
Saat ini di sebuah tempat khusus di stadion tampak kaisar Samon dan cucu-nya yakni Natalia sedang berjalan menuju sebuah kursi yang tersedia di sana.
selain tuan Samon dan Natalia, di samping tuan Samon juga tampak kepala akademi yang sedang berbincang dengan tuan Samon.
sementara di belakang mereka bertiga tampak dua orang pengawal pribadi tuan Samon sedang mengikuti mereka.
Setelah tiba di kursi yang sudah di sediakan, kini mereka bertiga langsung duduk di kursi itu, setelah itu mereka pun mulai mengedarkan pandangan mereka ke seluruh stadion yang sudah di penuhi oleh para siswa yang tampak antusias untuk menonton pertarungan hari ini.
Ketika tuan Samon mengedarkan pandangan-nya, mata-nya kini berhenti bergerak saat melihat sosok Madika yang sedang duduk di bangku penonton.
seketika itu juga tuan Samon pun langsung bertanya pada Natalia.
"Natalia, apakah dari delapan orang peserta yang tersisa ini ada yang menurut-mu bisa mengalahkan-mu?" tanya tuan Samon sambil menoleh pada cucu-nya.
"menurut pandangan-ku saat ini.... tidak ada." jawab Natalia dengan dengan cepat dan penuh percaya diri.
"benar-kah?" tanya tuan Samon lagi dengan nada kurang yakin.
"jika ada yang mungkin bisa mengalahkan-ku di akademi tingkat atas ini, maka kemungkinan-nya orang itu adalah si ketua OSIS bermata empat itu." ucap Natalia dengan ekspresi cukup acuh.
"menurut-ku apa yang di katakan oleh Natalia itu mungkin ada benar-nya." ucap kepala akademi yang menyela pembicaraan. "lagi pula Natalia itu sebenar-nya sudah setara dengan siswa kelas tiga di akademi tingkat atas. namun karena level-nya saat ini masih berada di level 8, maka kami terpaksa harus membiarkan diri-nya berada di kelas satu untuk bisa menjaga aturan para pendahulu mengenai tingkat dan level." ujar si kepala akademi.
"ya, mau bagaimana lagi, lagi pula meskipun aku punya jurus-jurus yang kuat, namun jika Saga-ku masih berada di level ini, maka Saga-ku tentu-nya akan lebih cepat habis jika memaksakan menggunakan jurus yang sangat kuat itu.... berbeda dengan mereka yang sudah berada di level 20 ke atas, mereka semua memiliki kapasitas Saga yang besar dan tentu-nya itu bisa membuat mereka menggunakan banyak jurus kuat dalam satu pertarungan." ucap Natalia yang mengakui kelemahan diri-nya saat ini.
__ADS_1
"itu benar, kau hanya kekurangan kapasitas Saga saja.... dan karena itu pulalah kau masih harus berada di kelas satu dan mengikuti pelajaran kelas satu." timpal kepala akademi.
"hah.... ya sudahlah jika kalian berpendapat seperti itu." ucap tuan Samon yang kemudian mulai mengelus janggut kesayangan-nya.
Saat ini, di arena pertarungan tampak si pemimpin pertandingan telah tiba dan mulai membuka kegiatan hari ini.
[baiklah semua-nya, hari ini kita akan memulai kembali pertarungan yang baru! babak yang baru!.... di babak kali ini kita akan kembali mengacak nama-nama yang akan saling berhadapan dalam pertarungan.... di babak ini akan ada empat pertarungan yang akan di langsungkan, setelah itu akan di lanjutkan dengan babak berikut-nya hingga akhir-nya mencapai babak final serta puncak dari pertandingan ini yaitu memenuhi persyaratan untuk menjadi seorang pengawal pribadi nona Natalia.... baiklah, sekarang langsung saja kita acak nama-nama para peserta di babak ini!!] ucap si pemimpin pertandingan dengan penuh semangat.
kini hasil dari pengacakan nama itu sudah di tunjuk-kan di sebuah layar lebar yang ada di stadion itu.
Pertarungan pertama: Nono vs Silo
Pertarungan ke-dua: Mango vs Soko
Pertarungan ke-tiga: Yimo vs Gino
[baiklah, hasil pengacakan sudah di tampilkan di layar lebar, dan sekarang kita langsung saja memulai pertarungan pertama.... bagi kedua peserta di persilahkan memasuki arena pertarungan!"] ucap si pemimpin pertandingan dengan penuh semangat.
Setelah si pemimpin pertandingan memanggil dua peserta, kini terlihat Silo langsung melompat dari bangku penonton. lompatan-nya sangat tinggi, dan saat berada di udara, ia langsung membuat sebuah perosotan yang terbuat dari es. lalu ia pun langsung berseluncur layak-nya seorang peselancar yang sedang berdiri di atas papan selancar.
setiap jalur yang akan ia lewati, ia langsungkan membuat perosotan es di depan jalur-nya itu.
kini ia tampak berseluncur di udara sambil mengelilingi arena pertarungan.
__ADS_1
hingga akhir-nya kini ia mendarat di arena setelah beberapa saat berseluncur di udara.
saat Silo telah mendarat, kini perosotan es yang ia buat sebelum-nya langsung lenyap begitu saja tanpa menyisakan apa-apa.
Melihat pertunjukan Silo itu membuat banyak penonton jadi sedikit heboh, dan hal itu pun membuat Silo jadi sorotan perhatian banyak siswa.
"para siswa yang tersisa kali ini seperti-nya akan lebih sulit di atasi jika di bandingkan dengan peserta-peserta sebelum-nya." ucap Madika yang masih melihat Silo yang tampak sedang mengangkat kedua tangan-nya dengan meriah sambil melempar senyum pada beberapa siswa yang memberi-nya dukungan.
"tentu saja, semakin sedikit peserta yang tersisa, semakin kuat pula peserta tersebut." ucap Nina yang saat ini duduk di samping kiri Madika.
"selain itu, lawan Silo kali ini adalah Nono.... dan ini adalah pertama kali-nya kita berdua akan melihat seperti apa kemampuan Nono." ucap Ariel menimpali perkataan Nina.
"kau benar, sebelum-nya kita datang terlambat di pertarungan pertama kemarin, sehingga kita tak bisa melihat dan menilai kemampuan Nono." balas Madika.
"kalau soal Nono, aku tahu beberapa hal tentang-nya." ucap Nina sambil menoleh pada Madika. lanjut-nya, "di pertarungan pertama kemarin, Nono dengan cepat menyelesaikan pertarungan-nya menggunakan sebuah jurus misterius.... jurus itu membuat seluruh arena pertarungan membeku, bahkan lawan-nya saat itu juga langsung membeku... setelah itu dia pun langsung menghancurkan tubuh lawan-nya yang membeku itu." ucap Nina menjelaskan.
"rupa-nya begitu." ucap Madika sambil memegang dagu-nya dan mulai berpikir.
"apa mungkin dia menggunakan teknik pembekuan area? atau sesuatu yang lebih kuat lagi?" ucap Madika bertanya-tanya.
"entahlah, aku juga tidak tahu pasti, hanya saja, saat membekukan arena pertarungan, lawan Nono saat itu tampak tidak melakukan pergerakan apa-apa.... padahal seandai-nya ia menghindari teknik pembekuan dari Nono, aku yakin pertarungan-nya akan berlangsung lebih lama." ucap Nina sambil mengingat kembali kejadian saat Nono membekukan seluruh arena serta lawan-nya saat itu.
"seperti-nya kemampuan Nono tidak sesederhana yang ku pikir-kan.... mungkin saja dia sudah melakukan sesuatu sebelum membekukan seluruh arena, dan sesuatu yang ia lakukan itu masih menjadi sebuah misteri." batin Madika sambil memegang dagu-nya dan berpikir.
__ADS_1
Tak lama setelah itu, kini para siswa pun kembali heboh.
Madika yang tadi-nya sedang berpikir kini langsung menoleh ke segala arah untuk mencari tahu penyebab kehebohan itu, dan kini Madika pun akhir-nya melihat Nono yang sedang menaiki sebuah pedang es dan melesat bebas di udara sambil berkeliling stadion. lalu akhir-nya kini ia mendarat di arena pertarungan.