
Pasukan Madika yang sebelum-nya sudah Madika kerahkan sesungguh-nya sudah banyak melibas para Niverom yang menyerang sekte Balumba.
Akan tetapi, untuk mempercepat waktu, Madika langsung memerintah-kan Bunggu untuk turun tangan agar para Niverom itu bisa lebih cepat di kalah-kan.
Begitu Bunggu turun tangan, seketika para Niverom yang melihat kedatangan Bunggu langsung ketakutan setengah mati.
Banyak dari para Niverom itu yang saking takut-nya langsung memilih untuk kabur.
Namun sayang-nya saat mereka mencoba kabur mereka sudah di serang oleh para pasukan Madika yang lain-nya, baik itu dari budak bayangan, monster semut, bahkan pasukan kera bayangan yang sudah di kerah-kan sebelum-nya.
Sementara itu, Bunggu sendiri juga kini telah berhasil membunuh banyak banyak Niverom yang ada dan benar saja tak butuh waktu lama kini pertarungan dengan para Niverom yang datang menyerang sekte Balumba itu kini telah selesai dengan kemenangan yang di raih oleh sekte Balumba itu sendiri.
"Akhir-nya selesai juga Maslah ini!" Pikir Madika.
Setelah itu Madika pun kini teringat akan Natalia yang sebelum-nya sudah melakukan perjalanan pulang ke kerajaan Sumba, yakni kerajaan yang di pimpin oleh raja Andreas Taunaroso, ayah Natalia.
"Mungkin sebaik-nya aku segera menyusul Natalia dan yang lain-nya... Takut-nya mereka malah bertemu dengan para Niverom yang hendak menyerang wilayah sekitar sini!" ucap Madika dalam hati.
Sementara itu, Madika yang saat ini sudah berhasil memenang-kan pertempuran melawan para Niverom itu kini langsung mendapat-kan sorak-kan yang sangat meriah dari para pengikut-nya yang ada di sekte itu, yakni para murid sekte serta anggota sekte lain-nya.
Sementara itu, Madika pun kini langsung melesat ke arah Wilasopu dan empat tetua sekte serta mantan ketua sekte yang saat ini sudah berada di atas tanah bersama dengan para anggota sekte lain-nya.
"Tetua sekalian, dan sesepuh Wilasopu... Aku ingin izin menyusul Natalia dan yang lain-nya, takut-nya mereka sedang di hadang oleh Niverom tingkat tinggi saat ini!" Ucap Madika memberitahu-kan apa yang ia ingin lakukan saat ini.
Mendengar ucapan Madika, kini empat tetua sekte serta mantan ketua sekte langsung tahu siapa yang Madika sebut-kan itu.
"Oh, maksud anda gadis yang merupa-kan putri dari kerajaan Sumba itu?" Tanya tetua Barugo memasti-kan.
"Ya, benar sekali tetua Barugo." Jawab Madika mengiya-kan.
"Begitu, ya... Baiklah, kalau begitu anda susul saja mereka, sementara urusan dengan kerajaan kami yang akan menyelesaikan-nya!" Ucap Wilasopu.
"Baiklah, aku pamit undur diri dulu." Balas Madika yang kemudian kembali memuncul-kan sayap angin-nya, dan setelah itu ia pun segera melesat cepat ke arah Natalia dan yang lain-nya pergi sebelum-nya.
"Ku harap mereka baik-baik saja sampai aku menemui mereka!" Pikir Madika dengan ekspresi khawatir sambil terus mempercepat lesatan-nya di udara.
*******
Saat ini, Natalia dan para siswa-siswi lain-nya yang sedang dalam perjalanan pulang itu benar-benar sedang di hadang oleh para Niverom yang hendak menyerang beberapa wilayah di sekitar kerajaan Doroko ini.
Sebenar-nya tujuan para Niverom adalah menyerang beberapa klan yang ada, mulai dari kalan angin, klan petir, klan es, dan klan api.
Sementara itu, para Niverom yang saat ini berhadapan dengan Natalia dan kawan-kawan adalah Niverom yang tidak sengaja berpapasan dengan mereka saat sedang mencoba melakukan penyerangan ke klan petir.
Para Niverom itu sama sekali belum mengetahui bahwa saat ini klan petir sudah hancur bahkan sudah dalam masa-masa di mana mereka bisa di nyata-kan punah karena hampir tak ada lagi yang mau bertahan sebagai anggota klan petir.
Beberapa dari anggota klan petir yang sebelum-nya masih bisa bertahan hidup kini banyak yang memutus-kan untuk hidup sendiri-sendiri dan tidak membentuk sebuah klan lagi, apa lagi saat ini nama baik klan petir telah hancur di mata klan lain-nya dan klan petir juga sudah sering membuat masalah dengan klan lain, jadi mereka pun memutus-kan untuk membubar-kan diri.
Kembali ke Natalia dan kawan-kawan.
__ADS_1
Saat ini mereka tampak sedang berhadapan dengan para Niverom tersebut dan bisa di lihat bahwa Natalia dan kawan-kawannya saat ini sama sekali tidak berkutik di hadapan para Niverom itu.
Para Niverom itu saat ini berada di tingkat Papitu ke atas.
Kelompok itu di pimpin oleh lima niverom tingkat Sasio dan di antara para anggota yang bersama dengan mereka ada tujuh anggota yang berada di tingkat Wawalu, sementara sisa-nya semua-nya berada di tingkat Papitu.
Natalia saat ini tampak sudah sangat terdesak, ia tak sanggup lagi berbuat apa-apa karena saat ini lawan mereka memang jauh lebih kuat dengan tingkatan yang jauh lebih tinggi dari mereka.
Bahkan guru pemandu mereka yang berada di tingkat yang setara dengan tingkat Wawalu itu pun kini sudah tak sanggup lagi untuk melawan.
Tampak guru pemandu itu saat ini berlumuran darah dan ia kini sedang di cekik oleh seorang Niverom yang merupa-kan Niverom tingkat Sasio yang setara dengan tingkat Epic.
"Sial!... Kalau seperti ini bisa-bisa kami akan terbunuh di tempat ini!" Pikir Natalia sambil melirik ke sekitar-nya saat ini.
"Apa benar-benar sudah tak ada jalan keluar lagi sekarang?" Pikir Natalia.
Lalu Natalia pun langsung mencoba memanggil Diana yang saat ini bertarung di jarak yang cukup jauh dari-nya.
"Diana!... Segera-lah kemari!" Ucap Natalia memanggil Diana.
Mendengar panggilan itu, Diana pun segera melesat cepat ke arah Natalia dan langsung berdiri di belakang Natalia sambil membelakangi Natalia sehingga kini meraka berdua pun saling membelakangi.
"Ada apa?" tanya Diana.
"Tidak ada apa-apa!... Aku hanya merasa-kan firasat buruk jika kau terus bertarung sendiri dengan Niverom yang kau hadapi sebelum-nya!" Ucap Natalia dengan jujur.
"Begitu ya... Terimakasih sudah mengkhawatir-kan ku!" ucap Diana.
"Untuk saat ini sebaik-nya kita harus mencoba untuk tetap bertahan!... Aku merasa kalau kita bisa bertahan sedikit lagi, maka akan ada bantuan yang datang!" Ucap Natalia memberi semangat pada Diana.
"ku harap juga begitu, tapi jika kita benar-benar sudah terdesak..."
"Jika memang sudah terdesak langsung kabur saja!... Kita tak punya pilihan lain, jika ingin bertahan hidup maka coba-lah untuk tidak terlalu peduli pada orang yang tidak begitu penting bagi-mu." Ucap Natalia dengan ekspresi tenang.
Mendengar ucapan Natalia itu, kini Diana pun langsung berpikir bahwa apa yang Natalia kata-kan itu ada benar-nya, karena pada dasar-nya tidak semua orang bisa kita selamat-kan, jadi jika pada akhir-nya kita hanya bisa menyelamat-kan diri sendiri maka sebaik-nya selamat-kan diri sendiri terlebih dahulu dari pada menyelamat-kan orang yang bahkan sudah tak ada harapan lagi meski-pun kita mencoba menyelamatkan-nya.
Mengingat hal itu, Diana pun mencoba memasti-kan satu hal dari Natalia, dan Diana pun langsung bertanya.
"Bagaimana dengan-ku?... Apa aku tidak begitu penting bagi-mu?" Tanya Diana.
"Jangan berpikir seperti itu!... Jika kau dalam bahaya aku akan menyelamat-kan mu meski-pun nyawa-ku sendiri akan menjadi taruhan-nya!" Ucap Natalia. Lanjut-nya, "Kendati kita mati bersama dari pada aku harus hidup sendiri dan menyesali tindakan ku yang tak menyelamat-kan sahabat baik-ku!"
Mendengar perkataan Natalia itu, kini Diana pun langsung menghela nafas lega, dan ia juga langsung mengucap-kan terimakasih pada Natalia karena sudah menjadi-kan diri-nya sebagai seorang sahabat.
Setelah itu kedua-nya pun lanjut bertarung lagi.
Kini mereka berdua yang mencoba untuk terus bertahan pun masih merasa-kan kesulitan.
Hal itu karena kini para Niverom terus menyerang mereka berdua habis-habisan.
__ADS_1
Hal itu di karena-kan hingga saat ini hanya mereka berdua-lah yang memiliki kombinasi pertarungan yang sangat kuat dan luar biasa.
Hal itu membuat para Niverom yang berhadapan dua lawan dua dengan Meraka jadi kewalahan bahkan sudah ada yang tumbang.
Oleh karena itu, kini Natalia dan Diana pun langsung di keroyok oleh lima niverom sekaligus dan itu membuat mereka berdua kewalahan menghadapi kelima Niverom tersebut.
"Uhuk-uhuk!"
Diana kini langsung terbatuk-batuk karena saat ini diri-nya di cekik oleh salah satu Niverom.
Setelah di cekik Diana pun langsung di lempar dengan sangat kuat ke arah sebuah pohon.
Natalia yang melihat hal itu kini langsung melesat cepat ke arah Diana.
"Diana!!" Teriak Natalia yang kini langsung melesat dan dengan segera menangkap tubuh Diana.
Namun alhasil Natalia yang tak bisa menahan dorongan dari lemparan Niverom itu kini membuat natalia juga terdorong dan akhir-nya tubuh Natalia langsung menghantam batang pohon itu dengan sangat kuat sementara Diana kini memepet tubuh Natalia dengan sangat kuat.
"ARRGGGHH!!"
Kini kedua-nya pun langsung berteriak kesakitan, dan karena tubuh mereka kesakitan, kini mereka pun jatuh dengan lemas ke tanah.
Diana kini sudah berada di batas kemampuan-nya, ia kini sudah tak bisa banyak bergerak lagi dan hanya bisa menatap Natalia.
Lalu Diana pun langsung memegang pipi Natalia.
"Pergi-lah!" Ucap Diana menyuruh Natalia untuk pergi. "Kau tak boleh tetap berada di sini!... Bagi-ku susah cukup kau menganggap-ku sebagai seorang sahabat, oleh karena itu, aku ingin kau tetap hidup dan terus mengenang diri-ku sebagai sahabat-mu selama-nya!" Ucap Diana.
Natalia yang mendengar-kan kata-kata Diana itu kini sudah tak bisa membendung air mata-nya lagi.
Ia mulai menetes-kan air mata-nya dan menatap Diana dengan ekspresi wajah yang tampak sedih.
"Jangan berkata seperti itu!... Aku akan tetap di sini dan menolong-mu!" Ucap Natalia.
Lalu Natalia pun berusaha untuk berdiri dan ingin menghadapi para Niverom itu meski-pun ia sadar ia tak akan bisa menang.
Sementara itu Diana kini terus melarang Natalia untuk melakukan hal tersebut, namun Natalia tetap ngotot untuk melakukan-nya.
"Hahaha gadis bodoh!... Padahal kau bisa meninggal-kan teman-mu di sini dan kemudian bisa selamat dari kematian!... Tapi karena saking bodoh-nya diri-mu kini kau malah ingin melawan kami!... Benar-benar manusia yang malang." Ucap salah satu Niverom itu dengan ekspresi angkuh di wajah-nya.
"Diam kau pengecut!... Jika berani sini satu lawan satu ta1!!" Bentak Natalia mengumpat Niverom yang sangat angkuh itu.
"Hah?!!... Kau bilang apa barusan hah?!" Ucap Niverom itu dengan nada yang langsung meninggi.
"Pengecut kau ta1!... Bapak mu ta1! Pengecut!" Bentak Natalia yang tampak benar-benar semakin emosi dan tanpa sadar mengeluar-kan kata-kata kotor.
Mendengar ucapan Natalia itu, kini Niverom tersebut langsung emosi seketika kepada Natalia.
"Seperti-nya kau ingin segera mati bocah!!... Kalau begitu biar ku wujud-kan keinginan-mu itu!!" Bentak si Niverom sambil memuncul-kan ribuan jarum petir di udara.
__ADS_1
Melihat hal itu, Natalia pun kini langsung putus asa dan tatapan-nya langsung terlihat kosong.
Kini ia sudah pasrah akan keadaan.