Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Monster Banteng


__ADS_3

Saat ini si banteng berhasil memblokir serangan gelombang angin yang menghantam diri-nya mengguna-kan sebuah perisai es transparan yang berbentuk setengah lingkaran.


Saat serangan langkah angin Madika berhasil di blokir, kini si banteng itu tampak sedang mengambil ancang-ancang untuk melempar kapak-nya.


banteng itu mulai melakukan gerakan memutar beberapa kali bersamaan dengan kapak-nya itu. hingga akhir-nya di putaran terakhir ia langsung melepas kapak-nya.


kini kapak besar itu langsung terlempar dan melesat cepat ke arah Madika.


"mari kita lihat seberapa kuat kapak-mu ini!" ucap Madika dengan penuh semangat.


lalu Madika pun langsung menghadapi serangan kapak itu secara frontal.


saat kapak itu berada tepat di hadapan Madika, Madika pun langsung mengayun-kan pedang-nya dan menebas kapak besar itu.


namun sayang-nya Madika malah terdorong mundur tanpa perlawanan sama sekali, seolah-olah pedang Madika yang di gunakan untuk menahan serangan itu seperti tidak ada gunakan-nya.


kini Madika pun terlempar jauh bersama dengan kapak itu.


meski-pun saat ini Madika terus berusaha menahan kapak itu mengguna-kan pedang-nya, namun ia tetap terdorong sangat kuat ke belakang, sampai-sampai tanah yang ia lewati tampak menimbulkan garis yang cukup dalam.


"tchi.... ternyata kapak ini benar-benar sangat kuat!" batin Madika.


baru saja berkata seperti itu, tiba-tiba Madika melihat pedang milik-nya mulai retak.


"ini tak boleh di biar-kan berlanjut!" ucap Madika dalam hati.


kemudian Madika pun langsung mengambil ancang-ancang untuk bergerak ke samping.


setelah itu dengan cepat Madika langsung bergerak ke samping sambil berusaha menepis kapak besar tersebut.


Madika kini berhasil menghindari serangan kapak itu. meski-pun demikian, jubah yang ia gunakan itu kini tampak sobek terkena gelombang angin dari serangan kapak tersebut.


Melihat hal itu, Madika pun langsung tampak sedikit kesal.


"hah.... jubah yang ku buat dari kulit hewan ini memang tidak akan bisa bertahan lama dalam pertarungan.... sebaik-nya aku mengganti pakaian-ku saja!" batin Madika.

__ADS_1


setelah itu Madika pun langsung melakukan beberapa variasi gerakan tangan.


tak lama setelah itu kini pakaian Madika berubah, dan kini diri-nya telah mengenakan jubah hitam milik-nya yang ia simpan di ruang penyimpanan milik-nya.


Sementara itu, si banteng yang melihat Madika yang berhasil menghindari serangan-nya kini menggerak-kan tangan-nya seolah sedang menarik sesuatu kembali kepada-nya.


seketika itu juga kapak besar yang ia lempar-kan sebelum-nya kini bergerak kembali ke banteng tersebut.


Madika yang melihat jalur gerak kapak besar itu tepat di tempat-nya berdiri kini langsung menghindar ke samping sehingga kapak itu lewat begitu saja.


lalu si banteng itu pun langsung menangkap kapak besar-nya itu mengguna-kan tangan kanan-nya.


"seperti-nya ini saat yang bagus untuk mencoba 25% kekuatan dari tongkat energi tingkat 10 milik-ku." batin Madika yang seketika mengingat tongkat Kaisar rotan api milik-nya.


setelah itu Madika pun langsung melambai-kan tangan-nya. seketika tongkat kaisar rotan api itu langsung muncul di tangan-nya.


"pecahan tongkat ini memancar-kan aura yang cukup kuat, kira-kira bagaimana jadi-nya jika keempat pecahan tongkat ini menyatu." batin Madika dengan ekspresi takjub.


Sementara itu, tuan Mawata yang melihat tongkat itu kini tampak langsung terkejut bukan main.


"i.... itu.... jangan-jangan itu...." ucap tuan Mawata terbata-bata dengan ekspresi terkejut-nya yang kini tak bisa ia tahan. "jangan-jangan itu senjata tingkat sepuluh!.... 'tongkat kaisar rotan api'!" ucap tuan Mawata dengan mata yang terbelalak.


Sementara itu, ketika Madika sudah mengeluar-kan pecahan tongkat kaisar rotan api-nya, kini tuan Risiwuku pun langsung memberitahu-kan pada-nya cara penggunaan tongkat tersebut.


"apa kau benar-benar akan menggunakan-nya?" tanya tuan Risiwuku memasti-kan.


"ya, aku ingin mencoba-nya." jawab Madika meyakin-kan.


"baiklah, kalau begitu maka akan ku waris-kan semua jurus tongkat ini untuk-mu."


setelah berkata seperti itu, tuan Risiwuku pun langsung memberi-kan ingatan-nya tentang jurus yang bisa di gunakan pada tongkat itu.


seketika berbagai ingatan tentang jurus itu muncul di kepala Madika, dan Madika pun bisa mempraktek-kan semua jurus yang muncul di kepala-nya.


Tak lama setelah itu, kini monster banteng itu melompat ke arah Madika sambil melempar kapak milik-nya ke arah Madika.

__ADS_1


Madika yang melihat hal itu kini hanya tersenyum tipis.


kemudian ia memanjang-kan tongkat-nya, setelah itu ia memutar tongkat-nya itu dengan cepat dan langsung menghentak-kan salah satu Unjung tongkat-nya ke tanah.


seketika dari dalam tanah muncul rotan api yang bergerak menjulang tinggi.


rotan api itu cukup banyak, ia muncul dan mengelilingi Madika serta seolah sedang mengurung Madika di dalam-nya. atau lebih tepat-nya, rotan api itu kini sedang melindungi Madika dari serangan kapak milik si banteng itu.


rotan api yang menjalar dan menjulang ke atas itu memiliki batang yang di penuhi duri, dan di seluruh batang-nya itu tampak nyala api berkobar-kobar.


Kini kapak besar dari si banteng itu langsung menghantam kurungan rotan api milik Madika.


hantaman itu menghasil-kan ledakan energi, dan dari ledakan energi itu tercipta gelombang energi yang sangat kuat di udara.


meski-pun ledakan energi yang sangat kuat itu terjadi, namun tampak kurungan rotan api milik Madika tidak mengalami kerusakan sedikit-pun.


Melihat hal itu si banteng itu langsung menarik kembali kapak-nya itu.


setelah kapak-nya kembali ke tangan-nya, ia pun langsung menghentak-kan tubuh-nya, seketika aura dingin memenuhi tubuh banteng itu. aura dingin itu bahkan merembes keluar dari tubuh si banteng. kemudian banteng itu pun berlari ke arah Madika.


setiba-nya di hadapan Madika, banteng itu langsung memperkuat kapak-nya.


tampak aura dingin yang sebelum-nya berada di sekujur tubuh banteng itu kini perlahan menjalar ke kapak milik-nya.


lalu dengan cepat si banteng itu langsung melancar-kan serangan bertubi-tubi ke arah kurungan rotan api itu.


banteng itu terus menebas kurungan rotan api itu dari berbagai arah.


dengan gerakan yang sangat cepat si banteng terus melancar-kan serangan-nya.


Sementara itu, tuan Mawata yang saat ini sedang melihat pertarungan mereka kini hanya bisa menggeleng-kan kepala-nya dengan pelan.


"dasar monster bod0h.... apa dia berpikir dengan memperkuat kapak-nya ia bisa mengalah-kan senjata tingkat sepuluh?" batin tuan Mawata sambil memperhati-kan si monster yang asal bergerak tanpa ada pertimbangan sedikit pun dalam serangan-nya.


"hah.... yang nama-nya monster memang selalu tak pakai otak, mereka asal menyerang dan hanya selalu bergantung pada kekuatan saja."

__ADS_1


__ADS_2