
Saat ini, sang sesepuh sekte Balumba yakni Wilasopu hendak memberi penjelasan pada Madika tentang apa yang sedang terjadi saat ini dan apa yang membuat mereka semua langsung memberi hormat pada Madika.
"Aku akan menjelaskan semuanya pada anda, tapi sebelumnya kita harus berpindah tempat dulu." Ucap sang sesepuh itu.
Lalu sesepuh Wilasopu langsung menjentikkan jarinya.
CKLAKK
"Domain tornado!" Ucap Wilasopu.
Seketika itu pula Madika dan Wilasopu pun langsung masuk ke dalam domain milik Wilasopu.
Di dalam domain itu tampak angin berhembus sangat kencang.
Sementara itu, ruang di domain itu tampak seperti ruang dengan pemandangan langit tak terbatas.
Mulai dari lantai tempat Madika berpijak saat ini sampai ke bagian atasnya semuanya tampak seperti sebuah pemandangan langit yang sangat cerah.
Meskipun tampak cerah, namun tempat itu di penuhi dengan hembusan angin yang sangat kuat serta cukup banyak tornado yang bergerak kesana-kemari di sekitaran tempat itu.
"Domain ini sangat kuat!" Ucap Madika dalam hati sambil mengedarkan pandangannya ke berbagai arah.
Tak lama setelah itu, Wilasopu pun langsung muncul tiba-tiba di hadapan Madika.
Namun saat ini Madika sama sekali tidak terkejut akan hal itu, apa lagi saat ini ia tidak merasakan niat jahat dari Wilasopu.
"Maaf jika situasi di domain ini mengganggu anda." Ucap sang sesepuh itu dengan sopan.
Lalu Wilasopu pun langsung mengangkat tangan kanannya, dan setelah itu ia menurunkan kembali tangannya secara perlahan dengan posisi telapak tangan mengarah ke bawah.
Seketika itu pula kini seluruh badai angin di dalam domain itu langsung berhenti dan suasana pun jadi sangat cerah dengan pemandangan langit biru yang membentang sangat luas di seluruh wilayah domain tersebut.
Sementara itu, Madika yang saat ini mendengar sesepuh Wilasopu tampak berbicara sangat sopan padanya kini membuat dirinya merasa tak enak.
"Kurasa anda sebaiknya tidak perlu sesopan itu saat berbicara dengan orang yang lebih muda dari anda." Ucap Madika sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Tidak tuan, justru ini adalah hal yang pantas, lagi pula usia anda saat ini bahkan sudah lebih tua dari-ku... Kalau boleh ku tebak, kau adalah sang leluhur yang bereinkarnasi kembali, yakni sang ksatria legendaris penguasa angin!" Ucap Wilasopu mengutarakan pendapatnya.
Mendengar ucapan sesepuh Wilasopu itu kini membuat Madika sedikit terkejut karena ternyata Wilasopu bisa menebak siapa dirinya yang sebenarnya.
__ADS_1
Namun karena saat ini Wilasopu telah membuat sebuah domain agar tak ada yang mendengar percakapan mereka, kini Madika pun mulai mencoba mempercayai Wilasopu untuk berbagi rahasia tentang dirinya yang merupakan reinkarnasi sang ksatria legendaris itu.
Madika pun kini mulai mengulas senyum tipis di wajahnya.
"Benar!... Tebakan-mu benar sekali!... Akulah sang ksatria legendaris!... Pilar angin yang telah terlahir kembali sebagai seorang bocah dari keluarga Rosompodapala!" Ucap Madika dengan suara yang terdengar tegas mengakui dirinya.
Mendengar pengakuan dari Madika, kini Wilasopu pun langsung tersenyum puas.
"Tidak ku sangka akhirnya hari ini telah tiba!... Hari di mana anda benar-benar akan terlahir kembali!" Ucap sang sesepuh itu.
Lalu sesepuh Wilasopu pun langsung menceritakan kembali sedikit kilas balik dari asal mula sekte Balumba.
Berdasarkan cerita dari sang sesepuh itu, yakni Wilasopu, cerita ini bermula dari sang kaisar yang merupakan murid dari tuan Risiwuku sang ksatria legendaris di masa itu.
Dahulu sebelum penyerangan terjadi, sang murid yang merupakan seorang kaisar itu sempat mendirikan sebuah sekte.
Namun tuan Risiwuku tak sempat mengunjungi sekte itu karena tuan Risiwuku sedang dalam perjalanan bersama dengan raja Arga, yakni sosok seorang ksatria pertama yang bisa mencapai tingkat absolute di Agrilis ini.
Dan karena terjadi perang besar antara manusia dan para Niverom di masa itu, maka tuan Risiwuku pun terbunuh dalam peperangan itu.
Di sisi lain, kekaisaran yang di pimpin oleh murid dari tuan Risiwuku juga di serang oleh para Niverom.
Sekte Balumba pada masa itu sempat hampir di bubarkan semenjak kematian sang kaisar, namun karena sebuah pesan wasiat dari sang kaisar yang mengatakan bahwa Risiwuku akan kembali lahir ke dunia ini melalui proses reinkarnasi, maka sang kaisar itu melalui surat wasiatnya ia memerintahkan pada sekte-nya untuk tetap bertahan hingga hari itu tiba dan mereka juga telah di berikan tugas-tugas tertentu dari sang kaisar dan tugas-tugas itu hingga kini menjadi tradisi turun-temurun yang mereka lakukan, salah satu contohnya adalah mengumpulkan serta menjaga tingkat kaisar rotan api milik tuan Risiwuku, yakni Madika saat ini.
Setelah mendengarkan penjelasan panjang lebar dan kilas balik dari Wilasopu, kini Madika pun juga bisa yakin kalau sekte Balumba ini memang ada hubungannya dengan muridnya itu.
Setelah keduanya berbincang cukup lama, kini keduanya pun keluar dari wilayah domain tersebut, dan saat keduanya keluar dari wilayah domain itu, kini seluruh anggota sekte Balumba langsung berlutut ke arah Madika layaknya segerombolan prajurit yang memberi hormat pada seorang raja.
"Wahai seluruh anggota sekte-ku... Hari ini ku umumkan bahwa seorang pemuda yang berada di sebelahku ini adalah orang yang selama ini ada di dalam sejarah panjang sekte Balumba!... Karena keberadaan beliaulah sekte Balumba bisa terus bertahan untuk menantikan hari kedatangan beliau di tempat ini!" Ucap sang sesepuh memberi pengumuman.
Mendengar pengumuman itu, kini semua orang yang ada di sekte itu tampak langsung mengerti dengan apa yang di katakan oleh sang sesepuh karena memang sejarah tentang orang yang sedang di nanti-nantikan oleh sekte Balumba memang di pelajari dan di ketahui oleh seluruh anggota sekte.
Seketika semua orang pun langsung menundukkan kepala mereka di hadapan Madika.
Madika yang melihat hal itu kini langsung bergerak maju melewati sesepuh Wilasopu.
Madika pun kini langsung mulai berbicara kepada seluruh anggota sekte Balumba itu.
"Sebelumnya kita tidak saling kenal, dan hal itu menyebabkan kesalahpahaman yang berujung pada pertikaian... Tapi, jika saat ini kalian benar-benar sudah memahami situasi saat ini, maka ku harap masalah yang sebelumnya bisa di bicarakan lagi baik-baik... Aku sama sekali tak ingin ada pertikaian di antara kita, jadi ku harap kalian semua bisa memahami hal ini." Ucap Madika dengan suara yang bisa terdengar oleh seluruh anggota sekte Balumba.
__ADS_1
Setelah berkata seperti itu, kini seluruh anggota sekte Balumba tampak terlihat mulai bernafas lega karena ternyata Madika tidak mempermasalahkan pertikaian sebelumnya.
Sejujurnya saat ini seluruh anggota sekte Balumba takut pada kemampuan Madika karena hanya dengan berbekalkan senjata saja Madika sudah bisa membantai klan serta sekte besar, apa lagi jika saat ini ia sudah memiliki tongkat kaisar rotan api.
Hal itu tentunya membuat Madika semakin sulit untuk di taklukan oleh anggota sekte Balumba.
Hal itulah yang membuat seluruh anggota sekte Balumba merasa khawatir jika ternyata Madika murka terhadap mereka.
"Baiklah, untuk sekarang aku ingin kalian mengumpulkan semua orang yang terluka agar kita bisa memastikan jumlah korban dalam pertikaian sebelumnya!" Ucap Madika memberi perintah.
"Siap tuan!" Jawab mereka serentak dan kemudian seluruh anggota sekte Balumba itu pun langsung bergerak mencari dan mengumpulkan para korban pertikaian sebelumnya.
Di sisi lain, Natalia serta para siswa lainnya dan si guru pemandu itu kini hanya bisa menatap Madika dengan ekspresi yang terlihat masih terkejut dan seperti tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
"A... Anggota sekte Balumba...."
"Di perintahkan semudah itu?"
"Madika benar-benar sudah terlalu kuat sekarang!"
"Bocah itu! Padahal dia jauh lebih muda dariku, tapi ternyata kekuatannya jauh lebih besar dariku!" Ucap si guru pemandu.
Setelah berkata seperti itu, kini Madika tampak menoleh ke arah Natalia dan yang lainnya saat ini.
Tak butuh waktu lama, kini Madika pun langsung terbang ke arah mereka dan mendekati mereka.
Di belakang Madika juga tampak sesepuh Wilasopu sedang terbang mengikuti Madika dari belakang.
"Apa kalian baik-baik saja?" Tanya Madika saat dirinya mendarat di tanah tepat di depan Natalia dan siswa lainnya.
"Ya... Bisa kau lihat, kami semua baik-baik saja." Jawab si guru pemandu sambil berjalan ke depan kelompok siswa dari akademi Walawatu itu.
"Syukurlah kalau begitu." Balas Madika sambil tersenyum.
Lalu Madika pun menoleh ke arah Natalia. Ia melihat Natalia saat ini tampak sedang memandanginya terus-menerus namun Natalia sama sekali tidak bergerak mendekati Madika.
"Hah..." Madika menghela nafas panjang. Lalu ia berjalan mendekati Natalia.
"Ehm... Lama tidak bertemu." Ucap Madika berbasa-basi membuka percakapan saat dirinya berhadapan di jarak satu meter dengan Natalia.
__ADS_1