Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Tapak Dewa Petir Vs Langkah Dewa Angin


__ADS_3

Kindo kini telah selesai mengumpulkan kekuatan di telapak tangan kanannya.


Semua petir yang sebelumnya menyambar di sekitaran Kondo kini telah berkumpul dan menyatu di telapak tangan Kindo serta langsung melesat ke udara layaknya sebuah laser yang menembus awan-awan gelap yang saat ini di penuhi oleh halilintar yang menyambar-nyambar dan di sertai bunyi gemuruh dari suara guntur.


"Kali ini kau tidak akan selamat bocah sial@n!" Bentak Kindo sambil pasang ekspresi kesal menatap Madika.


Setelah itu, Madika yang melihat hal itu kini hanya diam dan tenang.


Ia kemudian melihat ke arah langit untuk memastikan apa yang akan di lakukan oleh Kindo saat ini.


"Waktu berada di ruang bawah tanah itu aku tak bisa menggunakan jurus ini untuk melawan mu karena saat itu seluruh tempat tertutup dan di sana tidak ada langit. Tapi sekarang jangan pikir kau bisa meremehkan ku lagi seperti saat itu karena kini kau berada di tempat yang salah!" Bentak Kindo lagi.


"Berisik sekali, kalau mau menyerang lakukan saja tanpa basa-basi!" Balas Madika sambil berkacak pinggang dan menatap Kindo sambil memiringkan kepalanya.


Mendengar ucapan Madika, kini Kindo pun semakin kesal.


awan-awan gelap dan penuh dengan petir itu kini makin menyeruak mengeluarkan suara Guntur yang sangat kuat dan menakutkan.


Para junior di tempat itu hanya bisa menatap kagum jurus senior meraka itu.


"Tapak dewa petir!" Ucap Kindo dengan suara menggelegar.


Seketika itu juga dari langit muncul sebuah tangan yang di penuhi oleh percikan-percikan petir, tangan itu mengarahkan telapaknya ke bawah tepat ke arah Madika.


Jurus tapak dewa petir itu melesat ke arah Madika dan memberikan tekanan aura yang sangat kuat terhadap Madika.


Tekanan aura yang sangat kuat itu hampir membuat Madika tak bisa bergerak.


Namun beruntungnya Madika yang sudah memiliki kemampuan aura yang sangat kuat kini bisa sedikit menahan tekanan tersebut.


Jika seandainya orang lain yang di serang dengan jurus itu, maka kemungkinannya orang itu hanya bisa pasrah sambil menunggu ajal karena tekanan aura itu akan membuat orang itu tak dapat bergerak sama sekali.


"Sial!... Ternyata tekanan aura milik tapak dewa petir ini sedikit lebih kuat dari tekanan aura milikku... Tapi untungnya aku masih bisa sedikit menggerakkan tubuhku, jadi ini bukan masalah besar!" Ucap Madika dalam hati.

__ADS_1


Saat tapak dewa petir itu mendekati penghalang, kini para junior langsung membuka penutup bagian atas penghalang mereka agar tapak dewa petir itu bisa masuk tanpa merusak penghalang itu.


Begitu tapak dewa petir itu sudah berada di dekat kepala Madika, kini Madika yang sedang menatap tapak itu langsung tersenyum tipis.


"Mari kita coba adu kekuatan!... Siapa yang paling kuat di antara kita!" Ucap Madika.


Lalu Madika pun langsung menghentakkan kakinya ke tanah sambil berkata;


"Langkah dewa angin!" Ucapnya dengan suara menggelegar.


Seketika itu pula sebuah gelombang angin yang maha dahsyat langsung muncul dari kaki Madika.


Gelombang angin itu langsung bergerak meluas dan menghantam semua yang ada di sekitarnya.


Sehingga kini gelombang angin itu langsung berhantaman dengan tapak dewa petir milik Kindo.


Seketika itu juga Kindo langsung terkejut saat mendengar Madika mengucapkan langkah dewa angin.


Saat berada di ruang bawah tanah tepatnya di reruntuhan yang berada di hutan Rikombo, Saat itu Madika sama sekali tak menunjukkan kekuatan ini saat bertarung dengan mereka.


Hal itu tentunya membuat Kindo tidak tahu bahwa Madika memiliki kekuatan semacam itu.


"Sialan!" Umpat Kindo.


Baru saja mengumpat seperti itu, kini gelombang angin yang sangat kuat dari jurus Madika itu langsung menghantam Kindo dan membuatnya terhempas sangat kuat ke belakang dan menghantam penghalang hingga hancur.


Sementara itu penghalang yang sebelumnya di buat oleh banyak junior di tempat itu kini langsung hancur berkeping-keping akibat dari serangan gelombang angin milik Madika.


Tidak hanya itu saja, kini ledakan yang terjadi akibat saling bertumbuknya jurus langkah dewa angin dan jurus tapak dewa petir kini membuat udara di sekitar langsung terhentak.


Ledakan itu menghasilkan gelombang energi yang sangat kuat dan bergerak meluas dari pusat ledakannya.


Para junior Kindo yang sebelumnya membuat perisai penghalang itu kini langsung terdorong mundur saat perisai mereka hancur.

__ADS_1


Tentu saja itu adalah efek yang harus mereka terima saat menahan perisai dengan cara manual.


Cara itu sama seperti mengendalikan sebuah jurus secara manual atau bisa di sebut pengendalian penuh.


Akibat dari hancurnya jurus yang mereka kendalikan, yakni sebuah penghalang besar berbentuk setengah lingkaran itu, kini mereka terkena serangan balik dari energi mereka sendiri dan hal itu membuat mereka sedikit terdorong.


"Sial!... Kita akan mati!" Ucap salah satu dari mereka yang sadar diri akan hal itu.


Seketika itu juga gelombang angin serta gelombang energi dari ledakan yang sangat dahsyat itu langsung menghantam mereka semua dan menghempaskan semuanya sejauh mungkin.


Tidak hanya para junior itu saja, kini seluruh bangunan yang berjarak seratus meter lebih dari tempat Madika berdiri langsung tersapu rata oleh gelombang angin dan gelombang energi itu.


Kehancuran yang sangat besar itu membuat seluruh penghuni klan petir tentunya terkejut.


Apa lagi sebelumnya juga sudah ada yang menyadari kemunculan jurus tapak dewa petir.


Sementara di ruang pemimpin klan tampak ada tiga tetua sedang duduk bersama sambil berbincang dan menikmati minuman hangat di depan mereka kini langsung berdiri dengan serentak saat mendengar suara ledakan yang sangat dahsyat yang asalnya dari arena latihan.


"Sepertinya terjadi sesuatu yang tidak biasa di sana!" ucap salah satu tetua itu.


"Kau benar!... ayo kita ke sana sekarang!" Timpal tetua yang satunya lagi.


Setelah itu mereka bertiga pun langsung mengangguk sekali dan sesegera mungkin mereka lenyap dari tempat itu menggunakan langkah halilintar yang dapat membuat mereka bisa bergerak sangat cepat.


Begitu tiga tetua itu hampir tiba di lokasi terjadinya ledakan itu, kini gelombang angin dan gelombang energi yang membawa puing-puing bangunan dari pusat ledakan langsung meleset ke arah para tetamu itu.


Melihat hal itu, kini salah satu tetua yang berada paling depan langsung mengibaskan tangannya ke samping dan seketika itu juga sebuah perisai petir muncul dan melindungi mereka bertiga dari gelombang angin dan gelombang energi tersebut.


Kemudian tetua itu langsung menghentakkan kakinya ke atap rumah yang mereka pijaki saat ini dan seketika itu juga terjadi ledakan energi yang menghasilkan gelombang energi yang cukup kuat menghantam gelombang angin dan gelombang energi milik Madika.


Gelombang angin dan gelombang energi milik Madika kalah dari gelombang energi milik tetua itu.


"ayo Jalan!" Ucap tetua itu setelah membereskan gelombang angin milik Madika.

__ADS_1


__ADS_2