
Saat ini Gino tampak sudah siap dengan jurus Bagakoro yang ia miliki.
"sekarang kekuatan-ku bertambah.... dengan kata lain aku bisa meningkatkan kekuatan dari jurus bor petir milik-ku!" batin Gino ketika diri-nya berhasil mengaktifkan jurus Bagakoro.
Setelah itu, Gino pun langsung menggerak-kan kedua tangan-nya dengan beberapa variasi gerakan.
seketika itu, kini muncul sebuah bor petir di atas kepala Gino.
bor petir itu semakin lama makin besar hingga akhir-nya mencapai ukuran maksimal.
Bor petir yang sangat besar itu tampak berputar-putar di udara seolah sedang mengebor udara.
dari tubuh bor petir itu tampak percikan-percikan petir kecil menyambar keluar.
Madika yang melihat hal itu pun langsung tersenyum tipis.
"bor petir-mu itu cukup bagus, akan tetapi apakah bor petir-mu itu bisa menahan langkah dewa angin milik-ku?" ucap Madika memamerkan nama jurus yang di miliki-nya.
Mendengar ucapan Madika itu, kini banyak siswa yang sedang menonton itu langsung terkejut dengan ekspresi tidak percaya.
"jurus tingkat dewa?"
"yang benar saja?"
"dia itu masih tingkat atas kan?"
"apa tingkat atas benar-benar bisa menggunakan jurus tingkat dewa?.... yang benar saja!"
"apa dia sedang bercanda?"
Berbagai ocehan siswa yang sedang menonton itu kini makin terdengar cukup keras sehingga suara mereka seolah memenuhi stadion tersebut.
Di sisi lain, tuan Samon yang mendengar perkataan Madika itu tentu-nya langsung terkejut dengan ekspresi terbelalak.
namun keterkejutan-nya itu tidak berlangsung lama karena ia dengan segera memerintah-kan dia pengawal pribadi-nya untuk segera membuat perisai penghalang di arena pertarungan.
"cepat bantu mereka membuat perisai!... jika itu memang jurus tingkat dewa, maka bisa-bisa banyak siswa yang akan jadi korban dari jurus itu." ucap tuan Samon dengan sedikit terburu-buru.
__ADS_1
Sementara itu, tujuan Madika mengatakan nama jurus-nya barusan kini benar-benar sesuai yang ia inginkan.
sebenar-nya Madika tidak serta-merta memamerkan nama jurus-nya, melainkan diri-nya tahu bahwa jurus-nya ini akan memberikan kerusakan yang luar biasa jika tidak ada penghalang yang lebih kuat.... karena sebelum-nya Madika telah di beritahu oleh tuan Risiwuku bahwa perisai yang di buat oleh guru yang bertugas mungkin tidak akan bisa menahan kekuatan dari jurus langkah dewa angin.
hal itu pun membuat-nya terpaksa memamerkan nama jurus-nya agar tuan Samon segera mengambil tindakan tanpa harus membuat Madika meminta-nya langsung.
Setelah mendapatkan perintah dari tuan Samon, kini dua pengawal pribadi itu dengan patuh langsung turun ke tempat yang berdekatan dengan para siswa yang sedang menonton.
beberapa siswa yang menonton pun tampak bingung.
mereka bertanya-tanya kenapa pengawal pribadi kaisar tiba-tiba berdiri di hadapan mereka.
Kini bor petir milik Gino telah siap di lesat-kan.
Gino pun dengan segera menggerak-kan tangan-nya untuk membuat bor petir itu segera melesat, dan kini bor petir itu pun mulai bergerak maju sambil berputar-putar seolah sedang mengebor udara.
"terima serangan-ku ini!!" teriak Gino dengan penuh semangat sambil melancarkan serangan bor petir-nya itu.
Madika yang melihat serangan bor petir itu pun kini hanya membiarkan bor itu melesat ke arah-nya.
ia saat ini sedang menunggu momen untuk menggunakan jurus langkah dewa angin milik-nya.
lalu para guru yang bertugas itu-pun langsung membuat perisai pelindung agar efek dari benturan jurus Madika dan Gino nanti-nya tidak melukai siapa pun.
selain para guru yang bertugas, kini dua pengawal pribadi tuan Samon pun juga ikut membuat perisai pelindung di luar perisai yang di buat oleh para guru itu.
hal itu membuat perisai itu menjadi dua lapis.
Kini serangan Gino bergerak semakin dekat dengan Madika.
saat serangan Gino berada di jarak kurang lebih satu meter dari Madika, Madika pun langsung tersenyum tipis.
kemudian dengan segera Madika melangkah-kan kaki-nya dan menapaki lantai di depan-nya sambil berkata 'langkah dewa angin."
Ketika kaki madika menyentuh lantai, tiba-tiba dari kaki madika muncul sebuah gelombang angin yang sangat kuat dan membentuk lingkaran yang terus meluas.
kini gelombang angin itu langsung menghantam bor petir milik Gino dan dengan sangat mudah-nya bor petir itu hancur akibat serangan dari gelombang angin yang di hasilkan oleh langkah dewa angin.
__ADS_1
Melihat hal itu, Gino pun langsung terkejut dengan mata yang terbelalak seolah tak percaya dengan apa yang di lihat-nya.
namun tak lama bagi-nya untuk menunjuk-kan reaksi terkejut-nya itu.
hal itu di karenakan kini gelombang angin langsung menghantam tubuh-nya dan menyeret tubuh Gino bersama dengan gelombang angin yang terus meluas itu.
"AARRRGGG!!" teriak Gino.
Kini Gino dan gelombang angin itu langsung menghantam perisai pelindung lapisan pertama yang di buat oleh para guru, namun seperti yang tuan Risiwuku perkira-kan, perisai itu sama sekali tak bisa menghentikan gelombang angin yang di hasilkan oleh langkah dewa angin.
Kini perisai pertama itu langsung hancur berkeping-keping dan membuat semua orang terkejut melihat hal itu.
"kuat sekali!"
"apa ini benar-benar jurus tingkat dewa!?"
"inikah kekuatan dari jurus tingkat dewa yang sering di bicarakan oleh orang-orang kuat di Agrilis!?.... kekuatan penghancur-nya benar-benar luar biasa!"
Berbagai komentar dari para penonton terjadi di waktu yang cepat.
sementara itu, Gino yang menghantam perisai hingga hancur kini tubuh-nya pun harus hancur hingga terpotong-potong menjadi beberapa bagian dan beberapa bagian yang terpotong-potong itu kini berhamburan di udara.
Namun kematian Gino tidak menghentikan efek dari gelombang angin milik Madika.
gelombang angin itu kini menghantam perisai pelindung kedua, yakni perisai pelindung yang di buat oleh dua pengawal pribadi tuan Samon.
Saat gelombang angin itu menghantam perisai pelindung itu, kedua pengawal pribadi tuan Samon pun tampak mengalami sedikit dorongan dan hentak-kan pada tubuh mereka karena serangan yang berusaha mereka tahan itu sangat kuat.
Kedua pengawal pribadi itu kini terlihat berusaha sekeras mungkin untuk menahan serangan gelombang angin itu.
Serangan gelombang angin terus maju hingga membuat perisai pelindung yang di buat oleh kedua pengawal itu kini menjadi retak.
"hoi Madika.... harus-nya kau segera hentikan pergerakan gelombang angin itu agar tak melukai orang lain!" ucap tuan Risiwuku memperingati Madika.
"hehehehe.... maaf guru, aku hanya ingin menguji seberapa kuat serangan gelombang angin ini." ucap Madika sambil menggaruk kepala-nya yang tidak gatal.
Setelah itu Madika pun langsung menggerak-kan tangan-nya dan menghentikan serangan gelombang angin itu.
__ADS_1
gelombang angin itu pun kini perlahan lenyap dan berhenti bergerak maju.