Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Madika Vs Sunsudin


__ADS_3

Lebih dari seratus pasukan musuh telah terbunuh akibat serangan rotan api milik Madika.


Semua yang menyaksikan kejadian itu tentunya terkejut, apa lagi empat pemimpin pasukan yang berada di tingkat Epic tersebut.


Bagaimana tidak, hanya dengan satu serangan saja sudah berhasil membunuh lebih dari seratus orang.


Tidak berhenti sampai di situ saja, Madika yang telah membiarkan tombaknya menancap di tanah kini segera mengeluarkan pusaka raja monster semut yang ia miliki.


Pusaka raja monster semut yang berupa pedang itu pun segera di ayunkan ke atas dan dengan segera Madika mengeluarkan pasukan monster semut dalam jumlah yang banyak untuk menghadapi para pasukan dari pihak musuh.


Lebih dari seribu monster semut di kerahkan dalam pertarungan tersebut.


Sekali lagi, rasa terkejut memenuhi pikiran semua orang.


Mereka tak menyangka akan berhadapan dengan hal yang merepotkan seperti ini.


Para monster mulai bertarung melawan musuh, sementara pasukan dari pihak tuan Samon hanya bisa terdiam menyaksikan hal tersebut.


Mata mereka memandang dengan penuh heran karena para monster itu hanya menargetkan musuh saja dan tidak asal menyerang.


"Kalian semua sebaiknya istirahat saja... Masalah ini cukup serahkan padaku... Kalian semua sudah berjuang untuk bisa menahan mereka selama ini." Ucap Madika dengan tenang namun bisa terdengar oleh seluruh pasukan Balengga.


Mendengar ucapan Madika, mereka semua pun mulai menghela nafas lega.


Beberapa dari mereka segera duduk bersila untuk memulihkan energinya.


Sementara itu, Sunsudin kini sudah selesai menyiapkan jurus miliknya.


Di atas Sunsudin tampak seekor ular petir raksasa dengan mata merah menyala-nyala.


Sunsudin pun segera melesatkan ular petir itu ke arah Madika.

__ADS_1


Madika segera menebaskan pedangnya secara berulang kali ke arah datangnya ular petir raksasa itu sehingga tampak puluhan angin tajam berbentuk bulan sabit melesat dan menghantam kepala ular petir tersebut.


Namun tak satu pun tebasan sabit angin itu yang berhasil melukai si ular petir.


ular petir raksasa itu terus menerobos hingga akhirnya menabrak Madika.


Beruntungnya Madika segera memblokir tabrakan kepala ular itu menggunakan pedangnya.


Meskipun berhasil terblokir, Madika tetap terdorong ke belakang karena kekuatan ular petir yang tidak main-main.


Beberapa meter Madika terdorong ke belakang hingga akhirnya Madika berhasil menahan lesatan ular petir tersebut.


Begitu lesatan ular terhenti, tampak Sunsudin menggerakkan tangannya untuk mengendalikan ular tersebut.


Ular itu pun segera mengangkat kepalanya dan membuka mulutnya lebar-lebar.


Si ular pun kemudian menerkam Madika, namun dengan sangat cepat Madika berhasil menghindari serangan tersebut.


Madika melihat Sunsudin masih mengendalikan naga itu secara langsung, itu berarti naga tersebut tidak ia buat menargetkan lawan secara otomatis.


Ia dengan sengaja membiarkan dirinya masuk ke dalam mulut ular raksasa tersebut seolah musuh berhasil mengalahkan dirinya.


Sunsudin dan yang lainnya langsung tersenyum puas saat melihat ular petir berhasil menelan Madika.


"Hahahaha... Mudah sekali!" Ucap Sunsudin yang masih dalam mode pengendalian manualnya.


Namun, baru saja Sunsudin berkata seperti itu, tiba-tiba tubuh ular petir langsung membengkak dengan tidak normal.


Hingga akhirnya tubuh ular petir itu pun hancur lebur dan ular petir itu langsung meledak dan membuat energi yang Sunsudin gunakan untuk mengendalikannya langsung berbalik dan menghantam Sunsudin.


Sunsudin pun terpental sangat kuat.

__ADS_1


Pendampingnya pun segera menangkap tubuh Sunsudin, namun alhasil keduanya terdorong bersamaan ke belakang.


Hal itu membuat Sunsudin mengalami luka dalam dan ia sempat batuk darah setelah berhenti terhempas.


"Sial!... Apa yang terjadi?!" Bentak Sunsudin sambil melirik ke arah Madika.


Baru saja melihat ke arah Madika, mata Sunsudin pun langsung terbelalak karena terkejut.


Hal itu di karenakan saat ini Madika sedang berada di dalam sebuah bayangan kera raksasa.


Ya, bayangan kera raksasa itu berasal dari pusaka raja kera bayangan yang ia miliki saat ini.


Saat berada di dalam mulut ular petir, Madika segera mengaktifkan perisai angin untuk menghalau petir yang mencoba menyengat tubuhnya. Di saat yang bersamaan, ia juga mengaktifkan pusaka raja kera bayangan dan segera menggunakan jurus kera bayangan raksasa yang terbentuk dari aura hitam padat.


"Baiklah, sekarang siapa lagi yang akan maju melawanku?" Tanya Madika dengan tatapan dingin.


Sunsudin pun menggerakkan giginya. Ia merasa semakin di remehkan.


ia kemudian berdiri dan kembali memunculkan pedang di kakinya agar ia bisa terbang.


"Bocah sialan!... Kau pikir yang barusan itu adalah jurus terkuat ku hah?!... Pertarungan ini baru saja di mulai sekarang!... Kali ini aku akan serius menghadapi mu!" Bentak Sunsudin dengan penuh emosi.


"Sebaiknya kau ikut sertakan juga temanmu yang lainnya jika kau tidak ingin mati dengan mudah." Balas Madika menanggapi dengan penuh percaya diri.


"Bocah sombong!... Sudah ku bilang!... Aku sendiri sudah lebih dari cukup untuk mengalahkan mu!" Bentak Sunsudin yang sangat keras kepala.


Melihat hal itu, Nalelo pun hanya bisa menghela nafas panjang.


"Orang ini benar-benar keras kepala... Biarkan saja dia bertarung sendiri... Kita manfaatkan dia agar kita bisa mengamati kemampuan musuh." Ujar Nalelo memberitahukan pendampingnya yang berdiri di sebelahnya.


"Baiklah." Balas si pendamping patuh.

__ADS_1


Kalau ada yang minat baca karya saya yang lainnya bisa cek di profil author ya...



__ADS_2