
Saat ini, ketujuh orang dari lantai satu sebelum-nya kini berdiri di belakang Madika.
mereka berniat mengusik Madika, apa lagi saat ini Madika sama sekali tak membeli sesuatu tapi malah berniat naik ke lantai tiga.
"hei bocah!.... seperti-nya kau salah jalan!" ucap pria itu dengan nada yang terdengar berusaha mengintimidasi.
Madika diam saja.
ia kemudian langsung menoleh ke arah pria itu tanpa memutar tubuh-nya.
"lepas-kan tangan bau-mu itu dari bahu-ku!" ucap Madika sambil menatap pria itu dengan tatapan mengintimidasi serta suara yang memberi kesan rasa takut.
Seketika pria yang menyentuh Madika kini langsung merinding saat melihat tatapan mata Madika yang begitu tajam dan mengintimidasi.
Pria itu langsung melepas-kan Madika dan segera berjalan mundur.
"berani-beraninya kau menatap-ku seperti itu?!" bentak pria itu berusaha mempertahan-kan harga diri-nya agar tidak terlihat takut pada Madika.
Namun Madika yang melihat pria itu mundur tentu-nya tahu kalau pria itu sedang takut pada-nya.
"hanya karena kau memiliki banyak uang bukan berarti kau bisa membeli segala-nya!" ucap Madika dengan suara yang terdengar menggema di telingaan semua orang yang ada di tempat itu.
Pria itu tampak tidak terima melihat Madika memarahi diri-nya.
ia pun langsung mengeluar-kan sebuah pedang dari ruang penyimpanan-nya. pedang itu merupa-kan senjata energi tingkat delapan milik-nya.
pedang itu memiliki motif yang sangat mewah.
"seperti-nya kau meremeh-kan ku bocah!" bentak pria itu sambil mengarah-kan pedang-nya pada Madika.
Seketika seluruh pengunjung di tempat itu langsung menatap ke arah Madika dan pria itu.
Banyak pengunjung di tempat itu langsung terkesima melihat pedang mewah berelemen petir yang saat ini sedang di pegang oleh pria yang menodong Madika.
Rata-rata mereka semua langsung memuji pria itu setelah melihat pedang itu.
"kalau tidak salah pedang itu adalah salah satu pedang terkuat di tempat ini!.... pedang yang terbuat dari kristal energi yang berasal dari hewan monster tipe petir.... pedang itu sangat-lah kuat." ucap salah satu pengunjung memuji pedang pria itu.
"hahahaha.... tamatlah riwayat bocah jelata itu!"
"Hongu telah mengeluar-kan pedang andalan-nya, kali ini bocah itu pasti akan bertekuk lutut di hadapan tuan Hongu!"
__ADS_1
Berbagai ocehan orang-orang terdengar memuji Hongu namun mencela Madika.
mereka semua menjagokan Hongu hanya karena sebuah pedang level delapan milik-nya.
Sementara itu, Madika yang melihat mereka semua menjagokan Hongu kini hanya memutar bola mata-nya dengan malas.
"hei bocah!" bentak Hongu yang berhasil menangkap ekspresi Madika saat memutar bola mata-nya. "seperti-nya kau benar-benar tidak sadar diri!.... apa kau takut setelah melihat pedang-ku ini hah?!" ucap Hongu dengan sangat percaya diri.
Ekspresi angkuh di wajah Hongu kini makin bertambah dan seperti tidak akan hilang begitu saja.
apalagi Madika saat ini hanya diam menatap Hongu tanpa berbalik badan.
"bocah bau kencur ini pasti sudah ketakutan sekarang!.... lihat-lah wajah-nya yang tampak langsung ragu untuk melawan...... hahahaha " ucap salah satu teman Hongu yang berdiri di belakang Hongu.
"segeralah berlutut di kaki-ku!..... dengan begitu aku akan mempertimbang-kan untuk mengampuni nyawa-mu." ucap Hongu sambil berseringai licik dan memandang rendah Madika.
Mendengar ucapan Hongu itu, seketika Madika langsung melebar-kan senyum-nya.
diri-nya sudah tidak tahan lagi mendengar-kan berbagai ocehan orang-orang yang mencela diri-nya.
"siapa yang akan mengampuni nyawa siapa hah?!" ucap Madika dengan suara yang berdengung di telinga sambil melepas-kan aura Saga tingkat Elite-nya untuk menekan orang-orang yang ada di sekitar-nya.
Seketika Hongu pun langsung tak bisa bergerak.
bahkan untuk bergerak pun kini ia merasa kesulitan.
Hal itu pun membuat pedang yang ada di tangan Hongu langsung terjatuh ke lantai.
Hongu pun kini langsung terbelalak saat mengalami hal itu.
ia kemudian menatap mata Madika yang saat ini terlihat di penuhi dengan aura membunuh yang kini berhasil membuat Hongu langsung merasa merinding ketakutan.
Hongu pun berhenti menatap Madika dan langsung melihat ke arah yang lain.
Saat mata-nya melihat ke sekeliling-nya, betapa terkejut-nya ia saat melihat bahwa hampir semua orang yang ada di tempat itu tampak tertekan oleh aura Saga milik Madika.
mau tak mau sekali lagi ia harus membelalak-kan mata-nya dan langsung pasang ekspresi tidak percaya.
"ti.... tingkat Elite?" ucap salah satu teman Hongu yang kini terlihat khawatir.
"bagaimana bisa.... bocah ini bisa mencapai tingkat Elite di usia semuda itu?" ucap salah satu pengunjung yang terkena efek aura Saga Madika.
__ADS_1
"hentikan keributan ini atau kalian semua ku tendang keluar dari sini!"
ucap seorang pria yang kini tengah berjalan santai menghampiri Madika dan Hongu.
Mendengar suara itu, seketika Madika pun langsung menghenti-kan penyebaran aura Saga-nya dan dengan segera ia menoleh ke arah datang-nya suara pria itu.
Kini seluruh pengunjung langsung terlepas dari tekanan aura Saga Madika.
mereka pun kini langsung berusaha untuk berdiri tegak dan langsung menarik nafas lega.
Sementara itu, Hongu yang baru saja terlepas dari tekanan aura Saga Madika kini langsung menoleh ke arah suara pria itu.
"maaf, aku tidak bermaksud mengacau di sini." ucap Hongu sambil menangkup-kan tangan-nya ke arah pria tua yang baru datang itu. lalu Hongu menunjuk ke arah Madika. "aku hanya ingin menunjuk-kan pedang-ku kepada bocah ini, tapi dia malah menyerang-ku." ucap Hongu membuat-buat cerita.
Di sisi lain, pria tua berjanggut putih itu tentu tidak bodoh.
lagi pula ini bukan yang pertama kali-nya terjadi di tempat ini.
pria tua itu tahu kalau Hongu pasti berbohong.
"Hongu.... sebaik-nya kau berhenti membuat-buat alasan, jika kau terus seperti itu maka kau tidak akan ku beri hak lagi untuk berada di tempat ini." ucap pria tua itu dengan nada halus namun mengancam.
Mendengar hal itu, Hongu pun hanya bisa berdecak kesal.
lalu tanpa menunggu kata-kata berikut-nya dari pria tua itu, kini Hongu pun langsung memilih untuk keluar dari tempat itu.
"tunggu saja pembalasan-ku!" ucap Hongu yang kemudian langsung berjalan keluar dari tempat itu.
Sementara itu, saat Hongu telah pergi, kini Madika pun langsung membalik-kan pandangan-nya ke depan.
ia pun mulai menaiki anak tangga yang ada di depan-nya itu.
"hei anak muda." ucap pak tua menegur Madika.
Madika berhenti melangkah dan langsung menoleh ke arah pak tua itu tanpa memutar badan-nya.
"ada apa?" tanya Madika.
"berhati-hatilah dengan Hongu, mulai sekarang kau harus waspada terhadap diri-nya." ucap pak tua itu memperingati.
Mendengar peringatan dari pak tua itu, Madika justru jadi semakin bosan dan sedikit risih.
__ADS_1
Akhir-nya Madika pun langsung melanjut-kan langkah-nya dan tidak memberi respon sama sekali pada pria tua itu.