
Saat ini, Delisa dengan kasar membuka pintu kamar ibu-nya karena ia mendengar suara aneh dari dalam kamar tersebut, dan saat Delisa membuka pintu serta melihat apa yang terjadi di dalam kamar itu, kini Delisa pun langsung terkejut dengan mata yang terbelalak.
Bagaimana tidak, diri-nya yang baru saja tiba kini sudah di suguh-kan dengan pemandangan yang sangat menyakit-kan hati di mana ibu-nya yang sedang mengalami masalah mental itu kini sedang di perko$a dengan sangat brutal oleh paman-nya sendiri.
Delisa melihat ibu-nya yang saat ini sedang menangis dan terisak-isak menahan tangis-nya.
kedua tangan ibu-nya di ikat dengan tali yang di sambung-kan di kedua sisi ranjang, dan begitu pula dengan kedua kaki ibu-nya.
sehingga saat ini ibu-nya sama sekali tak bisa berontak dan hanya bisa menangis sambil terus di genj0t oleh paman-nya.
Sementara itu, paman Delisa pun kini menoleh ke arah Delisa saat mendengar suara pintu yang terbuka sangat keras itu.
namun saat ia melihat Delisa, ia malah terus melanjut-kan aktivitas-nya itu tanpa memperduli-kan kedatangan Delisa.
ia hanya melihat sekali ke arah Delisa dan setelah itu kembali melanjut-kan aksi-nya itu.
Delisa yang melihat ibu-nya yang di perlakukan seperti itu kini langsung terdiam.
tatapan mata Delisa kini langsung kosong, dan ekspresi wajah-nya langsung jadi datar.
ia kini terlihat seperti sebuah boneka hidup yang hanya akan melakukan apa yang ingin ia lakukan.
Tak berselang lama, kini paman Delisa yang sebelum-nya menganggap Delisa adalah sosok gadis yang lemah dan tidak perlu di waspadai kini langsung terkena tusukan pedang angin yang langsung menembus jantung-nya.
Tusukan pedang angin itu tentu-nya berasal dari Delisa, dan saat ini Delisa masih memegang pedang angin milik-nya itu.
Delisa kini tak bisa menunjuk-kan ekspresi apa-apa lagi, ia kini telah menjadi seorang pembunuh dan paman-nya itu adalah korban pertama-nya.
Kini paman Delisa itu pun langsung mati begitu saja, dan dengan segera Delisa menarik paman-nya itu dan menjatuhkan-nya ke lantai.
Setelah paman-nya itu jatuh ke lantai dalam keadaan telanj@ng bulat, kini Delisa pun langsung mencincang tubuh paman-nya itu mengguna-kan pedang angin yang saat ini masih berada di tangan-nya.
ia terus memotong-motong tubuh paman-nya sambil tersenyum tipis.
semakin lama Delisa memotong dan mempermain-kan daging paman-nya itu senyuman-nya pun semakin melebar dan kini ia mulai terlihat layak-nya seorang psikopat yang sedang mempermain-kan korban-nya.
__ADS_1
Entah kenapa perasaan emosi serta perasaan sakit yang Delisa rasa-kan sebelum-nya kini perlahan menghilang, hal itu di karena-kan ia meluap-kan semua-nya itu untuk membunuh paman-nya yang sangat bej@d itu.
"mati!.... mati!... mati!.... mati!!!..... hahaha!!!"
ucap Delisa yang kemudian tertawa layak-nya psikopat yang sedang menikmati kegiatan menyiksa korban-nya.
Setelah puas membunuh paman-nya, kini Delisa pun mencoba memperbaiki kembali pikiran-nya, ia berusaha tersadar dari kesenangan sesaat ketika membunuh paman-nya itu.
dan saat sudah tersadar, ia pun kini langsung menangis keras di kamar ibu-nya sambil tertunduk dan berlutut di depan ranjang ibu-nya.
Sementara itu, ibu-nya juga tampak masih terus menangis.
beban pikiran ibu-nya malah semakin banyak dan stres-nya malah makin parah.
Setelah beberapa saat kemudian, kini Delisa pun langsung memotong tali yang mengikat ibu-nya itu, dan setelah itu Delisa pun langsung memberi-kan selimut pada ibu-nya karena saat ini ibu-nya sedang dalam keadaan telanj@ng bulat.
Kini Delisa pun langsung beranjak dari kamar itu.
pikiran Delisa saat ini benar-benar sangat kacau, hati-nya sangat hancur dan terasa sakit. hal itu pun membuat Delisa berkeinginan untuk pergi ke suatu tempat untuk menyendiri dan introspeksi diri jika perlu.
Setiba-nya Delisa di kediaman itu, kini Delisa pun di kejut-kan oleh segerombolan orang yang tampak berdiri di halaman rumah-nya.
orang-orang itu bahkan membobol gerbang rumah Delisa agar bisa masuk ke halaman rumah itu.
Delisa yang melihat hal itu pun kini jadi sangat penasaran dan dengan segera Delisa pun ikut segera mendekat ke tempat tersebut.
"kasihan sekali ya!"
"seperti-nya dia sudah sangat malu dan depresi sampai seperti ini."
"kau benar.... lagi pula salah sendiri melakukan kejahatan."
Ucapan itu terdengar di telinga Delisa yang sedang mendekat ke arah sekelompok orang itu.
Delisa melihat bahwa saat ini orang-orang itu sedang menatap ke arah dinding yang berada di lantai dua di bagian samping gedung kediaman keluarga Nemosu saat ini.
__ADS_1
Begitu Delisa tiba di antara sekelompok orang-orang itu, kini Delisa pun langsung menoleh ke arah yang sedang di pandang oleh para masyarakat saat ini, dan betapa terkejut-nya Delisa saat melihat pemandangan di mana ibu dan adik perempuan-nya saat ini tengah tergantung di bawah jendela.
Ibu Delisa saat ini sama sekali tak berbusana, kondisi-nya masih sama seperti saat di tinggal-kan oleh Delisa semalam.
sementara itu, adik perempuan Delisa saat ini tampak masih memakai baju tidur yang ia kenakan semalam.
Delisa yang melihat ibu dan adik-nya yang sudah tak bernyawa itu kini langsung terpaku di tempat.
diri-nya tak tahu lagi harus bagaimana.
air mata Delisa pun perlahan mengalir dan akhir-nya membanjiri wajah-nya.
Delisa pun langsung berteriak dan meluap-kan semua sakit hati-nya itu.
ia pun langsung melepas-kan aura membunuh yang sangat pekat dari dalam tubuh-nya.
aura membunuh itu seketika membuat semua orang yang sedang menyaksikan ibu dan adik-nya yang sudah tak bernyawa itu kini langsung ketakutan dan merinding saat Delisa mulai mengeluarkan aura Saga-nya itu.
Bahkan beberapa orang yang kini merasa-kan firasat buruk pun langsung mencoba untuk kabur dari tempat itu.
namun, Delisa yang saat ini sudah lepas kendali dan di penuhi amarah serta sakit hati yang saling bercampur aduk kini langsung mengeluar-kan semua kemampuan-nya sebagai seorang ksatria Saga.
ia memuncul-kan pedang angin di tangan-nya dan dengan segera ia membantai semua orang yang ada di tempat itu.
ia memotong dan mencincang mereka semua layak-nya seorang psikopat yang sedang mengamuk.
Setelah selesai mengamuk dan membunuh semua orang yang ada di tempat itu, kini Delisa pun langsung menatap tajam ke tanah yang saat ini sudah bersimbah dengan darah.
"tunggu saja kau Madika!!... akan ku balas-kan semua rasa sakit ini!!" ucap Delisa yang saat ini telah membulat-kan tekad-nya untuk balas dendam karena kini ia menganggap bahwa awal dari semua masalah ini adalah keputusan Madika untuk membunuh ayah-nya.
"akan ku cabut akar dari masalah ini!!.... tidak peduli sekuat apa diri-mu!!.... aku akan mengorban-kan apa saja untuk bisa membunuh-mu!!" ucap-nya dalam hati.
Setelah itu Delisa pun pergi dari tempat itu, dan ia sejak saat itu ia pun menyamar-kan wujud asli-nya mengguna-kan sebuah benda pusaka peninggalan ayah-nya yakni sebuah topeng penyamaran sempurna yang bisa membuat wajah seseorang berubah sepenuh-nya dan terlihat tidak ada sedikit-pun jejak penyamaran.
__ADS_1