Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Madika Dan Nono


__ADS_3

Setelah si wasit mengumumkan kemenangan Madika melawan Sugiono, kini Madika langsung keluar dari arena pertarungan itu.


"sebaik-nya aku jajan sesuatu dulu sebelum lanjut ke pertarungan berikut-nya." ucap Madika yang kemudian berlalu dari arena pertarungan.


Saat ini Madika terlihat sedang berjalan di salah satu koridor yang ada di bawah stadion arena pertarungan.


di sana ia berpapasan dengan salah seorang pemenang yang akan lanjut ke babak berikut-nya.


orang itu adalah Nono.


dia adalah siswa yang bertarung dan menang di awal pertarungan satu lawan satu ini.


kemampuan-nya sebagai seorang pengguna Saga es cukup bagus. ia adalah anak yang cukup berbakat. ia bahkan bisa meningkatkan level-nya lebih cepat dari para siswa lain-nya.


Saat Madika berpapasan dengan-nya dalam jarak kira-kira 20 meter. Madika tiba-tiba merasakan hawa dingin di mana-mana.


selain itu, kini dinding dan lantai koridor di sekitaran mereka tampak membeku dan di selimuti oleh es tipis.


es tipis itu menjalar dari arah Nono hingga akhir-nya mencapai Madika.


Madika yang melihat hal itu tetap tenang. diri-nya tampak tidak terlalu peduli dengan teknik pembekuan area dari Nono.


ia hanya melihat sekitar-nya hanya dengan menoleh pelan dan santai.


"ingin mengintimidasi diri-ku?..... tidak semudah itu!" batin Madika sambil tersenyum tipis.


"kau yang nama-nya Madika kan?.... barusan itu benar-benar pertarungan yang sangat menarik." ucap Nono.


"langsung katakan saja apa tujuan-mu sampai-sampai menggunakan salah satu teknik es yang kau miliki?" tanya Madika ayang tidak ingin terlalu lama berbasa-basi dengan Nono.


"hahahaha kau terlalu buru-buru.... apa kau takut pada-ku hah?" balas Nono yang balik bertanya dengan ekspresi dan nada suara yang angkuh.


Nono saat ini terlihat sedang meremehkan Madika.


karena pada dasar-nya Nono memang memiliki kemampuan yang berada di atas Sugiono.

__ADS_1


bagi Nono, Madika yang bisa menang melawan Sugiono itu hanyalah keberuntungan karena lawan Madika memang lemah.


akan tetapi, jika Madika bertarung dengan diri-nya, ia yakin bahwa diri-nya bisa mengalahkan Madika.


"teknik angin-mu barusan itu benar-benar luar biasa, akan tetapi jangan berbangga diri dulu.... karena lawan-mu hanyalah Sugiono yang tidak berguna itu.... dia mungkin memang kuat, tapi dia masih belum sebanding dengan-ku.... aku jauh lebih kuat dari Sugiono." ucap Nono membanggakan diri-nya dengan penuh semangat serta keangkuhan.


"hah...." Madika menghela nafas dengan ekspresi lesu. "satu lagi orang yang terlalu percaya diri dan angkuh.... padahal diri-nya sendiri masih belum bertarung langsung dengan-ku tapi sudah berani meremehkan-ku." batin Madika.


"jika kau memang merasa lebih kuat dari-ku, maka cobalah membuktikan-nya!.... bukan mengucapkan-nya!" ucap Madika sambil berseringai.


lalu Madika pun kembali melanjutkan langkah-nya yang sempat terhenti oleh ulah Nono.


Nono yang mendengar ucapan Madika pun kini tampak mulai kesal karena Madika sama sekali tidak peduli tentang diri-nya.


kini Madika berjalan di samping-nya dan langsung melewati diri-nya tanpa menoleh ataupun berkata apa-apa.


Saat kedua-nya saling membelakangi, kini Nono pun langsung memutar tubuh-nya dan menghadap pada Madika yang saat ini masih berjalan menjauh dari-nya.


"hoi!.... apa kau tak tahu kau sedang bicara dengan siapa hah?" ucap Nono yang kini terlihat mulai kesal melihat tindakan Madika.


Madika yang mendengar pertanyaan itu malah terus berjalan.


Tak lama setelah Madika berkata seperti itu, tiba-tiba Madika di serang dari belakang menggunakan pedang es.


Sebuah pedang es yang cukup besar kini melesat ke arah Madika.


Madika yang bisa merasakan bahwa Nono sedang menyerang-nya kini dengan refleks langsung bergerak ke samping tanpa menoleh sedikit-pun. hal itu pun kini membuat pedang milik Nono meleset dan langsung menancap ke lantai koridor.


"tchi... dasar orang yang tidak sabaran.... kau pikir dengan cara ini kau bisa menunjuk-kan kemampuan maksimal-mu?.... dasar bod0h... lakukan-lah nanti jika sudah di arena pertarungan." ucap Madika sambil memutar kepala-nya dan menatap Nono tanpa memutar tubuh-nya.


Nono yang mendengar ucapan Madika itu kini hanya tertawa dengan ekspresi meremehkan.


"hahahaha.... apa kau setakut itu di serang oleh-ku.... ayolah, itu hanya gertakan, kemampuan-ku yang sebenar-nya jauh lebih menakutkan dari serangan yang barusan." ucap-nya membanggakan diri.


Sementara itu, Madika yang mendengar perkataan Nono kini merasa sedikit tertantang karena diri-nya benar-benar sudah di remehkan oleh Nono.

__ADS_1


"gertakan?.... haha...." ucap Madika sambil tertawa kecil. "itu yang kau sebut gertakan?.... yang benar saja." ucap Madika yang kemudian mengangkat satu kaki-nya sambil memfokuskan saga-nya untuk menciptakan serangan. "biar ku tunjuk-kan pada-mu bagaimana cara memberikan gertakan yang benar."


Setelah berkata seperti itu, kini Madika pun mulai melangkahkan satu kaki-nya ke depan.


ketika kaki-nya menapaki lantai, tiba-tiba tercipta tekanan angin yang sangat kuat berhembus ke segala arah dan menghantam apa saja yang ada di koridor itu.


bahkan tekanan angin itu menghantam Nono hingga Nono terdorong ke belakang.


hal itu pun membuat Nono harus berusaha mempertahankan tubuh-nya agar tetap berdiri meskipun tubuh-nya sedang terdorong ke belakang.


"apa sekarang kau mengerti?" tanya Madika setelah membuat Nono terdorong mundur oleh teknik langkah angin milik-nya.


Nono yang mendengar hal itu kini langsung terlihat terkejut.


hal itu di karenakan ia tidak menyangka bahwa diri-nya akan terdorong mundur seperti itu hanya karena langkah angin saja.


"langkah angin milik-nya jauh lebih kuat dari freon!.... apa jangan-jangan dia lebih kuat dari freon?.... tidak mungkin! ini benar-benar mustahil." batin Nono yang berusaha menyangkal dan tak mau mengakui kemampuan Madika.


Madika yang melihat Nono yang enggan mengakui kemampuan-nya kini hanya diam sambil tersenyum tipis seolah sedang mengolok Nono.


"sebaik-nya persiapkan diri-mu dengan baik di pertarungan berikut-nya." ucap Madika yang kemudian langsung berlalu dari tempat itu.


~SKIP~


Saat ini Madika berada di salah satu ruangan khusus yang di jaga oleh beberapa guru.


di ruangan itu terdapat tubuh asli Madika yang sedang duduk bersila.


di ruangan itu kini hanya tersisa lima belas pengguna Polinjanyawa yang tersisa. salah satu-nya adalah Madika.


kedatangan Madika ke sini karena diri-nya ingin kembali ke tubuh asli-nya.


lalu ia pun langsung menekan sebuah tombol yang ada di alat Polinjanyawa yang ada di tangan tubuh asli-nya.


seketika tubuh kedua Madika langsung lenyap dan tubuh asli Madika langsung terbangun.

__ADS_1


"hah.... sebaik-nya aku makan dulu.... makan menggunakan tubuh kedua hanya akan membuat-ku berpikir kenyang, tapi kenyataan-nya tidak." batin Madika.


Kemudian Madika pun berdiri dan berlalu dari tempat itu.


__ADS_2