
Kini kepala Rega tampak menggelinding di tanah.
sementara itu, kedua teman Rega yang berada cukup jauh dari Rega tampak masih belum menyadari bahwa Rega telah terbunuh. hal itu di karenakan Rega langsung mati dalam satu serangan sehingga tak sempat mengeluarkan suara sedikit-pun.
Saat ini, kedua teman Rega itu tampak sibuk mencari satu lagi gantungan kunci yang masih belum mereka temukan.
"apa kau yakin tadi mayat-nya ada di sini?" tanya salah satu teman Rega.
"ya.... tadi ada di sekitar sini.... seharus-nya di sini pasti ada satu gantungan kunci lagi." jawab-nya memberi penjelasan.
Setelah itu kedua-nya mulai mencari lagi.
baru saja mereka mulai melangkah, tiba-tiba sebuah batu kecil jatuh di depan mereka.
melihat batu itu, kedua-nya langsung mengangkat kepala-nya dan menoleh ke arah datang-nya batu itu secara bersamaan.
"hai." Madika memberi salam sambil mengangkat tangan kanan-nya.
Kedua teman Rega terkejut. mereka terkejut dengan kemunculan Madika yang secara tiba-tiba, padahal kedua-nya sudah menggunakan teknik pendeteksi tapi ternyata ada yang lolos dan tak bisa mereka deteksi.
Kedua-nya terkejut sekaligus bingung. seketika kedua-nya melompat ke belakang dan menjaga jarak dari Madika.
wajah mereka terlihat waspada. mereka merasakan aura yang mengancam dari Madika. namun Madika hanya tersenyum sambil memiringkan kepala-nya.
"apa-apaan orang ini?!..... bagaimana bisa dia lolos dari teknik pendeteksi kita?!" ucap salah satu teman Rega.
"mana ku tahu!.... tanya langsung pada orang-nya jika kau penasaran." balas teman-nya di sebelah.
Baru saja mereka bertanya-tanya seperti itu, kini Madika langsung menarik pedang-nya keluar dari sarung-nya. lalu di arahkan-nya pedang itu ke arah dua orang teman Rega.
kedua teman Rega makin waspada.
Madika menarik napas dalam-dalam dan bersiap-siap untuk melanjutkan rencana-nya.
"MAKANAAAAAN!!!!" teriak Madika sekuat tenaga hingga suara-nya terdengar menggema di tengah-tengah hutan itu.
kedua teman Rega yang melihat Madika berteriak sambil menyebutkan kata makanan sejenak bingung. otak mereka berusaha mencerna maksud dan tujuan Madika.
tak butuh waktu lama, kini mereka berdua langsung tersadar akan hal yang sama, yaitu kelompok Madika.
mereka berdua langsung terpikir bahwa Madika pasti sedang memanggil anggota kelompok-nya.
benar, kini kedua teman Rega bisa merasakan tiga pengguna Saga yang sedang melesat cepat ke arah mereka berdua.
mereka kini dengan segera melakukan formasi bertahan. mereka dengan sigap langsung saling membelakangi.
__ADS_1
kedua-nya terlihat sudah biasa bertarung. hal itu terbukti dari reaksi mereka dalam menghadapi situasi saat ini.
umum-nya, orang-orang pasti akan segera menyerang umpan yang sudah ada di depan mereka. dalam hal ini umpan itu adalah Madika.
namun kedua-nya tidak menyerang Madika tetapi malah langsung fokus untuk bertahan karena mereka sadar bahwa lawan mereka bukan hanya satu orang dan tentu-nya jumlah itu akan membuat mereka berdua bisa kerepotan jika asal menyerang.
"tunggu hingga mereka semua menampakan diri agar kita bisa tahu harus bagaimana menghadapi mereka!" ucap siswa satu.
note: kedua teman Rega kita sebut saja dengan nama siswa satu dan siswa dua.
"tunggu dulu! apa kau tak menyadari sesuatu?" tanya siswa dua yang kini terlihat makin terkejut dengan ekspresi seperti orang yang baru saja melihat setan.
"menyadari apa?" tanya siswa satu.
"aku tidak lagi bisa mendeteksi keberadaan Rega!!" ucap siswa dua.
Mendengar ucapan siswa dua, kini siswa satu juga ikut terkejut. lalu dengan cepat kedua-nya menoleh ke sebuah batu tempat Rega sebelum-nya duduk dan beristirahat.
kedua-nya makin terkejut. mata mereka tak bisa menemukan Rega di sana.
dengan cepat kedua-nya menoleh ke arah Madika.
Kini Madika berdiri dengan santai sambil meletak-kan tangan kiri-nya di pinggang.
Melihat hal itu mereka pun langsung menyadari bahwa kini Rega sudah terbunuh oleh Madika.
"sial@n kau!!" teriak siswa dua yang kini tampak emosi.
ia sudah tak dapat mengendalikan diri. ia membiarkan emosi-nya meluap.
ia pun kini langsung melesat ke arah Madika sambil memuncul-kan sebuah pedang api di tangan-nya.
pedang itu menyala-nyala. tampak kobaran api yang begitu membara terlihat menakutkan.
"amarah-nya memperkuat api milik-nya." batin Madika. "orang ini lumayan juga." ucap-nya dalam hati sambil berseringai.
"berhenti!.... jangan bertindak gegabah!" teriak siswa satu memperingati.
Namun peringatan dari siswa satu tak di indahkan oleh siswa dua. ia tetap maju dengan kecepatan tinggi.
saat ia berada di depan Madika, ia langsung mengambil ancang-ancang untuk menebas.
Madika yang melihat itu tetap tenang.
siswa satu berteriak.
__ADS_1
"MATI KAU!!!"
Bersamaan dengan teriakan itu seketika kobaran api di pedang-nya makin membesar dan makin terlihat menakutkan.
lalu dengan cepat ia menebas leher Madika.
~TCHING!!~
Tebasan pedang api dari siswa dua menghantam sebuah perisai api yang berada tepat di samping Madika.
Madika tersenyum licik.
"akhir-nya kalian datang juga." ucap Madika dengan seringai di wajah-nya.
Siswa dua yang melihat perisai api itu terkejut. namun itu hanya terjadi sesaat. ia kembali terlihat serius dan kini ia memutar tubuh-nya selagi masih berada di udara.
sambil memutar ia juga melakukan tebasan. sehingga tebasan memutar itu hampir mengenai Madika.
~TCHINGG!!~
Kini tebasan memutar siswa dua menghantam sebuah pedang api. ya, kini Nina tepat berada di depan Madika sambil menangkis serangan siswa dua.
Melihat wajah Nina, siswa dua langsung terlihat kesal.
"jangan menggangguku sial@n!" bentak siswa dua.
Madika hanya diam dan tetap tenang. ia membiarkan Nina melindungi-nya. ia yakin bahwa Nina pasti bisa menahan serangan siswa dua itu.
Tak butuh waktu lama, kini Nina berhasil menekan siswa dua dan membuat siswa dua terhempas.
sebuah ledakan energi terjadi ketika Nina menekan serangan siswa dua. hal itulah yang membuat siswa dua terhempas.
Siswa dua kini mendarat ke tanah. namun tubuh-nya masih terdorong sehingga ia tetap terseret dan kaki-nya bergesekan dengan tanah sehingga timbul kepulan debu di daerah yang di lewati-nya.
ia tampak makin kesal. ia menoleh ke arah siswa satu dengan kasar.
"hoi!... bantu aku sial@n!" bentak siswa dua.
"apa kau buta hah!?" balas siswa satu sambil berteriak karena diri-nya kini sedang berhadapan dengan Niko dan Fany.
Madika kini berjalan perlahan mendekati Nina. lalu ia menepuk bahu Nina.
"apa kau tidak keberatan melawan teman kelas-mu sendiri?" tanya Madika.
"tentu saja.... lagi pula aku tak berteman baik dengan pria itu." jawab Nina dengan cepat.
__ADS_1