
Saat ini, di kamar Nia tampak Nia dan Madika yang sedang duduk bersebelahan di atas ranjang tempat tidur Nia.
Kamar itu tampak sangat rapi dan sangat mewah, dan dekorasi-nya juga sangat elegan.
"apa tidak ada tempat lain lagi selain di sini hah?" tanya Madika yang saat ini merasa sedikit tidak enak datang ke kamar Nia.
"huh...." Nia menghela nafas dengan ekspresi lesu sambil merebah-kan tubuh-nya di atas ranjang itu.
"di luar sana sangat ramai, jika kau mau membahas urusan ini di tempat sepi yang tidak akan di ketahui oleh orang lain maka ini-lah satu-satunya tempat yang aman saat ini." ucap Nia menjelas-kan.
"hah...." Madika kini hanya bisa menghela nafas saat mendengar penjelasan dari Nia.
Memang benar, saat ini di seluruh rumah Nia saat ini sedang ramai, ke mana pun mereka pergi selalu ada orang.
oleh karena itu, jika mereka ingin membicara-kan sesuatu yang rahasia maka hanya di sini tempat yang paling aman untuk saat ini.
"sudah-lah.... cepat katakan saja informasi itu." ucap Madika tanpa basa-basi sambil menoleh ke arah Nia yang saat ini berbaring di samping-nya.
"hah.... kau ini benar-benar tidak sabaran." ucap Nia sambil berpaling dari tatapan mata Madika.
"hei, jangan buang-buang waktu-ku seperti ini." ucap Madika lagi yang terlihat berusaha mendesak.
Sekali lagi Nia kini langsung menghela nafas seolah ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiran-nya saat ini.
ia terlihat seolah enggan untuk mengatakan-nya sekarang.
"hei Madika." ucap Nia dengan suara lembut dan pelan.
"hmm?" Madika hanya bergumam dan terus memperhati-kan wajah Nia dari atas.
__ADS_1
"jika aku memberi-mu informasi itu sekarang, apa kau akan pergi malam ini juga?" tanya Nia yang masih berpaling dari Madika.
Saat pertanyaan itu di lontar-kan oleh Nia, entah mengapa kini wajah Nia terlihat seperti sedang bersedih seperti seorang gadis yang tidak ingin kehilangan seorang kekasih-nya.
"entah-lah, mungkin saja bisa jadi seperti itu." ucap Madika tanpa ragu sama sekali meski-pun diri-nya saat ini bisa melihat ekspresi Nia yang tampak sedang merasa sedih itu.
Nia yang mendengar jawaban Madika yang terkesan tidak ragu-ragu itu kini hanya diam saja. ia bahkan sama sekali tidak menoleh ke arah Madika, ia tampak terus memaling-kan wajah-nya dari Madika.
Kini kesunyian pun memenuhi kamar itu, Nia sama sekali tak merespon ucapan Madika yang sebelum-nya, sementara Madika kini hanya terus menatap Nia dalam-dalam dan tidak berbicara sama sekali.
"ya ampun, apa gadis ini sedang menyimpan rasa pada-ku?" batin Madika yang saat ini terus memperhati-kan wajah Nia yang masih terus memaling-kan wajah dari-nya.
"hei...." Nia mulai buka suara, tapi ia masih belum menoleh ke arah Madika.
"ada apa?" tanya Madika spontan.
"apa kau masih belum puas menatap-ku terus seperti itu?" ucap Nia yang wajah-nya kini mulai memerah.
"sebenar-nya bukan tidak berani, hanya saja....." ucap Nia dalam hati menggantung-kan perkataan-nya.
wajah Nia semakin memerah saat memikir-kan perasan-nya yang tidak ia mengerti saat ini. "rasa-nya aku seperti tidak ingin berhenti di tatap oleh-nya."
Sementara itu, Madika yang mendengar ucapan Nia sebelum-nya kini langsung berhenti menatap Nia.
"hah.... ya, aku puas menatap-mu." ujar Madika sambil menghela nafas. "jadi bisa kau segera berikan informasi itu pada-ku?" tanya Madika lagi.
Mendengar pertanyaan itu, kini Nia menoleh ke arah Madika dan langsung menatap Madika.
"bisa-kah kau tetap di sini?.... setidak-nya selama dua hari ke depan." ucap Nia yang terlihat serius meminta Madika untuk tetap menetap di kota Kayau.
__ADS_1
"sejujur-nya saat ini aku memang tidak terlalu buru-buru, tapi untuk saat ini aku akan memilih untuk segera pergi dari kota ini." ucap Madika.
"apa alasan-mu sampai kau ingin segera pergi dari kota ini?.... apa kau tidak nyaman di sini?" tanya Nia lagi.
"entah-lah, aku hanya ingin segera pergi, itu saja." jawab Madika yang tidak mau memberi penjelasan.
lalu Madika kembali berkata.
"yang lebih penting saat ini, kenapa kau seperti sedang berusaha menghalangi jalan-ku untuk pergi dari kota ini?.... apa tujuan-mu yang sebenar-nya?" tanya Madika penuh selidik.
Mendengar pertanyaan itu, Nia pun kembali memaling-kan wajah-nya dari Madika tanpa mengeluar-kan sepatah kata untuk Madika.
Sejenak Madika menunggu Nia menjawab pertanyaan-nya, namun Nia tampak terus diam dan tak menjawab pertanyaan Madika.
"hei Nia, jika aku bertanya tolong segera di jawab, bisa kan?" ucap Madika sambil pasang ekspresi sedikit kesal karena Nia terus mengabaikan pertanyaan-nya.
Nia masih tidak mau berbicara, sementara itu Madika sudah semakin bosan menunggu Nia untuk memberi-kan tanggapan.
Akhir-nya Madika terpikir-kan ide gila, ia pun langsung memposisi-kan tubuh-nya di atas tubuh Nia sambil menatap mata Nia dalam-dalam dari atas.
ia kini menopang tubuh-nya mengguna-kan kedua tangan-nya yang berada di samping kepala Nia agar tubuh-nya tidak terlalu menindih tubuh Nia yang berada di bawah-nya saat ini.
Saat Madika melakukan hal tersebut, Nia pun langsung terkejut, dan wajah-nya pun semakin memerah.
saat Madika menatap mata-nya lekat-lekat, ia jadi semakin salah tingkah. ia pun akhir-nya langsung memaling-kan wajah-nya yang kian memerah itu dari Madika.
"hoi.... jawab pertanyaan-ku sekarang juga, jika tidak maka aku akan melakukan sesuatu yang buruk pada-mu." ucap Madika dengan nada sedikit mengancam. "lagi pula di tempat ini tidak ada orang dan di jamin aman bukan?.... itu berarti aku hanya perlu membungkam mulut-mu lalu melakukan apa pun yang aku ingin lakukan terhadap diri-mu!.... jadi jika kau tidak ingin hal itu terjadi, maka sebaik-nya kau segera kata-kan pada-ku di mana tempat tongkat itu berada saat ini." ucap Madika mencoba mendesak Nia agar segera menjawab.
Mendengar ucapan Madika itu, tentu Nia merasa ketakutan karena Madika benar-benar terlihat serius mengata-kan hal itu.
__ADS_1
namun entah kenapa diri-nya merasa bahwa ia tidak begitu keberatan jika Madika melakukan sesuatu pada diri-nya malam ini, lagi pula ia saat ini masih bisa ada di tempat ini itu semua karena Madika yang sempat menyelamat-kan diri-nya, bukan hanya itu saja, Madika juga bahkan telah menyelamat-kan ayah-nya dari eksekusi mati itu.
Hal itulah yang memberi-kan sedikit tekanan pada Nia sehingga ia merasa harus memberi-kan sesuatu pada Madika.