
Saat ini Madika tampak sedang berdiri di depan Kindo yang terlihat mengalami beberapa luka di tubuhnya.
Kindo kini sedang terduduk dengan ekspresi menyedihkan layaknya pecundang.
"Aku sama sekali tak merasakan ada energi Saga di dalam tubuhmu sekarang?... Apa jurus tadi sangat banyak mengkonsumsi energi-mu?" Tanya Madika sambil memandangi Kindo dengan tatapan sinis seolah sedang mengejek Kindo.
"Sial@n kau!... Jangan senang dulu hanya karena bisa mengalahkanku!... Sekarang lihat sekitarmu dengan baik bod0h!" Bentak Kindo.
Lalu Madika pun langsung menggunakan teknik pendeteksian miliknya karena ia merasa tidak perlu melakukan apa yang Kindo katakan jadi dia ingin memastikan hanya dengan menggunakan jurus pendeteksi.
Dengan jurus itu kini Madika bisa merasakan keberadaan 8 orang yang berada di tingkat master sedang berdiri di atas atap tepat di arah belakang Madika.
Selain itu Terdapat pula belasan orang yang sudah berada di tingkat grand master Tampak sedang berdiri di area samping kiri dan kanan Madika.
Di belakang para tingkat grand master itu terdapat puluhan orang yang sudah berada di tingkat Elite dan tingkat profesional.
Sementara beberapa ratus meter di depan Madika ia bisa merasakan ada tiga orang dengan tingkat Epic sedang bergerak ke arahnya saat ini.
"Hahaha... Apa kau sudah menyadarinya saat ini hah?!" Ucap Kindo menertawakan Madika.
"Kali ini kau tidak akan bisa hidup lagi! Huaaaahahhahha!" Teriaknya sambil terus tertawa.
Madika yang kesal dengan tertawaan Kindo kini langsung menghantamkan tinjunya ke wajah Kindo hingga gigi Kindo langsung berhamburan di tanah.
"Hmm!... Uhgg!... Ngauhg!..."
Kindo kini tak bisa berkata-kata dan hanya terus bergumam sambil menutup mulutnya yang kini penuh dengan darah menggunakan kedua tangannya.
Setelah itu, kini Madika pun langsung berbalik badan dan mulai memperhatikan sekelilingnya.
Kini ia bisa melihat bahwa dirinya kini sedang di kepung oleh orang-orang dari klan itu.
Jumlah mereka sangat banyak dan kini sedang berdiri di jarak kira-kira seratus meter dari tempat Madika berdiri saat ini.
__ADS_1
Madika yang melihat hal itu pun kini langsung mencoba berbicara dengan mereka dengan tenang namun bisa terdengar oleh mereka semua karena Madika mengeluarkan suara yang bisa tersampaikan oleh pergerakan energi bebas di udara.
"Aku tak ingin membuat masalah lebih besar dari ini!" Ucap Madika.
"Tujuanku ke sini hanyalah menghabisi orang yang sudah melakukan percobaan pembunuhan padaku, jadi aku tak mau masalah ini terus berlanjut!" Ucap Madika.
Madika berkata seperti itu bukan karena Madika takut dengan jumlah mereka yang sangat banyak itu, melainkan karena Madika memang tak ingin banyak korban yang berjatuhan hanya karena masalah satu orang.
Sesudah berkata seperti itu, Madika pun memunculkan sayap angin di punggungnya dan ia hendak pergi dari situ agar pertarungan tidak terus berlanjut dan jumlah korban tidak akan bertambah lagi.
"Kau pikir kau mau lari ke mana bocah?!" Teriak salah satu tetua yang kini sudah berada di belakang Madika saat ini.
Begitu ketiga tetua itu muncul di hadapan semua orang, kini seluruh anggota klan yang sedang mengepung Madika langsung membungkukkan tubuh mereka sambil menangkupkan tangannya serta memburu salam dan hormat pada ketiga tetua itu.
"Salam Hormat tetua Akina! Tetua Lingka! Dan tetua Rionda!" Ucap para anggota klan itu dengan. serentak.
Sementara itu, Madika yang melihat para anggota klan itu masih tertunduk memberi hormat kini langsung memutar badannya dan menoleh ke arah para tetua tersebut.
"Siapa kau?! Dan apa tujuanmu sampai-sampai membuat kekacauan besar di klanku?!" Tanya tetua Akina dengan penuh selidik.
"Di... Dia yang sudah membunuh Kinto! adikku!" Ucap Kindo yang kini sedang berusaha untuk bisa berbicara kembali.
Mendengar hal itu, kini tetua Akina langsung menghilang dari tempat ia berdiri sebelumnya.
Hal itu membuat Madika sangat terkejut.
Kini Madika bisa merasakan bahaya dari arah belakangnya.
Benar saja, kini tetua Akina sudah berada di belakang Madika dan mencoba memukul Madika menggunakan tangan kanannya.
Madika yang bisa merasakan bahaya yang semakin mendekat itu kini langsung menggunakan jurus yang ia dapatkan setelah mewarisi kekuatan sang raja kera bayangan.
Madika tiba-tiba terjatuh ke dalam bayangannya sendir dengan sangat cepat layaknya jatuh ke dalam air.
__ADS_1
Hal itu pun membuat pukulan tetua Akina hanya lewat begitu saja dan tidak terkena Madika.
Melihat hal itu tentunya tetua Akina dan semua yang ada di tempat itu langsung terkejut bukan main karena baru Madika sajalah satu-satunya orang yang berhasil menghindari serangan dadakan dari tetua Akina.
Selain itu, jurus yang Madika gunakan itu juga telah membuat mereka semua jadi sangat terkejut karena mereka belum pernah melihat jurus itu sebelumnya dan hanya mendengarnya dari sebuah legenda masa lalu.
"Jurus itu?!"
"Jangan-jangan itu adalah..."
"Jurus bayangan?!"
Kini ketiga tetua yang melihat hal itu langsung tersadar akan hal itu.
Mereka bertiga tentu pernah dengar tentang jurus pengendali bayangan.
Namun berdasarkan apa yang mereka ketahui, jurus itu hanya bisa di gunakan oleh para hewan monster tertentu dan tidak pernah bisa di gunakan oleh manusia.
Sementara itu, kini Madika tiba-tiba muncul dari belakang tetua Rionda dan langsung menebaskan pedangnya ke arah tetua Rionda.
Namun dengan santainya tetua Rionda mengangkat tangannya yang sudah di perkuat dengan elemen petir untuk menangkis tebasan pedang Madika.
Tebas pedang Madika pun berhasil di blokir dengan mudah.
Lalu Madika pun segera kembali masuk ke dalam bayangan sebelum tetua itu menyerangnya.
"Sial!... Para tetua ini kuat sekali!" Pikir Madika yang kini langsung muncul di salah satu bayangan tembok yang berada sekitar seratus meter dari tempat para tetua itu.
Namun Para tetap itu bisa menyadari keberadaan Madika dengan sangat mudah, dan dengan santainya tetua Lingka langsung mengayunkan tangannya ke arah Madika dan seketika itu pula terbentuk sebuah tebasan petir berbentuk bulan sabit yang langsung melesat ke arah Madika.
Madika yang melihat hal itu langsung masuk kembali ke dalam bayangan dan setelah itu muncul dengan cepat di jarak yang cukup jauh dari tempat yang di serang oleh tetua Lingka.
Seketika tebasan petir yang di lesatkan oleh tetua Lingka itu langsung menghantam tempat Madika berdiri sebelumnya dan tebasan petir itu langsung meledak dengan sangat kuat dan lebih kuat dari tebasan petir yang biasanya.
__ADS_1
"Hanya tebasan petir saja bisa sekuat itu!... Orang-orang tua ini benar-benar akan sangat merepotkan!" ucap Madika dalam hati.