
Sepenggal kisah Delisa.
Sehari setelah Karu Nemosu, Delisa yang saat itu merasa sangat kesal dan marah pada Madika kini telah mencoba introspeksi diri dan akhir-nya ia bisa menerima apa yang terjadi pada ayah-nya itu.
Sementara itu, ibu Delisa yakni Salisa tampak mulai depresi dan diri-nya kini seolah mulai kehilangan akal sehat-nya.
sepanjang malam Salisa terus menangis sambil menyebut-kan nama suami-nya, Karu Nemosu.
Sementara itu, Delisa yang melihat keadaan ibu-nya yang sedang tidak baik-baik saja itu kini mencoba membujuk ibu-nya dan menghibur ibu-nya.
ia juga bahkan selalu membawa-kan makanan pada ibu-nya, namun ibu-nya malah menolah untuk makan bahkan langsung bertindak kasar dengan cara membuang piring yang ada di tangan Delisa.
Hal itu pun tentu-nya membuat Delisa merasa sakit hati karena tindakan ibu-nya itu.
entah mengapa rasa sakit itu semakin menjadi saat ibu-nya terus menangis tanpa henti mengenang Karu.
Kini Keluarga Nemosu langsung berada di titik terendah-nya di hari kedua setelah kematian Karu Nemosu.
tampak para ksatria penjaga yang ada di rumah Karu Nemosu langsung angkat kaki dari kediaman itu karena mereka sadar bahwa keluarga Nemosu kini susah tak memiliki pendapatan apa-apa lagi untuk membayar mereka.
selain itu, beberapa keluarga Nemosu lain-nya susah ada yang memilih pergi dari kediaman itu, seperti kakek dan nenek Delisa dan beberapa anggota keluarga lain-nya yang pernah tinggal bersama mereka.
Kini berbagai rumor buruk tentang keluarga nemosu tersebar di seluruh kota Kayau dan keluarga Nemosu pun menjadi keluarga yang di kucil-kan di kota tersebut.
hal itu pun semakin membuat Salisa, yakni ibu-nya Delisa kini semakin depresi dan akhir-nya mulai stres dengan semua yang terjadi saat ini.
Hal itu pun membuat Delisa semakin tenggelam dalam kesedihan saat melihat keadaan mental ibu-nya yang sudah semakin memburuk.
Delisa sebelum-nya susah pernah meminta tolong pada orang lain dan beberapa dokter yang ada untuk menangani ibu-nya, namun sayang-nya tak satu pun yang mau membantu diri-nya.
Malam ini, tampak Delisa sedang di dorong oleh seseorang dari dalam rumah sakit.
Delisa yang sebelum-nya mencoba mencari dokter yang bisa menangani stres ibu-nya itu kini malah di tolak dan langsung di paksa keluar.
sampai-sampai ia di tendang oleh seorang pria yang merupa-kan seorang prajurit penjaga yang ada di rumah sakit tersebut.
"jangan pernah datang lagi gadis bod0h!!.... kau dan keluarga-mu hanya akan membawa sial di sini!" ucap ksatria penjaga itu sambil meludah ke arah Delisa yang saat ini sedang tersungkur ke tanah akibat tendangan pria itu.
__ADS_1
Mendengar perkataan ksatria penjaga itu, kini Delisa hanya bisa menangis.
ia mulai terisak-isak di depan rumah sakit itu, sementara itu tampak ksatria penjaga sebelum-nya kini kembali masuk ke dalam rumah sakit itu.
Sementara itu, tampak ada beberapa orang yang hendak masuk ke rumah sakit itu, dan mereka lewat di dekat Delisa.
namun saat mereka melihat Delisa yang sedang menangis terisak-isak kini mereka pun langsung berjalan di jarak yang cukup jauh dari Delisa sambil memandang sinis ke arah Delisa.
"jangan dekat-dekat dengan gadis itu!.... dia dan keluarga-nya itu adalah aib bagi kota ini!" ucap salah satu gadis yang lewat di tempat itu bersama dengan beberapa orang lain yang ikut bersama-nya.
"kau benar!.... biarkan saja dia seperti itu!.... dia pantas mendapatkan-nya.... hahaha." timpal salah satu yang lain-nya sambil tertawa.
Tak lama setelah itu, tiba-tiba suara hujan deras mulai terdengar.
perlahan di mulai dengan hujan gerimis yang semakin lama semakin deras.
sementara orang-orang yang sebelum-nya mengata-ngatai Delisa kini langsung berusaha untuk masuk ke dalam rumah sakit itu.
"hei.... ayo cepat hujan semakin deras!" ucap salah satu dari mereka yang mencoba menghentikan beberapa orang lain-nya yang sedang mengata-ngatai Delisa itu.
Hal itu pun kini membuat mereka semua langsung masuk ke dalam rumah sakit itu.
ia bahkan masih terus kepikiran akan keadaan ibu-nya di rumah dan hal itu pun membuat hati-nya semakin sakit dan tangisan-nya semakin tak tertahan-kan.
ia bahkan kini seolah tak peduli lagi dengan guyuran hujan yang membasahi seluruh tubuh-nya.
ia kini terus terisak-isak menahan tangis-nya agar tak terdengar oleh semua orang.
ia bahkan merasa nafas-nya semakin sesak karena menahan tangisan-nya sendiri.
air mata-nya terus mengalir deras dari mata-nya. sesekali ia memukul dada-nya sendiri karena ia merasa-kan sakit yang teramat sangat hingga rasa-nya ingin mati saja dari pada menanggung rasa sakit itu.
*****
Saat hujan selesai mengguyur di kota itu, kini malam pun semakin larut dan suasana kota sudah sangat sepi.
jalanan di sekitar kita itu tampak sangat basah dan masih banyak genangan air di pinggiran jalan.
__ADS_1
Sementara itu, Delisa yang sudah mengeluar-kan tangisan-nya di depan rumah sakit sebelum-nya kini mulai berjalan pulang.
ia tampak menyilang-kan kedua tangan-nya di depan dada-nya.
baju tipis yang ia pakai itu semua-nya basah kuyup dan rasa dingin pun mulai menusuk kulit-nya hingga menembus ke dalam daging dan tulang-tulangnya.
Setelah cukup lama berjalan, kini Delisa pun tiba di depan rumah-nya.
ia kemudian membuka gerbang rumah-nya itu.
tampak wajah Delisa saat ini terlihat masih sangat murung dan bersedih.
ia masih terus memikir-kan keadaan ibu-nya saat ini.
ia sangat ingin ibu-nya kembali ceria seperti saat ayah-nya masih hidup, namun apa daya, diri-nya yang saat ini bahkan sama sekali tak bisa membuat ibu-nya bahagia seperti sedia kala.
Kini Delisa telah berjalan masuk ke dalam rumah, dan saat ini ia pun pergi ke kamar adik-nya yang masih kecil itu.
saat itu ia melihat adik-nya sudah tidur dengan nyenyak.
melihat hal itu, Delisa mencoba untuk tersenyum karena ia merasa sedikit ada kebahagiaan melihat adik kecil-nya itu baik-baik saja.
Setelah itu, kini Delisa pun langsung masuk ke kamar-nya dan langsung mengganti pakaian-nya karena saat ini ia ingin mengunjungi kamar ibu-nya.
ia sengaja ganti pakaian agar ibu-nya tidak tahu apa yang sedang terjadi pada-nya saat ini.
Delisa tak mau membuat ibu-nya semakin khawatir dan malah jadi makin stres.
Setelah mengganti pakaian-nya, kini Delisa pun langsung pergi ke kamar ibu-nya.
namun begitu Delisa tiba di depan kamar ibu-nya, ia pun mendengar suara ibu-nya yang masih terus menangis.
namun kali ini ia tidak menyebut-kan lagi nama Karu, melainkan saat ini ia terdengar sedang memohon.
"tolong hentikan!.... jangan teruskan!" ucap Salisa, ibu Delisa dengan suara memohon sambil terus terisak.
Mendengar suara itu, kini Delisa pun langsung merasa-kan firasat buruk.
__ADS_1
dengan cepat Delisa pun langsung membuka pintu kamar ibu-nya dengan sangat kasar dan betapa terkejut-nya diri-nya saat melihat keadaan di mana ibu-nya saat ini sedang di ikat dan di perko$a oleh paman-nya sendiri.