
Setelah diri-nya di buat terkejut oleh Madika, kini Natalia langsung tersenyum menatap Madika.
"seperti-nya aku harus sedikit serius menghadapi-mu." ucap Natalia sambil mengibaskan kedua pedang petir-nya itu, dan dalam sekejap seluruh bagian pedang itu langsung terbalut oleh kobaran api yang menyala-nyala. bukan hanya itu, warna dari api itu perlahan berubah menjadi biru, dan tentu-nya panas dari api itu makin bertambah.
"nah.... sekarang pedangku jadi lebih kuat!" ucap Natalia sambil tersenyum.
"tchi.... gadis ini senyum-senyum terus, seperti psikopat saja!" ucap Madika dalam hati. "belum lagi pedang itu kini terlihat lebih menakutkan dari sebelum-nya, seperti-nya ia memperkuat api-nya hingga warna-nya bisa berubah seperti itu."
Tak lama setelah itu, tanpa memberi aba-aba sedikit-pun, Natalia langsung melesat dengan cepat ke arah Madika.
Madika yang menyadari hal itu langsung membentuk perisai angin di depan-nya untuk menahan serangan dari Natalia.
namun tak di duga ternyata serangan Natalia jauh lebih kuat dari yang ia pikirkan sehingga saat Natalia menebas-nya menggunakan pedang itu, ia langsung terhempas dengan sangat kuat hingga tubuh-nya menabrak batang pohon yang cukup jauh di belakang-nya. saking kuat-nya serangan itu sampai-sampai batang pohon besar yang di tabrak oleh Madika itu langsung tumbang karena batang-nya patah.
"serangan-nya kuat sekali!.... kalau saja saat menghantam pohon tadi aku tak sempat membuat perisai di belakang-ku, mungkin aku sudah kehilangan kesadaran saat ini!" batin Madika.
Belum lama Madika menginjak-kan kaki-nya di tanah, tiba-tiba Natalia muncul lagi dari samping-nya sambil menebas-kan pedang-nya ke arah Madika.
melihat hal itu Madika pun dengan cepat melompat untuk menghindari serangan itu.
Saat Madika berada di udara, Natalia langsung menebas dua kali ke ruang hampa dan tebasan-nya itu menghasilkan sebuah api biru yang sangat tajam dengan bentuk melengkung layak-nya bumerang.
Api biru yang berbentuk bumerang itu jumlah-nya ada empat, karena tadi Natalia melakukan dua kali tebasan menggunakan kedua pedang-nya itu.
__ADS_1
api biru berbentuk bumerang itu kini langsung mengarah ke arah Madika.
"serangan api-nya sangat cepat!" batin Madika sambil memutar-mutar tubuh-nya di udara untuk menghindari serangan itu.
"ternyata kau sangat lihai menghindar ya..." ucap Natalia sambil tersenyum seolah senang melihat hal itu.
"jangan banyak bicara!" bentak Madika sambil mengulurkan tangan-nya ke arah Natalia, dan seketika langsung muncul peluru angin yang melesat cepat ke arah Natalia.
Natalia yang melihat peluru angin itu hanya tersenyum tipis seolah ia sudah memiliki cara untuk mengatasi-nya.
saat peluru itu mendekat dengan cepat ke arah Natalia, kini Natalia pun sudah mengalirkan kekuatan-nya ke pedang-nya, setelah itu ia langsung menebas peluru angin itu menggunakan satu pedang-nya.
setelah menebas peluru angin itu, pedang petir api milik Natalia tidak hancur seperti sebelum-nya. sementara itu peluru angin milik Madika langsung meledak, namun ledakan peluru angin itu tidak menghempaskan tubuh Natalia karena tekanan angin hasil ledakan itu malah berbalik ke arah datang-nya peluru angin itu.
"dia membalik-kan ledakan-nya?!" batin Madika saat melihat arah tekanan angin dari ledakan itu malah mengarah pada diri-nya dan langsung menghempaskan tubuh-nya hingga menghantam dahan-dahan pohon.
Sementara itu, Natalia kini langsung melompat ke arah Madika sambil menyerang Madika menggunakan Sambaran petir yang di hasilkan oleh tebasan pedang-nya saat di udara.
"aku hanya membuat perisai petir api dengan bentuk melengkung, lalu aku mendorong angin-mu menggunakan tekanan kombinasi petir api yang tentu-nya lebih kuat dari tekanan angin-mu." jelas Natalia sambil terus menyerang Madika menggunakan petir-nya.
"tchi... gadis ini benar-benar seperti psikopat saja! bahkan sambil menyerang dan menjelaskan ia terus tersenyum menunjuk-kan semangat-nya seolah ia menikmati pertarungan ini!.... apa memang dia benar-benar menikmati saat-saat bertarung seperti ini?" batin Madika yang terus berusaha menghindar dengan lincah-nya. Madika terus menghindar dengan cara melompat dari satu dahan pohon ke dahan pohon yang lain.
Tak lama setelah itu, tiba-tiba serangan petir Natalia kini bercampur dengan serangan bumerang api.
__ADS_1
"sial!.... jenis serangan-nya terlalu banyak dan merepotkan!" keluh Madika sambil melirik ke arah Natalia. "tchi.... ternyata ia menggunakan pedang di kiri untuk melancarkan serangan petir, sementara yang kanan untuk serangan api!" ucap-nya dalam hati saat melihat posisi Natalia saat menyerang.
Setelah itu Madika langsung melompat ke bawah tanah sambil menyembunyikan diri-nya di balik batang pohon yang cukup besar.
"percuma saja bersembunyi!" ucap Natalia dengan semangat sambil menebaskan pedangnya ke arah pohon itu sehingga sebuah api biru berbentuk bumerang langsung menghantam batang pohon itu dan membuat pohon itu terpotong.
saat pohon itu tumbang Natalia langsung menyambar-kan petir-nya ke area pohon itu. namun saat itu terjadi ternyata Madika tidak ada di tempat itu.
Melihat hal itu Natalia pun langsung membelalak-kan mata-nya karena terkejut dengan hal itu.
sesudah itu ia pun langsung mendarat di atas tanah dan langsung mengedarkan pandangan-nya ke segala arah untuk mencari di mana pergi-nya Madika sesaat setelah bersembunyi di balik pohon.
"bagaimana dia bisa melarikan diri secepat itu?" ucap Natalia sambil terus mengedarkan pandangan-nya untuk mencari Madika. "sejujur-nya aku masih merasakan keberadaan orang itu di sekitar sini, tapi aku tak bisa mengetahui posisi pasti-nya!" batin Natalia.
Sementara itu, di atas pohon tampak Madika yang sedang menyembunyikan diri-nya di salah satu cabang pohon yang menjadi titik buta Natalia.
"untung saja aku sempat terpikirkan trik tipuan ini, kalau tidak aku pasti sudah terkejar sekarang!" ucap Madika dalam hati.
Sebenar-nya, saat Madika melompat ke batang pohon tadi, ia sudah memprediksi serangan Natalia. sehingga ia memanfaatkan titik buta Natalia dan langsung melompat ke atas pohon itu sebelum pohon itu di tumbangkan oleh Natalia.
ketika pohon itu mulai tumbang, Madika langsung memanfaatkan momentum itu untuk melompat ke pohon lain sehingga Natalia tak bisa melihat pergerakan Madika saat Madika melompat ke cabang pohon yang lain yang saat ini di jadikan-nya sebagai tempat bersembunyi dari Natalia.
"huh.... aku tak bisa bersembunyi seperti ini terus!.... cepat atau lambat dia pasti akan menemukan-ku." ucap Madika dalam hati sambil menghela nafas panjang. "untuk saat ini sebaik-nya aku mulai menyerang lebih dulu menggunakan trik yang sama seperti yang ku gunakan saat melawan Onale.... untuk saat ini aku hanya bisa bertaruh semoga dia belum menyadari bahwa aku bebas menentukan saat untuk meledak-kan peluru angin-ku!" batin-nya.
__ADS_1
Kalau ada yang minat baca karya saya yang lainnya bisa cek di profil author ya...