
Kedatangan Madika yang secara mendadak membuat para siswa serta guru bahkan para Niverom langsung terkejut.
mereka semua terkejut dengan alasan mereka masing-masing.
Para siswa terkejut karena saat ini mereka melihat singgasana yang sangat indah dan mereka merasa singgasana yang indah itu bukan-lah sekedar pajangan.
meski-pun saat ini mereka tak bisa merasa-kan tingkatan Madika karena Madika berada di luar dinding penghalang, namun mereka tetap merasa kalau kedatangan Madika itu memiliki arti tersendiri, bahkan saat Madika muncul di atas mereka tiba-tiba mereka merasa sedikit tenang.
Sementara itu, para guru dan siswa dari akademi Parompe saat ini tampak terkejut dengan kemunculan Madika karena mereka merasa familiar dengan singgasana milik Madika itu.
"tunggu dulu, bukan-kah singgasana itu tampak mirip dengan singgasana sang pendiri?" ucap salah satu guru.
selain guru itu, tampak ada pula beberapa siswa lain-nya yang juga merasa kalau singgasana milik Madika itu memiliki kemiripan dengan singgasana sang pendiri akademi Parompe.
Akademi Parompe adalah akademi yang sudah berdiri sangat lama dan memiliki sejarah yang sangat panjang.
namun sejarah dari akademi Parompe itu masih penuh dengan misteri dan banyak yang sudah melupa-kan sejarah-sejarah tersebut.
Selain mereka, para Niverom yang bertarung dengan mereka semua saat ini kini langsung menghenti-kan pertarungan merek dengan para siswa serta guru.
mereka langsung menatap Madika dengan ekspresi tidak percaya. hal itu di karena-kan setahu mereka bos mereka sedang berhadapan dengan Madika. namun jika Madika ada di sini, maka itu berarti bos mereka telah di kalah-kan.
Tak lama setelah itu mereka pun tersadar akan satu hal.
"langit-nya.... sangat cerah." ucap Niverom tingkat Aono.
Saat seluruh Niverom menyadari langit yang sudah kembali cerah dan tak ada lagi badai petir serta awan gelap, kini mereka semua pun langsung mengetahui bahwa bos mereka telah di kalah-kan.
"ba..... bagaimana mungkin bisa jadi seperti ini?" ucap salah satu Niverom.
"di..... dia membunuh bos?.... yang benar saja?"
"ini tidak benar kan?"
Kini berbagai opini keluar dari mulut para Niverom itu.
Sementara itu, para siswa serta guru yang mendengar ocehan para Niverom tentang bos mereka kini semakin terkejut.
__ADS_1
para siswa langsung menatap Madika.
"jika mereka bicara tentang bos mereka.... itu berarti ada Niverom yang lebih kuat dari mereka, dan Niverom yang terkuat itu telah di kalah-kan oleh bocah itu?" ucap salah satu siswa laki-laki dari akademi Parompe dengan ekspresi yang tampak kurang yakin dengan hal itu.
Sementara itu, Bu Meri yang mendengar ucapan para Niverom itu kini hanya bisa melebar-kan mata-nya dengan ekspresi terkejut serta rasa kagum.
"apa jangan-jangan badai angin yang tadi itu adalah efek dari pertarungan Madika dengan bos para Niverom ini?" batin Bu Meri.
"bocah itu!.... apa jangan-jangan bocah itu menyembunyi-kan kekuatan besar di dalam diri-nya?..... selain itu, singgasana yang ia gunakan itu.... jika itu asli, maka tidak mustahil jika ia memang sudah mengalah-kan bos para Niverom ini." ucap salah satu guru akademi Parompe.
"HOI..... KENAPA DIAM SAJA?!.... BUKAN-KAH TADI KAU MARAH-MARAH SOAL AKADEMI KAMI?..... JIKA KAU MERASA AKADEMI MU LEBIH KUAT, MAKA HADAPI-LAH PARA NIVEROM ITU!.... AKU AKAN MENUNGGU HINGGA KALIAN SEMUA DI BANTAI BARU-LAH AKU AKAN TURUN TANGAN!"
ucap Madika dengan suara yang terdengar menggema.
Mendengar ucapan Madika, kini para guru itu hanya bisa terdiam tanpa suara.
sementara para siswa akademi Parompe kini tampak kesal dengan perkataan Madika barusan.
namun setelah mereka menoleh ke arah kedua guru mereka, kini mereka terkejut melihat reaksi kedua guru itu yang tampak menunduk-kan kepala-nya dan tidak berani berkata apa-apa.
Di sisi lain, para Niverom yang saat ini telah mengetahui bahwa bos mereka telah kalah dari Madika kini langsung menunjuk-kan emosi mereka.
mereka semua langsung di penuhi amarah.
mata mereka langsung memancar-kan cahaya kemerahan dan tubuh mereka semua langsung di balut oleh kobaran api serta percikan dari aliran petir.
"akan ku bunuh kau!!" teriak Niverom tingkat Aono dengan ekspresi yang terlihat menakut-kan.
"kalau begitu langsung saja.... jangan banyak bicara." ucap Madika sambil menjentik-kan jari-nya.
seketika terjadi ledakan tiga sudut penghalang segitiga milik Niverom itu, dan ledakan itu pun membuat penghalang itu hancur dan lenyap begitu saja.
Melihat hal itu, sepuluh Niverom yang menyerang itu langsung tampak terkejut dengan apa yang Madika lakukan.
"apa yang terjadi?"
"entah-lah dia hanya menjentik-kan jari-nya saja!"
__ADS_1
"jangan bilang orang ini jauh lebih kuat dari bos!"
Berbagai argumen pun muncul dari bibir para Niverom itu.
meski-pun saat ini mereka tampak terkejut dengan hal itu, namun mereka tetap berinisiatif untuk melawan Madika.
bahkan saat ini mereka sudah tahu tingkatan Madika namun tetap tidak gentar untuk menghadapi Madika.
"meski-pun bos kalah dari-mu, bukan berarti kami akan takut pada-mu!!"
"hidup dan mati kami akan selalu bersama dengan pemimpin kami!"
ucap para Niverom itu dengan penuh semangat.
"begitu, ya.... kalau begitu aku tak perlu banyak bicara lagi dengan kalian." ucap Madika dengan santai-nya.
Setelah itu Madika langsung melambai-kan tangan kanan-nya ke samping.
"lakukan tugas kalian berdua sekarang." ucap Madika dengan tenang.
Setelah berkata seperti itu kini dua harimau api itu pun langsung menunduk-kan kepala-nya pada Madika.
"siap tuan." ucap kedua harimau itu dengan patuh.
lalu kedua harimau api itu pun langsung melompat dari udara dan mendarat ke tanah.
saat mereka mendarat ke tanah, tanah di sekitar tempat mereka mendarat langsung hancur membentuk lingkaran.
Lalu kedua harimau api itu pun langsung menatap para Niverom itu dengan tatapan penuh intimidasi.
Di sisi lain, karena saat ini harimau api akan bertarung, maka Madika pun berinisiatif membuat perisai angin untuk melindungi seluruh siswa mau-pun guru yang ada di tempat itu.
Madika pun langsung melambai-kan tangan kanan-nya lagi dan seketika sebuah perisai berbentuk setengah lingkaran terbentuk di tempat para siswa dan guru.
ketika para siswa dan guru melihat perisai Madika menaungi mereka, kini mereka pun langsung menoleh ke arah Madika dengan ekspresi yang tampak sedikit kagum.
"anak ini tidak-lah biasa.... dia pasti berasal dari keluarga yang memadai dan penuh dengan bakat." batin guru dari akademi Parompe menilai Madika.
__ADS_1