
Saat ini Madika sedang berjalan memasuki kelas 2 api, yakni kelas di mana Natalia, Lili, dan Nina berada.
seisi kelas itu tampak bingung dan heran kenapa Madika yang berjalan masuk ke kelas mereka saat guru pengganti sementara di panggil.
Sementara itu, Natalia yang melihat kedatangan Madika saat ini kini hanya bisa terdiam dengan wajah yang tampak mulai memerah lagi.
Setelah Madika tiba di samping Bu Meri, kini Madika pun langsung memperkenal-kan diri-nya sebagai guru pengganti sementara.
"perkenalkan, nama-ku Madika Tumbawani, aku di minta oleh kepala akademi untuk mengganti-kan sementara posisi guru yang akan membantu kalian dalam perburuan kali ini." ucap Madika memperkenal-kan diri sambil tersenyum ramah.
"EEHHHHH!!!!!!"
Seketika seluruh siswa di kelas itu langsung terkejut dengan apa yang Madika katakan.
Dari reaksi mereka, mereka tampak-nya tidak percaya dengan apa yang Madika kata-kan barusan.
"yang benar saja!.... masa seorang siswa di minta mengganti-kan posisi seorang guru yang sedang cuti?" ucap salah satu siswa.
"ya benar!.... lagi pula siapa yang mau mengikuti bocah itu?!..... level-nya bahkan masih berada di bawah level sepuluh!.... aku tidak terima ia menjadi guru pengganti walah hanya sementara!"
"ya itu benar!..... kami tidak akan bisa merasa aman jika dia yang ikut!.... lagi pula masih banyak guru yang lain-nya!.... kenapa bukan guru yang lain-nya saja yang di jadi-kan pengganti sementara?!"
Berbagai ocehan yang tidak mengenakan di telinga kini terdengar.
Madika yang mendengar semua ocehan itu kini hanya bisa menatap mereka sambil tersenyum hambar.
"sudah ku duga akan seperti ini jadi-nya." batin Madika.
Kemarin saat pak kepala akademi memberi tugas ini pada Madika, Madika sempat menolak karena diri-nya tahu pasti diri-nya akan di tolak oleh seluruh siswa yang ada di kelas itu.
namun karena pak kepala akademi terus membujuk-nya Madika pun memutus-kan untuk mencoba.
__ADS_1
"hei!.... Natalia, apa yang sebenar-nya terjadi di sini?.... kenapa Madika di pilih oleh pak kepala akademi untuk menjadi guru pengganti?" tanya Lili dengan ekspresi bingung serta rasa penasaran.
"entah-lah.... aku juga tidak tahu apa alasan-nya.... lagi pula kami baru masuk sehari tapi kenapa Madika sudah jadi seperti ini?" ucap Natalia yang juga terlihat bingung dengan situasi saat ini.
Sementara itu, Bu Meri yang melihat seluruh siswa-nya yang tampak gaduh dan terus menentang Madika kini hanya bisa menghela nafas dengan ekspresi malas.
"hah.... seperti yang ku duga." ucap Bu Meri. Setelah itu Bu Meri pun langsung menoleh ke arah Madika.
"Madika!.... cepat tunjuk-kan surat yang di beri-kan oleh pak kepala akademi pada-mu!" ucap Bu Meri menyuruh Madika untuk mengeluar-kan surat yang berisi-kan perintah pada Madika untuk menjalan-kan tugas-nya sebagai guru pengganti yang akan membantu Bu Meri serta seluruh siswa kelas dua api dalam melakukan perburuan di hutan Bulubete.
"baiklah." jawab Madika singkat sambil mengangguk-kan kepala-nya.
setelah itu Madika pun langsung mengeluar-kan sebuah surat perintah yang berisi-kan arahan dari pak kepala akademi, bahkan di surat itu terdapat tanda tangan kepala akademi.
hal itu pun membuat para siswa terdiam sejenak dan mengamati surat yang ada di tangan Madika saat ini.
"itu.... seperti-nya benar-benar tanda tangan pak kepala akademi." ucap salah satu dari siswa itu.
"apa bocah ini benar-benar pantas menjadi guru pengganti?"
"yang benar saja?.... rasa-nya ini sangat tidak layak!"
Berbagai ocehan mulai terdengar lagi, namun kali ini suara-nya agak sedikit pelan karena mereka mulai ragu untuk meremeh-kan kemampuan Madika, terutama saat melihat surat perintah itu.
"pak kepala akademi tidak mungkin asal memberi-kan perintah seperti itu.... mungkin saja dia memang sudah melampaui kita semua!" ucap salah satu dari siswa itu dengan suara pelan namun bisa di dengar-kan oleh beberapa siswa di dekat-nya terutama Natalia dan kedua teman-nya.
saat Natalia dan kedua teman-nya mendengar ucapan pria itu, kini mereka pun langsung menatap Madika dengan ekspresi yang tampak tidak percaya. namun di balik ekspresi ragu itu, terselip sedikit rasa kagum terhadap Madika.
terutama Natalia dan Nina yang sebelum-nya sudah memiliki hubungan yang akrab dengan Madika.
"mungkin sebaik-nya nanti aku menanya-nya hal ini pada Madika.... apa yang sebenar-nya terjadi?.... apa dia benar-benar sudah melampaui kami semua?" batin Natalia.
__ADS_1
"aku tak peduli itu asli atau bukan!" ucap salah seorang siswa laki-laki sambil menunjuk ke arah Madika. lanjut-nya, "jika memang kau di beri tugas oleh pak kepala akademi! setidak-nya tunjuk-kan kelayakan-mu!.... apa-kah kau benar-benar bisa di andal-kan atau tidak?!" ucap-nya dengan tegas.
"ya benar!"
"jangan hanya menambah beban di perjalanan ini!"
"tunjuk-kan kemampuan-mu jika ingin di percaya!"
"ya benar! tunjukan kalau kau memang merasa pantas untuk posisi itu!"
Kini para siswa mulai gaduh lagi dan memaksa Madika untuk menunjuk-kan kekuatan-nya.
kegaduhan terus berlanjut, bahkan Bu Meri kini hanya bisa memijat kecil kepala-nya ketika melihat kegaduhan itu.
"Madika, seperti-nya ini tidak akan berakhir jika kau tak menunjuk-kan kekuatan-mu yang sebenar-nya pada mereka." ucap Bu Meri sambil menoleh ke arah Madika.
Baru saja Bu Meri berkata seperti itu, kini Natalia pun langsung berdiri dari duduk-nya.
tampak Natalia saat ini sedang pasang ekspresi wajah yang terlihat suram. ia terlihat seperti seseorang yang memiliki rencana jahat.
tatapan-nya begitu tajam dan mengintimidasi.
"apa kalian yang ada di sini bisa mengalah-kan ku?" tanya Natalia sambil tersenyum manis namun kesan-nya terlihat menakut-kan.
Mendengar ucapan Natalia barusan, kini seluruh siswa yang ada di kelas itu langsung terdiam dan segera menoleh ke arah Natalia.
saat seisi kelas menatap mata Natalia, semua-nya langsung merasa-kan ancaman yang sangat menakut-kan.
dari tatapan mata Natalia saja kini sudah berhasil membuat seisi kelas diam karena terintimidasi oleh tatapan serta aura mengerikan yang ia pancar-kan dari tubuh-nya.
"tchi!..... sifat psikopat bocah ini kambuh lagi!" batin salah satu siswa laki-laki saat melihat Natalia.
__ADS_1
"jika di antara kalian saja tidak ada yang berani melawan-ku, lantas kenapa kalian berpikir bahwa pria yang bisa mengalah-kan ku akan menjadi beban?..... bukan-kah justru kalian sendiri-lah yang berpotensi menjadi beban jika masih terus seperti ini?!" ucap Natalia dengan tegas sambil terus mengintimidasi mereka semua.