
Saat ini tuan Mawata pun mulai menjelas-kan pada Madika seperti apa syarat yang harus madika lakukan untuk bisa mendapat-kan warisan kekuatan dari tuan Mawata.
"untuk mewarisi kekuatan-ku, kau harus menyerap tujuh pecahan bola energi-ku yang saat ini berada di tubuh hewan monster.... untuk bisa mendapat-kan bola energi-ku itu, kau harus membunuh hewan monster yang menyimpan bola energi-ku itu di tubuh-nya.... setelah kau membunuh-nya, kau harus mengeluar-kan bola energi itu dari tubuh si hewan monster dan kemudian kau bisa langsung menyerap bola energi tersebut." ucap tuan Mawata menjelas-kan.
"bola energi dari hewan monster?" ucap Madika memastikan.
"hmm..." gumam tuan Mawata sambil mengangguk.
kemudian tuan Mawata mengayun tangan kanan-nya ke samping, seketika bola energi yang ada di saku baju Madika langsung keluar dan melayang di udara.
"ini adalah contoh bola energi itu, ini adalah salah satu dari bola energi-ku.... kalau tidak salah dua bulan yang lalu kau mendapat-kan bola energi ini dari dalam tubuh monster harimau yang terkena jebakan buatan-mu." ucap tuan Mawata.
Mendengar apa yang di katakan oleh tuan Mawata kini membuat Madika sedikit tersentak.
"dari mana anda mengetahui semua hal itu?" tanya Madika.
"itu karena sejak kau dan gadis itu jatuh ke tempat ini, aku sudah memantau pergerakan kalian mengguna-kan hewan peliharaan-ku.... bahkan saat ini pun aku bisa mengetahui keadaan gadis yang bersama-mu sebelum-nya.... saat ini dia sedang berada di rumah dan sedang membersih-kan halaman rumah dan menata-nya.... seperti-nya kalian berdua ini benar-benar berpikir akan hidup di sini selama-nya.... hahahaha." ucap tuan Mawata yang kemudian tertawa sambil mengelus janggut-nya.
"ehm.... dia hanya sedang kurang kerjaan saja, itulah sebab-nya dia mengurus rumah sampai segitu-nya." ucap Madika merespon perkataan tuan Mawata. "tapi memang benar, akhir-akhir ini aku benar-benar sudah putus asa untuk mencari cara agar bisa keluar dari tempat ini..... aku pun akhir-nya berpikir, tidak masalah jika kami harus tinggal di tempat ini selama-nya."
"hahahaha.... kalau begitu maka sekarang kau tak perlu berputus asa lagi karena kini jalan keluar dari tempat ini sudah ada di depan-mu." ucap tuan Mawata sambil tertawa. "untuk sekarang sebaik-nya kau segera mengumpul-kan enam bola energi lagi agar bisa mewarisi kekuatan-ku.... setelah kau mewarisi kekuatan-ku, barulah kau bisa mengguna-kan energi saga-mu dengan bebas di wilayah yang tersegel ini." ucap tuan Mawata menjelas-kan.
"baiklah, aku akan mengumpul-kan semua bola energi itu!" ucap Madika dengan semangat. "apa ada petunjuk di mana saja hewan monster yang harus ku kalah-kan?" tanya Madika.
"hewan monster yang harus kau kalah-kan saat ini tidak perlu kau cari karena dia ada di tempat ini, dan dia juga datang ke tempat ini bersamaan dengan diri-mu." ucap tuan Mawata sambil menunjuk babi hutan yang kini berada di seberang lahar panas.
Madika kemudian menoleh ke arah yang di tunjuk-kan oleh tuan Mawata.
ia kemudian melihat babi hutan yang besar-nya tidak seberapa itu sedang berdiri di atas tebing yang berada di seberang mereka.
__ADS_1
"babi itu?" tanya Madika memasti-kan.
"hmm..." tuan Mawata bergumam sambil mengangguk sekali dan mengelus janggut-nya.
"ehm..... baik-lah akan ku lakukan!" ucap Madika bersemangat sambil mengambil ancang-ancang untuk bertarung.
"apa aku boleh memakai energi saga-ku?" tanya Madika.
"ya tentu saja, dan hewan monster itu juga akan mengguna-kan energi nosa-nya." jawab tuan Mawata.
Sementara itu, Madika yang saat ini terlihat mulai pasang posisi bertarung kini mendengar suara tuan Risiwuku.
"Madika, jangan gegabah, babi hutan itu tidak biasa! dia adalah seekor hewan monster tingkat veteran... jadi jangan biarkan penampilan-nya mengelabui-mu!" ucap tuan Risiwuku memberi peringatan.
"baik guru!" balas Madika.
kemudian Madika pun langsung mengeluar-kan pedang angin milik-nya.
kini lengkungan angin itu melesat cepat ke arah babi hutan itu.
Saat lengkungan angin itu berada di dekat dengan so babi hutan, babi hutan itu pun langsung mengeluar-kan suara yang sangat keras bagai-kan seekor singa yang sedang mengaum.
seketika itu juga tercipta gelombang angin melingkar di depan babi hutan itu.
gelombang angin itu kini menahan serangan lengkungan angin milik Madika sehingga lengkungan angin itu langsung hancur sebelum mencapai si babi hutan.
"dia berhasil menahan-nya." ucap Madika saat melihat serangan-nya di patahkan oleh babi hutan itu.
Baru saja berkata seperti itu, Ki i si babi hutan itu langsung mengeluar-kan suara yang sangat keras.
__ADS_1
seketika itu juga babi hutan itu tampak perlahan berubah wujud.
saat masih dalam proses perubahan, babi hutan itu tampak bergerak seperti zombie.
perlahan babi hutan itu mulai berdiri seperti seorang manusia, bahkan ukuran tubuh-nya pun bertambah besar.
tangan babi hutan itu juga perlahan berubah dan sistem gerakan-nya dari ujung kepala hingga ke ujung kaki sama seperti sistem gerak manusia.
tangan si babi hutan itu kini berubah layak-nya tangan manusia. ia memiliki empat jari tangan dengan kuku yang sangat panjang.
sementara kepala-nya tetap seperti seekor babi hutan, namun tampak ada empat taring yang timbul di samping bibir-nya.
Setelah perubahan babi hutan itu selesai, kini monster babi hutan dengan tinggi dua meter setengah itu langsung mengaum dengan suara yang sangat keras hingga beberapa batu gua yang ada di langit-langit gua langsung berjatuhan.
"ya ampun, itu babi atau singa?.... kenapa bisa mengaum seperti itu?" ucap Madika dengan ekspresi keheranan.
"memang banyak hewan monster yang aneh, jadi hal seperti ini sudah sering terjadi." ucap tuan Risiwuku menanggapi.
Setelah mengeluar-kan auman yang keras itu, kini monster babi itu langsung melompat dari tempat-nya yang berseberangan dengan Madika.
ia langsung melompat ke arah Madika dan melesat cepat sambil melancar-kan serangan berupa cakaran di udara.
babi hutan itu menggerak-kan tangan-nya dan mencakar udara hingga beberapa kali.
alhasil dari cakaran itu terbentuk angin padat dengan pola cakaran.
angin berbentuk cakaran itu kini langsung melesat ke arah Madika.
Melihat serangan cakar angin itu, Madika pun dengan cepat menangkis semua cakaran angin itu mengguna-kan pedang-nya.
__ADS_1
dengan lincah-nya Madika memutar pedang-nya sambil bergerak kesana-kemari sambil berputar dan menebas.
Cakaran angin itu pun berhasil di atasi oleh Madika, dan kini babi hutan itu pun langsung tiba di atas Madika sambil mengayun tangan-nya untuk mencakar kepala Madika.