan angin saja-lah yang tertarik untuk melihat dan mengecek situasi di klan petir, melainkan dua klan lain-nya yakni klan es, dan klan api juga ikut penasaran dan mencoba untuk pergi melakukan pengecek-kan di klan petir.
"Apa semua sudah berkumpul?" Tanya ketua klan api pada salah satu petinggi-nya.
"Sudah tuan!" Jawab salah satu petinggi yang di tanyai itu.
"Baiklah, kalau begitu kita berangkat ke klan petir sekarang!... Tapi ingat, tujuan kita hanya memasti-kan situasi, jadi jangan sampai terseret ke dalam masalah mereka!" Ucap ketua klan menegas-kan.
"Siap tuan!" Jawab para petinggi serentak dan tegas.
Setelah itu mereka semua pun langsung berangkat untuk mengecek situasi di klan petir yang saat ini sudah kacau balau.
__ADS_1