Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Melawan Monster Lipan


__ADS_3

Saat ini Madika tengah di perhadap-kan dengan seekor hewan monster jenis lipan yang ukuran-nya sebesar batang kelapa.


Lipan raksasa itu saat ini berada di tingkat Elite level 2. dengan kata lain, lipan raksasa itu masih belum lama mencapai tingkat elite.


Sebelum-nya Madika berhasil menghempas-kan lipan itu hingga menabrak sebuah pohon besar hingga pohon tersebut tumbang bersama dengan jatuh-nya si lipan raksasa itu.


Madika yang melihat hal itu kini langsung pasang kuda-kuda untuk melawan lipan tersebut.


ia memegang pedang-nya di depan wajah-nya sambil menatap lipan itu dengan serius.


"seperti-nya akan sedikit sulit berhadapan dengan hewan monster yang satu ini!" ucap Madika dalam hati.


"tapi tidak masalah, lagi pula aku punya Askila, jika aku berhasil di pojok-kan oleh lipan raksasa ini, maka aku akan langsung memanggil Askila dengan cepat." ucap Madika dalam hati.


Sementara itu, lipan yang sebelum-nya terhempas dan menabrak pohon kini langsung menoleh ke arah Madika dan ia langsung mengeluar-kan suara keras yang menunjuk-kan bahwa saat ini ia sedang marah.


Lalu lipan raksasa itu pun langsung menyembur-kan racun dari mulut-nya secara bertubi-tubi.


Semburan racun itu melesat ke arah Madika.


Madika yang melihat hal itu kini langsung melompat ke berbagai arah untuk menghindari cairan beracun itu.


Saat Madika mendarat di salah satu dahan pohon, Madika pun langsung memuncul-kan senjata energi-nya yakni sebuah pedang ganda elemen angin.


Setelah itu dengan segera Madika melompat ke arah lipan raksasa itu sambil memutar tubuh-nya seraya melaku-kan tebasan memutar ke arah lipan itu dengan kecepatan yang luar biasa.


Seketika wajah lipan itu berhasil terkena tebasan memutar dari Madika.


namun karena lipan itu sempat membuat sebuah perisai api di depan-nya kini tebasan Madika pun hanya menghantam perisai api itu.


Madika yang melihat hal itu kini berusaha memaksa-kan serangan-nya dengan sekuat tenaga.

__ADS_1


seketika terjadilah ledakan yang cukup dahsyat yang kini membuat lipan raksasa dan Madika langsung terdorong ke belakang.


Madika pun kini mendarat ke tanah, namun karena efek ledakan itu cukup kuat mendorong Madika ke belakang, kini Madika pun terpaksa menancap-kan kedua pedang-nya di tanah agar bisa menahan tubuh-nya sehingga tidak terseret lebih jauh lagi dari ini.


"sial.... rupa-nya pertahanan hewan monster yang satu ini ternyata cukup kuat juga!" batin Madika yang kini langsung berdiri tegak dan menatap tajam ke arah lipan itu.


Sementara itu, si lipan yang juga terpental ke belakang kini terlihat sedang mencoba berdiri dengan benar.


saat berhasil berdiri ia langsung terlihat menggeleng-kan kepala-nya karena ternyata serangan Madika barusan berhasil menghancur-kan perisai api si lipan raksasa itu sehingga terjadi ledakan yang membuat mereka terpental.


Karena merasa kesal, kini lipan itu langsung berteriak lagi dengan suara khas-nya.


seketika di udara tepat-nya di sekitaran lipan raksasa itu muncul berbagai benda tajam yang terlihat seperti sebuah jari dengan kuku runcing dan memiliki warna layak-nya sebuah lahar.


Bentuk benda tajam itu mirip dengan kaki yang di miliki oleh si lipan raksasa itu, dan tak butuh waktu lama, tampak benda-benda tajam mirip kaki itu langsung menyala dan memancar-kan cahaya bagai-kan lahar.


Di waktu yang hampir bersamaan dengan itu, kini benda tajam bagai-kan kaki lipan itu langsung melesat ke arah Madika.


Sementara itu, Madika yang sedang di serang secara bertubi-tubi itu kini terlihat sibuk menangkis semua benda tajam itu mengguna-kan kedua pedang di tangan-nya.


Dengan berbagai macam variasi gerakan yang luar biasa Madika terus menebas semua serangan yang melesat ke arah-nya.


Sesekali Madika melaku-kan gerakan memutar di udara, berpindah dari satu pohon ke pohon lain-nya dengan cepat sambil menebas, hingga akhir-nya Madika pun langsung mendarat ke tanah sambil membuat sebuah perisai angin di depan-nya.


Madika kini semakin cepat dalam menanggapi serangan lawan-nya.


"seperti-nya aku bisa mengalah-kan lipan raksasa ini tanpa bantuan dari Askila." pikir Madika.


Saat ini tujuan Madika adalah menjadi-kan hewan monster yang lebih kuat dari-nya itu sebagai bahan latihan.


Biar bagaimana pun, hewan yang kemampuan-nya jauh di atas Madika itu tentu saja tidak akan langsung kalah meski-pun sudah terkena serangan telak.

__ADS_1


karena pada dasar-nya, salah satu kemampuan unggulan hewan monster adalah ketahanan fisik yang luar biasa dan sulit untuk di lukai.


Jadi, dengan melawan hewan monster sambil berusaha meminimalisir penggunaan jurus-jurus yang kuat tentu akan membuat insting dan skill bertarung Madika akan semakin terasah dan akan semakin membaik.


Mulai dari cara merespon serangan lawan, memperkira-kan segala situasi dan gerakan selanjut-nya serta berbagai hal lain-nya pasti akan semakin terasah dengan baik.


Tak lama setelah Madika mengguna-kan perisai angin-nya, kini terlihat bahwa perisai angin Madika tidak sanggup bertahan lama dari serangan lipan raksasa itu.


Perisai angin Madika kini terlihat mulai retak dan hingga akhir-nya perisai angin itu pun hancur.


Bersamaan dengan hancur-nya perisai angin itu, kini lipan raksasa itu terlihat berlari cepat ke arah Madika sambil terus melancar-kan serangan yang sebelum-nya.


Lipan itu melompat ke udara dan dengan cepat menembak-kan cairan beracun ke arah Madika.


Madika yang menyadari hal itu dengan cepat menangkis beberapa benda tajam mirip kaki lipan sebelum-nya untuk membuka jalan agar diri-nya bisa menghindari semburan cairan beracun dari mulut lipan itu.


Kini Madika pun langsung melompat ke samping sambil menebas beberapa benda tajam yang melesat ke arah-nya, sehingga serangan dari lipan raksasa itu tak ada yang mengenai diri-nya.


baik itu serangan cairan beracun atau-pun serangan benda tajam mirip kaki lipan.


Sementara itu, serangan cairan beracun itu kini mengenai rumput dan beberapa tanaman lain-nya.


saat tanaman itu terkena serangan racun itu, tampak tanaman itu langsung layu bahkan terlihat hampir mengering.


"aku benar-benar harus berhati-hati." ucap madika dalam hati.


Setelah itu, kini Madika pun mendarat di sebuah dahan pohon.


setelah diri-nya mendarat di dahan pohon itu, Madika pun langsung terlihat mengangkat kedua pedang-nya itu dan terlihat seolah menyatu-kan kedua pedang itu di atas kepala-nya.


Kini kedua pedang itu langsung memancar-kan cahaya biru pudar yang cukup terang.

__ADS_1


Madika saat ini seperti-nya sedang menyiap-kan sebuah jurus yang belum pernah ia pakai di kehidupan-nya sebagai Madika.


__ADS_2