
Saat ini tampak para rekan Kinto langsung mengerumuni Kinto yang baru saja menghembus-kan nafas terakhir-nya.
mereka semua kini tampak bersedih sekaligus panik saat melihat Kinto kini sudah tidak bernyawa lagi.
"apa yang harus kita lakukan sekarang?" ucap salah satu dari rekan Kinto yang memulai kepanikan semua orang.
"entah-lah.... apa kita harus tetap melawan sekarang?!" tanya salah satu dari mereka dengan ekspresi khawatir.
"kau benar!.... melawan!!.... kita harus melawan serigala itu!!.... lihat dia sedang kelelahan saat ini!!" ucap salah satu dari mereka menimpali perkataan rekan lain-nya sambil menunjuk ke arah Askila yang saat ini tampak sedang terduduk lemas karena energi Nosa-nya terkuras sangat banyak.
Selain itu, seluruh kloning Askila juga kini telah lenyap begitu saja karena Askila tak bisa lagi membagi-kan energi Nosa pada para kloning-nya itu.
"sial.... mereka seperti-nya akan segera menarget-kan ku sekarang!" ucap Askila dalam hati sambil menunjuk-kan ekspresi kesal di wajah-nya.
Kini seluruh rekan Kinto pun langsung menoleh ke arah Askila dengan tatapan tajam mengintimidasi.
mereka kini langsung mengeluar-kan senjata elemen mereka masing-masing.
"ayo hajar serigala itu!!" teriak salah satu dari mereka.
"jangan langsung di bunuh!!.... siksa dulu supaya die merasa-kan derita yang sama dengan bos Kinto!" ucap rekan yang lain-nya.
Kini mereka semua pun langsung melesat ke arah Askila dengan penuh amarah yang membara.
hal itu pun membuat Askila kini hanya bisa menggertak-kan gigi-giginya sambil mengkerut-kan wajah-nya dengan rasa kesal.
Namun, tak lama setelah itu, tiba-tiba Askila mendengar suara tuan-nya melalui telepati.
"kalau kau masih punya sisa energi Nosa sebaik-nya segera pasang perisai-mu." ucap Madika melalui telepati-nya.
__ADS_1
Seketika itu pun Askila langsung membuat perisa setengah lingkaran untuk menutupi tubuh-nya.
sementara para rekan Kinto yang melihat hal itu kini langsung berteriak dengan nada yang tinggi.
"jangan pikir perisai-mu itu bisa bertahan mahluk sial@n!!" ucap rekan Kinto sambil berteriak.
Baru saja rekan Kinto berteriak seperti itu, tiba-tiba Madika yang sedang melesat di udara kini langsung mendarat tepat di depan para rekan Kinto itu dan pendaratan Madika kini menghasil-kan ledakan angin yang sangat kuat.
Ledakan angin itu pun membuat seluruh rekan Kinto terkejut.
bukan hanya itu saja, kini ledakan angin itu langsung membentuk gelombang angin yang sangat kuat yang kini langsung menghantam tubuh mereka semua hingga mereka semua terdorong ke belakang sambil berusaha menutupi mata mereka menggunakan tangan agar mata mereka tak terkena abu yang di terbang-kan oleh gelombang angin itu.
"hemp!.... hanya langkah dengan langkah angin saja kalian sudah terhempas seperti itu?.... seperti-nya kalian benar-benar lemah!.... sebaik-nya kalian sadari posisi kalian saat ini!!" ucap Madika dengan nada suara yang tegas dan mengintimidasi.
"hei tuan.... yang barusan anda gunakan itu bukan-lah langkah angin biasa.... sebelum-nya anda telah memusat-kan seluruh angin di kaki anda hingga mencapai kepadatan tertinggi dan setelah itu anda menghancurkan-nya setelah menghantam lantai, dan hasil-nya adalah ledakan angin yang sangat kuat itu." ucap Askila melalui telepati sambil memandangi Madika dengan tatapan malas karena ia tahu bahwa tuan-nya saat ini sedang berbohong soal langkah angin biasa.
"hadeu.... hobi anda benar-benar mengerikan." ucap Askila sambil menghela nafas.
"hoi.... apa kalian semua tak mendengar-kan ucapan-ku hah?!.... apa kalian masih belum paham situasi kalian saat ini?!" bentak Madika sambil menghentak-kan tubuh-nya serta mengeluar-kan aura membunuh dari aura Saga milik-nya.
Seketika para rekan Kinto yang merasa-kan tekanan aura Saga serta aura membunuh yang di keluarkan oleh Madika kini langsung tertunduk dengan tubuh yang tampak gemetar ketakutan.
Melihat hal itu, kini Madika yang sejak awal memang berniat menakut-nakuti mereka kini langsung menjalan-kan rencana selanjut-nya, yakni menakut-nakuti mereka menggunakan si Udin yang sudah ia kalah-kan barusan.
"hei lihat ini." ucap Madika dengan ekspresi datar dan suara yang terkesan dingin.
Lalu Madika mengangkat setengah tangan kanan-nya ke samping lalu memuncul-kan kepala Udin yang sudah terpenggal dan telah terpisah dari tubuh-nya.
lalu Madika pun langsung melempar-kan kepala Udin ke arah para rekan Kinto.
__ADS_1
Kini kepala Udin pun bergelinding di lantai hingga akhir-nya berhenti tepat di depan seluruh rekan Kinto, dan posisi wajah Udin saat berhenti tepat menghadap ke arah para rekan Kinto.
Melihat hal itu kini tatapan para rekan Kinto itu langsung suram dan raut wajah mereka kini menggambar-kan ketakutan yang semakin kuat melanda hati dan pikiran mereka.
rasa takut itu semakin memuncak saat melihat kepala si Udin yang sudah terpenggal itu.
Madika yang melihat reaksi mereka itu kini merasa puas dengan apa yang ia lakukan.
lalu ia mengeluar-kan lagi jantung Udin yang ia dapat-kan barusan.
"ini tambahan untuk kalian!" ucap Madika sambil melempar-kan jantung Udin ke lantai tepat di sebelah kepala si Udin.
Tindakan Madika saat ini memang sangat-lah kejam dan terkesan sangat tidak manusiawi. namun di balik hal itu Madika tentu punya alasan-nya sendiri.
"maaf saja ya.... aku jadi seperti ini karena aku tahu bahwa kalian juga akan seperti-ku jika aku lebih lemah dari kalian.... inti-nya, dari sikap arogan kalian saja aku sudah tahu, bahwa kalian adalah orang-orang yang selalu menginjak-injak orang-orang yang lebih rendah dari kalian, tapi sayang-nya saat ini kalian berhadapan dengan orang yang salah." ucap Madika dengan ekspresi yang tampak sedikit murung karena diri-nya juga sebenar-nya sedang merenung-kan perbuatan-nya saat ini.
Mendengar ucapan Madika itu, kini wajah para rekan Kinto itu terlihat di penuhi oleh rasa takut yang menjadi-jadi.
mereka mulai berteriak-teriak tidak jelas hingga akhir-nya salah satu dari mereka memohon pada Madika.
"mohon ampuni aku yang mulia, paduka, maharaja, kaisar, beliau!.... ampuni aku yang sudah melakukan hal bodoh di hadapan-mu!" ucap salah satu rekan Kinto yang kini sangat ketakutan dan ingin segera pergi dari tempat ini.
dari raut wajah-nya bisa terlihat bahwa orang itu benar-benar sudah tak bisa lagi menahan rasa takut-nya, dan hal itu lah yang membuat ia langsung memohon dan membuang harga diri-nya demi sebuah keselamatan.
"hei apa yang kau lakukan?!" bentak salah satu rekan lain-nya.
"tentu saja ingin bertahan hidup bod0h!" balas pria yang memohon itu sambil menatap kawan-nya dengan ekspresi kesal.
Baru saja kedua pria itu saling bantah, kini salah satu rekan lain-nya langsung berteriak memohon ampun pada Madika, sama seperti yang di lakukan oleh pria yang sebelum-nya.
__ADS_1