
Saat ini lengkungan angin yang di lesat-kan oleh Madika ke arah Gupo tampak melesat begitu saja tanpa mengenai objek apa pun hingga akhir-nya menabrak sebuah dinding hingga meledak.
Hal itu di karena-kan Gupo yang di serang oleh Madika itu kini sudah tidak ada lagi di tempat ia berdiri sebelum-nya, dan ternyata Gupo kini sudah ada di belakang Madika.
"kau melihat ke mana hah?" ucap Gupo bertanya pada Madika.
Madika pun kini terkejut, dan di saat itu juga Gupo langsung menyerang Madika mengguna-kan tangan-nya.
ia memukul Madika mengguna-kan tangan-nya dengan arah vertikal ke bawah.
pukulan-nya sangat kuat dan membuat Madika langsung terhempas sangat kuat dan jatuh ke lantai.
Namun Madika tampak masih berusaha mempertahan-kan posisi berdiri-nya sehingga saat ia jatuh ke lantai kini lantai pun langsung hancur seketika dan tampak lantai di sekitaran Madika langsung turun hingga kedalaman hampir satu meter.
Tubuh Madika kini sedikit tertunduk akibat tekanan dari serangan Gupo barusan, dan saat Madika mencoba berdiri dengan tegak tiba-tiba Gupo pun langsung berada di depan-nya, dan tampak masih berada di udara.
lalu Gupo pun langsung menendang Madika dengan sangat kuat dan hal itu pun membuat Madika terhempas dengan sangat kuat sampai-kan tubuh-nya berguling-guling dan terangkat ke udara bebeberapa kali.
Hingga akhir-nya kini Madika pun langsung berhenti terguling dan dengan cepat ia mengambil posisi berdiri sambil memutar tubuh-nya menghadap ke arah Gupo.
Lalu dengan cepat Madika pun langsung memuncul-kan tongkat kaisar rotan api milik-nya di tangan kanan-nya.
"kalau sudah begini mungkin sebaik-nya ku coba saja kekuatan 75% tongkat ini untuk melawan-nya!" ucap Madika dalam hati.
Lalu setelah itu Madika pun langsung mengangkat tongkat-nya itu.
namun baru saja mengangkat tongkat-nya, kini Gupo pun muncul di belakang Madika dan langsung menendang Madika dengan sangat kuat.
__ADS_1
kepala Madika pun terkena tendangan yang sangat kuat dari Gupo dan hal itu pun membuat Madika langsung terhempas sangat kuat hingga akhir-nya menghantam dinding ruangan itu hingga dinding ruangan itu tampak hancur.
Kini Madika pun kembali berusaha berdiri karena tubuh-nya mengalami luka yang cukup fatal akibat serangan Gupo barusan, terutama kepala-nya yang saat ini tampak mengeluar-kan darah yang kini sedang mengalir di pelipis hingga turun ke dagu dan mulai menetes ke lantai.
Namun Madika tidak menyerah, ia kemudian mencoba mengguna-kan tongkat-nya itu untuk membuat jurus yang bisa untuk menyerang Gupo.
namun baru saja ingin menggerak-kan tongkat itu, kini Gupo langsung muncul di samping Madika dan tampak susah bersiap untuk menyerang Madika mengguna-kan sebuah pedang halilintar yang ada di tangan-nya.
Madika yang baru saja menyadari hal itu kini tak yakin bisa sempat menghindari serangan Gupo.
sementara itu si Gupo kini sudah mengayun-kan pedang-nya untuk menebas leher Madika.
Madika mencoba menghindar dengan cara bergerak mundur namun berdasar-kan perhitungan-nya, Madika akan tetap terkena tebasan dari pedang itu karena ia sudah terlambat untuk menghindar.
Namun hal yang tak di sangka-sangka seketika terjadi.
Seketika itu juga tiga perisai angin langsung hancur berkeping-keping, dan di saat yang bersamaan dengan hancur-nya perisai angin itu, kini Anisa pun langsung menarik tangan Diego dan mendorong-nya ke belakang agar bergerak menjauh dari-nya.
"Aurel?" ucap Madika saat menyadari bahwa gadis yang menyelamatkan-nya saat ini adalah Aurel.
"sudah ku bilang jangan cari masalah dengan mereka kan!?" ucap Aurel memarahi Madika sambil terus menahan tebasan Gupo.
Kini Gupo pun langsung menghentak-kan pedang-nya dengan sangat kuat karena tebasan-nya saat ini masih tertahan oleh dua lapis perisai angin milik Aurel.
Saat Gupo menghentak-kan pedang-nya, kini kedua perisa angin milik Aurel pun langsung hancur bagai-kan sebuah kaca yang di pecah-kan mengguna-kan batu.
Seketika itu juga kini ledakan energi terjadi dan di saat yang bersamaan dengan ledakan itu kini Aurel pun langsung terhempas jauh ke belakang dan tampak berguling-guling cepat di lantai.
__ADS_1
"pengganggu!" ucap Gupo sambil menatap Aurel dengan tatapan tajam dan ekspresi wajah yang terlihat kesal.
"apa perlu ku bunuh pengganggu ini dulu ya?" ucap Gupo lagi yang kini langsung mengayun-kan pedang-nya ke samping sembari memperbanyak kilatan-kilatan petir di seluruh pedang-nya itu.
Baru saja Gupo berkata seperti itu, kini Gupo yang melihat Aurel sedang kesulitan untuk berdiri itu pun kini langsung melesat dengan sangat cepat ke arah Aurel.
tak butuh waktu lama kini Gupo telah berada di depan Aurel yang sedang terlihat susah payah untuk mencoba berdiri.
tampak kaki Aurel mulai gemetaran karena rasa sakit dan rasa takut yang saat ini bercampur aduk di dalam pikiran-nya.
Lalu Gupo yang saat ini berdiri di hadapan Aurel tampak mulai mengangkat pedang-nya untuk mengeksekusi Aurel di tempat itu.
Sementara itu, kini Aurel hanya bisa menatap Gupo dengan ekspresi ketakutan, namun ia tampak-nya berusaha untuk tidak memohon ampun atau-pun memohon untuk menyelamat-kan nyawa-nya.
"maaf saja ya nona.... jangan salah-kan aku atas kematian-mu karena ini semua salah-mu sendiri kau tidak kuat dan malah datang mengganggu kesenangan-ku!" ucap Gupo dengan ekspresi angkuh dan sombong.
Madika yang melihat hal itu pun kini langsung merasa kesal karena jarak Gupo dan Aurel saat ini terbilang cukup jauh, jadi tentu-nya itu akan membuat Madika sulit untuk membantu Aurel.
"sial!... kalau tidak cepat Aurel akan mati!" ucap Madika dalam hati.
Lalu Madika pun langsung memuncul-kan sayap angin-nya dan di waktu yang sama ia juga langsung memuncul-kan senjata pusaka ratu monster semut yang berupa enam kaki semut yang terpasang di punggung-nya.
Lalu dengan berbekal-kan sayap angin serta kaki ratu monster semut itu, kini Madika pun bisa bergerak dengan sangat cepat.
Sementara itu kini Gupo langsung mengayun-kan pedang-nya ke arah Aurel yang ada di depan-nya.
namun, belum saja pedang itu menyentuh Aurel, kini Madika pun langsung muncul di depan Aurel dan segera menahan tebasan pedang itu mengguna-kan tongkat kaisar rotan api milik-nya.
__ADS_1