Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Penyesalan


__ADS_3

Setelah mendengar pernyataan dari Sigo yang mengatakan bahwa mereka semua hanya-lah orang-orang bodoh yang sangat mudah untuk di manfaat-kan kini membuat mereka semua yakin bahwa Sigo-lah pengkhianat yang sebenar-nya.


"jangan bilang kau dan Madika sudah bekerjasama untuk mengkhianati kami semua?!!" bentak Jos yang ternyata saat ini masih mengira bahwa Madika masih menjadi salah satu dalang dari permasalahan ini.


Sementara itu, Sigo yang mendengar ucapan Jos kini hanya tertawa terbahak-bahak.


Sementara itu, Jos yang melihat reaksi Sigo yang hanya menertawai diri-nya kini langsung emosi.


ia pun segera bangkit dari duduk-nya dan langsung mendekati Sigo yang berdiri dekat pintu jeruji besi itu.


"apa yang sudah kau perbuat Sigo?!!.... kau dan Madika sudah membuat rekan-rekan kita tersiksa sampai mati!!" bentak Sigo sambil mencengkram dua besi yang menjadi pembatas antara diri-nya dengan Sigo.


Lalu ia menghentak-kan tangan-nya di besi itu.


dari wajah-nya tergambar bahwa ia saat ini benar-benar sangat emosi dan kesal pada Sigo dan Madika.


Sigo yang melihat hal itu tentu-nya jadi ikut kesal juga.


ia yang saat ini berdiri tidak jauh dari pintu sel yang di hentak-hentak oleh Jos itu kini langsung menendang tubuh jos dengan sangat kuat dan membuat Jos terlempar hingga menabrak dinding di belakang-nya dengan sangat kuat.


~BRUAAAKK~


Jos pun kini terkapar di lantai sambil memegangi dada-nya yang terkena tendangan dari Sigo itu.


"UHHGGG!!"


Jos merintih kesakitan, suara-nya hampir tak terdengar dan ia juga menjadi sesak dan hampir tak bisa menarik nafas akibat tendangan yang mengenai dada-nya itu.


Jos kini hanya berguling-guling sambil mengeluar-kan suara-suara aneh karena suara-nya tertahan di tenggorokan.


ingin berbicara namun suara tak bisa di keluarkan.


itulah yang terjadi pada Jos saat ini.

__ADS_1


"kau benar-benar bodoh Jos...." ucap Sigo sambil memandang rendah Jos. "biar ku perjelas lagi.... sebenar-nya Madika itu hanya-lah korban fitnah yang tujuan-nya hanya untuk mengadu domba antara kalian dan Madika.... tujuan kami adalah memanfaat-kan kalian untuk membunuh Madika.... namun ternyata bocah itu tak sesederhana yang kelihatan-nya, ia bahkan bisa dengan mudah-nya mengalah-kan kalian semua hanya dengan satu jurus terkuat-nya saja." ucap Sigo memberi penjelasan.


Lalu ia menatap mereka semua dengan tatapan penuh akan nafsu membunuh.


"jadi, karena kalian sudah kalah dan jadi tidak berguna sama sekali untuk membunuh bocah itu, maka kami pun memutus-kan untuk mengeksekusi mati kalian semua pada hari ini.... dan kabar baik-nya...." Sigo menghenti-kan ucapan-nya sambil mengeluar-kan lidah-nya seolah menjilati sesuatu si bibir-nya.


"sleerrp...."


"ap.... apa kabar baik-nya." tanya Jos dengan bodoh-nya sambil berusaha untuk berdiri dengan benar.


"kabar baik-nya adalah.... aku-lah orang yang akan menjadi algojo yang akan mengeksekusi mati kalian semua." jawab Sigo sambil melebar-kan senyum psikopat-nya.


Mendengar ucapan Sigo itu, kini mereka semua terdiam seribu bahasa.


mata mereka hanya bisa terbelalak dan mulut mereka terus menganga seperti sedang melihat hantu di siang bolong.


Sementara itu, Sigo yang sudah selesai dengan pemberitahuan-nya itu kini langsung beranjak pergi meninggal-kan mereka semua di penjara itu.


"sebaik-nya nikmati-lah saat-saat terakhir kalian hidup di dunia ini." ucap Sigo yang kemudian tertawa terbahak-bahak hingga ia keluar dari penjara ruang bawah tanah itu.


mereka yang sebelum-nya benar-benar mengira bahwa Madika-lah yang mengkhianati mereka kini langsung tertegun dan tampak menyesali perbuatan mereka terhadap Madika.


Seandai-nya saat itu mereka tidak bertarung dengan Madika karena tuduhan palsu itu, maka kemungkinan mereka semua akan selamat, dan Madika yang memiliki kekuatan yang mumpuni itu masih akan menjadi rekan mereka yang akan sangat berguna dan bisa banyak membantu mereka di masa depan.


Namun semua itu kini hancur karena Madika sudah pergi meninggal-kan mereka semua dan membiar-kan mereka mati di tempat ini.


Penyesalan ini pun akan sangat membekas di hati mereka semua, terutama Jos yang sedari awal terus-menerus mengguna-kan emosi-nya dan tidak pernah mau mendengar-kan penjelasan Madika dengan baik.


"maaf Madika." batin Jos sambil menetes-kan air mata-nya.


*******


Sementara itu, di sebuah saluran air bawah tanah tampak Emi dan Nia sedang berjalan menyusuri saluran tersebut.

__ADS_1


kedua-nya saat ini sedang mengguna-kan sebuah jubah yang memiliki penutup kepala sehingga mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki mereka semua-nya tertutupi oleh jubah itu.


Hal itu pun memberi-kan sedikit efek penyamaran pada mereka berdua.


"apa kau yakin di sini jalan-nya?" tanya Nia yang saat ini mengikuti Emi yang berjalan sedikit di depan-nya.


"tenang saja, aku sudah pernah mengikuti jalur ini saat mendapat misi dari asosiasi, jadi aku sudah mengenal semua jalur-jalur saluran air bawah tanah ini." jawab Emi dengan serius.


Mendengar jawaban Emi, kini Nia hanya bisa mengiya-kan perkataan Emi saja. ia memilih untuk tetap ikut bersama dengan Emi karena ia percaya bahwa Emi pasti benar-benar mengetahui jalur ini.


Setelah beberapa saat menyusuri lika-liku jalur terowongan itu, kini mereka pun tiba di sebuah jalan buntu yang terdapat tangga untuk naik ke atas.


"ayo." ucap Emi mengajak Nia untuk naik ke atas.


Nia hanya mengangguk. lalu Emi pun langsung menaiki tangga itu dan di ikuti oleh Nia yang juga menaiki tangga itu.


Hingga akhir-nya kini mereka pun keluar dari terowongan air bawah tanah itu.


mereka berdua saat ini berada di sebuah gang sempit yang sunyi.


Setelah mereka memasti-kan penyamaran mereka aman dan sempurna, kini mereka pun langsung mengikuti kerumunan orang yang sedang pergi ke tempat di mana Liga dan yang lain-nya akan di eksekusi.


Meski-pun penampilan Nia dan Emi saat ini tampak mencurigakan, namun banyak orang yang melihat mereka justru langsung membantu mengerumuni mereka berdua karena mereka berpikir ada kemungkinan bahwa orang yang sedang mereka curigai ini adalah nona Nia, satu-satunya putri dari tuan Tago Nakawao.


Sekelompok orang yang mengelilingi Nia dan Emi itu tentu-nya tidak memiliki niat jahat, mereka hanya ingin membantu Emi dan Nia untuk menyempurna-kan penyamaran mereka agar semakin tak di ketahui oleh orang-orang dari keluarga Nemosu.


Sementara itu, Nia yang bisa menyadari niat baik orang-orang itu kini meminta Emi untuk terus berjalan tanpa memperduli-kan hal-hal lain-nya.


fokus mereka saat ini adalah pergi melihat saat terakhir bagi Tago, yakni ayah dari Nia.


Sebenar-nya tujuan Nia kali ini bukan hanya sekedar melihat saja, karena saat ini, tanpa Emi ketahui bahwa sebenar-nya Nia sudah bertekad untuk melawan sampai mati meski-pun itu hanya akan menjadi sia-sia.


namun dalam pikiran Nia, ia merasa lebih baik mati bersama ayah-nya dari pada hidup seorang diri tanpa keluarga karena ayah-nya saat ini adalah satu-satunya orang tua bagi Nia.

__ADS_1


Karena itu-lah Nia sampai berani untuk bertarung sampai mati di tempat di mana ayah-nya akan di eksekusi mati.


__ADS_2