
Saat ini, di tempat yang berbeda dari tempat Madika pingsan, tampak Natalia dan Mindo yang sedang duduk dan beristirahat di bawah pohon besar.
pohon itu memiliki akar yang sangat besar dan memiliki ruang di bawah akar itu sehingga Natalia dan Mindo memanfaatkan ruang di bawah akar itu untuk menjadi tempat berlindung di malam hari.
Di luar pohon itu terdapat sebuah mata air, dan tampak sebuah sumur yang baru saja di buat di tempat itu.
ya benar, saat mereka tiba di tempat ini, mereka melihat ada sumber mata air di tempat itu. lalu kedua-nya pun memutuskan untuk beristirahat di tempat itu malam ini.
setelah memutuskan untuk beristirahat, Natalia pun langsung menggali mata air itu dan membuat sumur agar mereka bisa meminum air dari sumur itu.
Mindo kini duduk berhadapan dengan Natalia dalam jarak kurang lebih empat meter.
Natalia tampak sedang bersandar pada batang pohon. sementara Mindo bersandar pada salah satu ruas akar pohon raksasa itu.
"hei.... sebelum-nya kau bilang kalau kau selalu di marahi oleh kedua orangtua-mu sejak kau di kalahkan oleh Madika?" tanya Mindo memastikan perkataan Natalia saat mereka mencari Madika sebelum-nya.
"kenapa kau menanyakan hal itu?" ucap Natalia balik bertanya sambil memutar tubuh-nya dan memejamkan mata-nya.
"ehm.... aku hanya sedikit penasaran dengan hal itu.... karena bagi-ku orangtua-mu itu adalah salah satu panutan-ku.... di mata-ku aku sangat menghargai mereka dan menganggap mereka sebagai orang yang luar biasa.... karena itulah aku penasaran tentang bagaimana mereka mendidik-mu." jelas Mindo dengan jujur.
"sebaik-nya kau tidak perlu tahu." ujar Natalia tanpa menoleh sedikit pun pada Mindo. "sedikit yang kau tahu lebih baik..... karena jika ku jelaskan, kau hanya akan kehilangan kekaguman-mu pada mereka." jelas-nya.
"hahahaha menurut-ku itu bukan masalah besar.... lagi pula aku bertanya seperti ini karena aku tidak ingin mengagumi orang yang salah." balas Mindo sambil mengibaskan kedua tangan-nya ke samping.
"hah..... baiklah, akan ku beri tahu sedikit tentang masalah-ku.... soal-nya kalau tidak kau pasti akan terus bicara dan itu sangat mengganggu hingga rasa-nya aku tidak akan bisa tidur karena kebisingan dan rasa penasaran-mu yang tidak jelas itu." ucap Natalia yang saat ini terlihat tidak niat untuk berbicara namun tetap memaksakan diri berbicara.
Lalu Natalia pun mulai menceritakan tentang diri-nya dan didikan keras dari kedua orangtua-nya.
-FLASHBACK-
Malam hari ketika kekalahan Natalia sampai di telinga kedua orangtua-nya.
Saat ini Natalia berjalan di sebuah koridor rumah.
__ADS_1
ia berjalan dengan ekspresi lesu dan putus asa.
saat ini ia di panggil oleh ibu-nya yang sekarang sedang berada di ruangan pribadi-nya.
Saat Natalia tiba di sebuah pintu, Natalia langsung berhenti. ia menatap pintu itu dengan berat hati.
dalam hati ia berpikir bahwa diri-nya pasti akan di marahi karena kekalahan-nya melawan Madika hari ini.
setelah itu Natalia pun menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan-nya melalui mulut.
lalu ia mengangkat tangan kanan-nya di depan dada. kemudian di ketuk-nya pintu yang ada di hadapan-nya itu.
"ibu? apa kau ada di dalam?" tanya Natalia dengan suara lirih dan terdengar ada sedikit rasa takut dari nada suara-nya.
"masuklah!" suara seorang wanita yang terdengar dari dalam ruangan menyuruh Natalia untuk masuk.
Natalia yang mendengar suara itu pun kini langsung membuka pintu itu dan masuk ke dalam.
saat sudah masuk, ia pun langsung menutup kembali pintu ruangan itu.
di atas meja yang ada di depan ibu-nya tampak beberapa tumpukan buku.
di sisi lain, di atas meja itu juga tampak tersedia sebuah kopi panas. yang baru saja di buat oleh pelayan pribadi ibu-nya.
"mendekat-lah kemari." ucap ibu Natalia dengan ekspresi yang terlihat dingin.
Lalu Natalia pun berjalan perlahan mendekati ibu-nya yang masih duduk di depan meja kerja-nya.
ketika Natalia tepat berada di depan ibu-nya.
ibu Natalia pun langsung menoleh ke arah pelayan-nya itu dan memberi kode agar pelayan-nya itu keluar dari ruangan itu sesegera mungkin.
Baru saja pelayan itu keluar dan menutup pintu ruangan itu, tiba-tiba Natalia di kejutkan oleh cairan hitam yang di lemparkan oleh ibu-nya ke wajah-nya.
__ADS_1
cairan hitam itu adalah kopi panas yang tadi di buat oleh pelayan yg barusan keluar itu.
Natalia terkejut. ia memejamkan mata-nya sambil menahan panas yg sangat menyakitkan seolah menggigit kulit wajah-nya.
belum lagi ampas-ampas kopi itu kini membaluti wajah serta menutupi hampir seluruh rambut Natalia.
rambut Natalia yg sebelum-nya terurai dengan indah kini tampak sangat kotor karena tumpahan kopi menutupi rambut-nya.
"aku yakin kau tahu apa kesalahan-mu sampai aku memanggil-mu ke tempat ini." ucap ibu-nya dengan ekspresi dingin namun terkesan mengintimidasi.
"uhmm...." gumam Natalia sambil mengangguk dan menunduk-kan kepala-nya.
"apa kau tidak merasa malu hah?!" ucap ibu-nya lagi. namun saat ini ibu-nya terlihat semakin kesal dengan jawaban Natalia.
"uhmm....." gumam Natalia lagi sambil mengangguk.
Melihat reaksi Natalia yang seperti itu, ibu-nya pun naik pitam.
ia langsung emosi dan langsung berdiri sambil melesatkan tamparan yang sangat kuat yang langsung mendarat di pipi Natalia.
wajah Natalia pun langsung tertepis ke samping karena tamparan itu benar-benar kuat.
tampak ada memar di wajah Natalia. memar itu bekas tamparan ibu-nya barusan.
Natalia pun perlahan menoleh kembali pada ibu-nya.
namun ia tetap tidak berani menatap wajah ibu-nya dan dia hanya bisa menunduk-kan kepala-nya tanpa berkata apa-apa.
"apa kau tahu seberapa malu-nya aku hah?!" bentak ibu Natalia sambil memukul meja di depan-nya dan membuat Natalia tersentak karena kaget. "padahal belum sehari kekalahan-mu itu terjadi, tapi rumor-nya sudah beredar di kalangan para orang-orang penting di kerajaan ini.... bahkan beberapa guru-mu tampak sedang mengejek-ku atas kekalahan-mu itu!.... apa kau pikir aku tidak merasa malu hah?!" bentak ibu-nya lagi.
~PLAKKK!!~
Sekali lagi sebuah tamparan mendarat di pipi Natalia.
__ADS_1
wajah Natalia kembali tertepis.
"sudah capek-capek aku mengajari-mu teknik api yang kuat tapi kau malah tidak mempergunakan-nya dengan benar! kau hanya membuat nama keluarga kita jadi bahan cemoohan orang-orang!" ucap ibu-nya yang tampak kesal.