
Saat ini, di udara tampak petir yang sangat banyak bagai-kan akar serabut kini menyambar para monster semut yang bergerak ke arah Madika, Aurel dan Askila.
Serangan petir itu berasal dari Askila.
serangan petir itu adalah serangan terakhir dari Askila karena kini energi Nosa milik Askila benar-benar sudah terkuras sangat banyak.
Meski-pun serangan petir Askila itu sangat kuat, namun tampak masih ada beberapa monster semut yang berhasil selamat dari Sambaran petir itu dengan mengguna-kan kemampuan pengendalian tanah milik mereka untuk membuat perisai tanah yang bisa mereka gunakan untuk melindungi diri dari serangan petir itu.
Begitu pula dengan si raja monster semut itu.
si raja semut itu kini terlihat berhasil memblokir serangan petir Askila dengan mencipta-kan sebuah perisai tanah yang melayang di depan tubuh-nya, sehingga serangan petir Askila hanya menghantam perisai itu saja.
Kini Raja semur itu tampak semakin marah, hal itu terbukti karena saat ini si raja semut itu langsung berteriak dengan suara yang sangat keras, dan di saat itu juga para semut-semut lain-nya kini ikut berteriak dengan suara keras sambil maju dengan penuh semangat.
Kini suara gemuruh tanah terus terdengar akibat dari ribuan langkah para semut yang sangat banyak itu.
"maaf tuan, aku cuma bisa sampai di sini saja." ucap Askila yang kini tampak merasa bersalah dan tak bisa berguna bagi tuan-nya.
"tidak perlu berkecil hati Askila.... untuk sekarang sebaik-nya kau beristirahat terlebih dahulu.... entah kenapa tiba-tiba perasan-ku saat ini jadi lebih percaya diri." ucap Madika sambil tersenyum tipis.
"baik tuan, aku akan beristirahat sejenak." ucap Askila dengan patuh dan kemudian duduk dengan tegap di hadapan tuan-nya.
"baiklah, kalau begitu sekarang giliran-ku lagi untuk menyerang." ucap Madika sambil melebar-kan senyum-nya.
Saat ini, Madika merasa tidak akan mudah di kalah-kan oleh semut tersebut.
meski-pun semut itu berada di tingkat pro, akan tetapi Madika saat ini sudah di perlengkapi dengan berbagai senjata yang sangat kuat.
Terlebih lagi saat ini Madika sudah punya dua senjata pusaka, dan satu senjata energi tingkat 10, yakni tongkat kaisar rotan api.
Meski-pun tongkat kaisar rotan api itu belum sempurna, namun Madika merasa bahwa tongkat itu bisa di gunakan untuk membuat berbagai kombinasi serangan.
__ADS_1
Sejak awal Madika memang sudah terpikir-kan untuk mengguna-kan berbagai cara untuk melawan para monster semut ini.
ia bahkan sudah berhasil memikir-kan serangan kombinasi macam apa yang bagus untuk di gunakan dalam keadaan seperti ini.
"baiklah, mari kita coba kombinasi yang pertama dulu." ucap Madika sambil membuat peluru angin.
Madika pun kini terus memproduksi peluru angin sebanyak-banyak mungkin.
ia bahkan kini menghambur-kan semua peluru angin itu di sekitar-nya.
Sementara itu, para semut yang sebelum-nya bergerak ke arah Madika kini berhenti dan mengelilingi Madika di jarak kurang lebih 100 meter.
Lalu raja semut itu pun kini mulai menghentak-kan kaki-nya beberapa kali ke tanah.
seketika itu juga, kini para monster semut lain-nya pun langsung menyiap-kan serangan mereka mengguna-kan elemen tanah.
Kini ribuan semut yang tersisa itu langsung mengaktif-kan kemampuan mereka untuk mengendali-kan tanah.
tanah runcing itu kini melayang di atas para semut itu dengan bagian runcing-nya mengarah kepada Madika dan kawan-kawannya.
Setelah para semut itu sudah selesai menyiap-kan jurus mereka, kini raja semut itu langsung mengeluar-kan suara keras untuk memerintah para bawahan-nya itu untuk menyerang Madika.
Tak butuh waktu lama, kini para monster semut itu pun langsung menyerang Madika dengan cara melesat-kan tanah berujung runcing itu ke arah Madika dan yang lain-nya.
Sementara itu, Madika yang saat ini sudah siap dengan kombinasi jurus-nya kini langsung tersenyum tipis.
ia kemudian menatap dengan yakin ke arah para semut yang menyerang-nya itu.
"langkah dewa angin!" ucap Madika yang kini langsung mengguna-kan langkah dewa angin yang terakhir untuk saat ini.
Kini langkah dewa angin pun langsung mencipta-kan sebuah gelombang angin yang sangat dahsyat sama seperti sebelum-nya.
__ADS_1
Namun kali ini sedikit berbeda karena langkah dewa angin kali ini mengeluar-kan gelombang angin yang kini menerbang-kan semua peluru angin yang Madika buat sebelum-nya.
Sementara itu, tanah runcing yang sebelum-nya di gunakan oleh para semut itu untuk menyerang Madika kini langsung di hantam oleh gelombang angin dari Madika.
Gelombang angin itu pun langsung menghalau serangan tanah runcing itu.
bahkan serangan tanah runcing itu kini terhempas dan langsung terbawa bersama dengan gelombang angin itu.
Hal itu pun membuat gelombang angin Madika itu kini membawa tanah runcing dan peluru angin dalam waktu yang bersamaan.
Dengan demikian, kini gelombang angin pun langsung menghantam semua semut yang ada di sekitar-nya dan tanah runcing yang jumlah-nya ribuan itu kini langsung menusuk para monster semut itu dan membuat banyak monster semut itu terbunuh begitu saja.
Sementara itu, si raja semut yang terkena serangan gelombang angin itu kini terlihat terdorong mundur oleh gelombang angin Madika.
Tidak hanya itu saja, si raja semut itu kini terlihat sedang berusaha menangkis semua tanah runcing yang melesat ke arah-nya mengguna-kan kedua tangan-nya yang ada di bagian depan.
Kini ribuan monster semut yang merupa-kan bawahan si raja semut telah tumbang dan terbunuh.
Gelombang angin Madika pun akhir-nya berlalu, sementara itu tampak di ujung dari pergerakan gelombang itu tampak para monster semut yang sudah terbunuh kini saling menumpuk satu sama lain.
Meski-pun sudah banyak yang terbunuh, namun si raja itu tampak-nya tidak mau menghenti-kan penyerangan-nya terhadap Madika.
Kini raja semut itu kembali memerintah-kan seluruh pasukan-nya untuk bergerak dan melawan Madika.
Si raja semut itu kini langsung menghentak-kan kaki-nya di tanah dengan sangat kesal sambil mengeluar-kan suara-suara yang sangat bising, dan di saat itu juga, kini terjadi gempa yang sangat dahsyat, bahkan sedikit lebih kuat dari gempa yang di buat oleh ratu semut sebelum-nya.
"hati-hati tuan!.... monster semut itu mungkin sedang merencana-kan sesuatu saat ini.... berhati-hati dengan tanah di sekitar anda!.... jangan sampai lengah!" ucap Askila berusaha memberi informasi yang ia ketahui pada tuan-nya itu.
Saat ini Askila benar-benar sangat khawatir pada tuan-nya itu.
bagaimana pun, tuan-nya itu kan masih berada di tingkat Elite, dan itu masih sangat jauh untuk bisa mengimbangi kekuatan tempur dari hewan monster tingkat pro.
__ADS_1