
Saat ini naga api milik Sigo yang sebelum-nya terlihat hampir menerkam Madika kini langsung terhempas akibat serangan dari gelombang angin yang tercipta dari jurus langkah dewa angin milik Madika.
Mulut naga api itu langsung sobek begitu saja dan membuat rahang atas dan rahang bawah-nya langsung terpisah dan terhempas ke arah yang berbeda.
Semua orang yang melihat hal itu pun langsung terkejut bukan main, terutama Liga dan beberapa orang lain-nya yang mengetahui seberapa kuat naga milik Sigo itu.
"na.... naga sekuat itu!..... bagaimana mungkin??" ucap Liga dengan mata yang terbelalak menatap Madika sambil pasang ekspresi tidak percaya.
Sementara itu, jos dan yang lain-nya kini hanya bisa menatap Madika dengan ekspresi takjub akan kekuatan yang luar biasa yang di tunjuk-kan oleh Madika.
Kini gelombang angin yang sangat kuat itu hanya Madika arah-kan di atas saja sehingga di bagian bawah tepat-nya di tempat Liga dan para masyarakat sipil berada mereka semua hanya menerima tampias-nya saja dan itu terlalu kuat hanya seperti badai biasa.
Meskipun hanya seperti badai biasa yang menerpa, namun tampak para warga sipil terlihat sedikit panik akibat gelombang angin yang tampak mengerikan itu terus bergerak melebar di udara.
"orang ini!.... dia mengguna-kan kekuatan ini lagi!" batin Karu yang menatap ke arah Madika dengan ekspresi kesal karena ia memang sudah melihat jurus ini sebelum-nya saat Madika melawan Liga dan yang lain-nya.
Sementara itu, Sigo yang melihat serangan naga api milik-nya hancur kini langsung terkejut dan kini tak bisa berkata-kata karena saking terkejut-nya.
Di sisi lain, Emi dan Nia yang melihat kejadian itu kini langsung tersenyum bahagia ketika melihat Madika masih dalam keadaan baik-baik saja bahkan Madika bisa menumbangkan serangan naga api itu dengan mudah.
"siap-kan jurus kalian semua dan segera serang orang itu!!" teriak Karu sambil menunjuk ke arah Madika yang masih melayang di atas langit.
Madika yang mendengar ucapan Karu itu pun kini mulai menoleh ke segala arah dan melihat seluruh pasukan Karu yang saat ini tampak mulai melakukan persiapan untuk menyerang diri-nya.
Namun, saat Madika melihat mereka semua, kini Madika pun langsung tertawa terbahak-bahak.
"hahahaha.... Karu!.... tidak ku sangka kau masih berani membuat masalah dengan-ku.... apa mungkin karena saat ini aku belum memperkenal-kan diri-ku dengan benar di hadapan-mu hah?" ucap Madika sambil menatap Karu dengan tatapan yang tampak sedikit mengejek.
"orang yang akan mati tidak usah banyak bac0t sial@n!!" bentak Karu sambil mengayun-kan tangan-nya dengan tegas ke samping.
__ADS_1
"orang yang akan mati hah?..... hmm...." ucap Madika sambil memegang dagu dan mulai terlihat seperti orang yang sedang bertingkah bodoh.
"ah iya benar juga.... mengenai eksekusi mati hari ini, aku datang kemari untuk melaksana-kan eksekusi mati kepada Karu dan keluarga Nemosu yang memiliki kaitan erat dengan berbagai hal ilegal yang Karu jalankan selama ini." ucap Madika dengan ekspresi datar.
Mendengar ucapan Madika itu, semua orang mulai terlihat bimbang dan bingung dengan apa yang di maksud oleh Madika.
bahkan Karu sendiri pun kini sudah kesal melihat cara bicara Madika yang berani mengatakan tentang hal ilegal ataupun semacam-nya.
"sial!..... apa jangan-jangan orang ini memiliki informasi tentang semua kejahatan yang ku lakukan di kota ini selama menjabat sebagai pemimpin kota?" batin Karu yang langsung waspada terhadap Madika.
"tunggu dulu!!" teriak Karu yang langsung menghenti-kan para ksatria penjaga-nya yang sudah siap untuk melancar-kan serangan ke arah Madika.
Mendengar teriakan Karu, kini seluruh ksatria penjaga itu langsung refleks menahan diri agar tidak langsung melesat-kan jurus yang sudah mereka siap-kan.
"ada apa tuan Karu?!" tanya Sigo yang tampak kebingungan dan sedikit kesal karena Karu yang tiba-tiba memberi perintah untuk tidak menyerang.
lalu kini Karu pun langsung kembali menatap ke langit tepat-nya ke arah Madika yang saat ini sedang melayang mengguna-kan pedang.
"siapa kau yang sebenar-nya?!" tanya Karu dengan nada penuh selidik.
Sementara itu, Madika yang mendengar pertanyaan itu kini langsung tersenyum menatap Karu.
"perkenalkan, namaku Madika Tumbawani, dan aku datang ke tempat ini sebagai seorang perwakilan raja!" ucap Madika sambil mengeluar-kan sebuah emblem emas yang memiliki motif yang tampak sangat indah seperti sebuah mahkota dengan sayap di kiri dan kanan-nya.
Ketika Madika mengeluar-kan emblem itu, seketika semua mata yang melihat-nya langsung terbelalak dan terkejut.
Seketika seluruh masyarakat yang yakin bahwa itu memang emblem yang asli kini langsung berlutut ke arah Madika.
Sementara Emi dan Nia yang melihat kejadian itu kini langsung terpukau dengan kejadian itu.
__ADS_1
hal itu karena hanya dengan melihat emblem itu saja semua orang langsung tunduk pada Madika.
Yang mengenal emblem itu tentu-nya bukan hanya masyarakat saja, bahkan Karu, Sigo, liga, Tago, serta semua orang di tempat itu tidak terkecuali Nia dan Emi tentu semua-nya tahu kalau itu adalah sebuah emblem asli yang menunjuk-kan bahwa orang itu benar-benar adalah seorang perwakilan raja yang di kirim ke tempat ini.
"em.... emblem itu, bagaimana bisa bocah itu jadi perwakilan raja?" ucap Sigo yang kini perlahan berjalan mundur karena ketakutan akan kekuasaan seorang raja.
Sementara itu, Karu yang sedari tadi bertingkah angkuh di depan Madika kini tampak mulai gelisah dan salah tingkah.
ia kini tak tahu harus melakukan apa serta apa yang harus ia kata-kan pada Madika yang saat ini.
"ehm.... tuan.... begini, soal masalah yang tadi bisa kita bicarakan baik-baik." ucap Karu yang kini langsung mencoba membujuk Madika.
"bicara baik-baik?" balas Madika sambil memuncul-kan seutas senyum di wajah-nya.
"bukan-kah kau sendiri yang sebelum-nya berkata bahwa orang yang akan segera mati tidak perlu banyak bacot?" ujar Madika mengembalikan apa yang Karu ucap-kan pada diri-nya sebelum-nya.
Mendengar ucapan Madika itu, kini Karu pun langsung terlihat panik.
ia mulai melirik ke sana kemari dan menatap para bawahan-nya.
ia saat ini berpikir mungkin Madika tidak mau memaafkan diri-nya karena saat ini hanya diri-nya sendiri yang meminta maaf pada Madika.
"hei kalian semua!!.... ayo minta maaf pada-nya!... jangan sampai ia benar-benar murka dan melaporkan semua ini kepada raja!" ucap Karu memberi perintah pada penjaga yang berdiri paling dekat dengan-nya dan para penjaga itu pun langsung saling memberitahukan perintah dari Karu itu.
Karu sengaja tidak mengeluar-kan suara keras agar Madika tak mendengar ucapan-nya tentang melaporkan masalah ini ke kerajaan.
Kini wajah panik Karu mulai menguasai ekspresi-nya yang sebelum-nya terlihat sangat angkuh itu.
bahkan para masyarakat yang selama ini selalu melihat Karu dengan wajah angkuh kini jadi bisa melihat seperti apa wajah panik Karu jika di perhadap-kan dengan orang yang kedudukan-nya lebih tinggi dari diri-nya.
__ADS_1