
Saat ini tampak begitu banyak tamu yang mulai berkerumun sambil memperhati-kan Madika dan Nia yang sedang berhadapan dengan orang-orang mabuk di depan mereka, yakni Emi, ayah-nya, Liga, serta beberapa kenakan dan rekan Liga.
Sementara itu, Emi kini terus merengek sambil memukul-mukul kecil lengan atas Nia mengguna-kan kedua tangan-nya.
"aahh.... Nia sangat curang." ucap Emi yang terus merengek seperti anak kecil.
"ya ampun Emi.... aku benar-benar sudah sangat mabuk, sebaik-nya kau dengar-kan dulu penjelasan-ku baik-baik oke." ucap Nia mencoba membujuk Emi.
"tidak mau!" rengek Emi.
"ya ampun, rasa-nya seperti mau mati saja." ucap Madika sambil menelan ludah dengan kasar saat melihat tatapan orang-orang di sekeliling-nya.
"tolong jangan mati dulu!" ucap Nia yang langsung menoleh ke arah Madika dengan ekspresi panik serta wajah yang masih memerah karena malu.
"aku tak sanggup lagi.... ku serah-kan sisa-nya pada-mu." ucap Madika yang tampak serius.
Tiba-tiba pandangan Madika mulai kabur, dan ia mendadak pusing serta keseimbangan tubuh-nya kini memburuk.
"sial.... kekuatan tingkat legendaris itu benar-benar sangat membebani tubuh-ku.... lain kali aku tak boleh terlalu sering menggunakan-nya!" batin Madika yang kemudian langsung pingsan begitu saja.
Kini Madika pun terjatuh dan hilang kesadaran begitu saja.
hal itu di karenakan ia masih merasa-kan efek dari kekuatan Saga tingkat legendaris yang sangat membebani tubuh-nya yang seharus-nya tidak boleh mengguna-kan kekuatan tersebut.
Melihat Madika yang saat ini terjatuh, kini mereka semua terlihat bingung dengan apa yang terjadi pada Madika, sementara itu, Nia yang sebelum-nya menoleh ke arah Madika kini dengan cepat menyambut kepala Madika yang hampir membentur lantai sehingga kini Nia pun dengan sigap menangkap tubuh Madika, ia pun dengan segera meletak-kan kepala Madika di atas paha-nya.
"m.... Madika, kau baik-baik saja?... hei...." ucap Nia sambil menampar pelan wajah Madika beberapa kali.
__ADS_1
Di sisi lain, Liga yang sudah sangat mabuk itu kini malah semakin salah paham dengan apa yang terjadi, bahkan ia makin memperburuk situasi Madika dan Nia saat ini.
"Nia!..." ucap Liga dengan lantang menunjuk Nia.
"ka.... kau sudah terlalu berlebihan memaksa Madika hingga semua dari diri-nya terkuras habis oleh-mu!" ucap Liga yang berdiri sempoyongan itu.
"hei!! jangan mengata-kan hal yang membuat situasi makin panas seperti itu!" teriak Nia yang wajah-nya makin memerah dan terasa panas.
Sementara itu, Tago kini hanya bisa menutup mata-nya mengguna-kan telapak tangan-nya sambil memijat kecil kening-nya.
"tidak ku sangka putri-ku ternyata sampai se-brutal itu saat berhubungan dengan seorang pria.... dia sampai memaksa Madika hingga Madika kehilangan semua tenaga-nya." ucap Tago yang tampak seolah menyembunyi-kan wajah-nya dari putri-nya itu.
"itu tidak benar!!" teriak Nia yang makin terlihat panik dan kewalahan menghadapi para pemabuk itu.
"aku tak melakukan apa pun dengan Madika!.... jadi bisa-kah kalian berhenti berbicara yang tidak-tidak?!" ucap Nia sedikit kesal. lalu Nia menoleh ke arah sekerumunan orang yang tengah memperhati-kan diri-nya.
"dan kalian semua!.... bisa-kah kalian berhenti menatap-ku seperti itu?!.... aku jadi merasa sangat tidak nyaman!" ucap Nia sambil menutup mata-nya mengguna-kan kedua tangan-nya
"hei Niaaaa....." Emi yang sedang mabuk berat langsung memegang bahu Nia dan mengguncang-nya pelan.
"bagaimana rasa-nya!.... ayo beri tahu aku, aku sangat penasaran!" ucap Emi dengan tubuh yang sempoyongan dan tatapan mata yang terlihat sayu.
"Emi.... kau benar-benar sudah sangat mabuk, sebaik-nya kau berhenti minun dan berhenti pula menanyai-ku tentang hal-hal yang tidak benar." ucap Nia mencoba menegur Emi.
"ehhh.... apa sampai seenak itu sehingga kau tak tahu harus bagaimana menjelas-kan rasa-nya pada-ku?" tanya Emi dengan polos-nya.
"mulut-mu semakin sembarangan Emi.... tolong jangan buat situasi ini semakin memburuk.... ku mohon!!" teriak Nia yang kini semakin tersiksa oleh rasa malu akibat ulah-nya sendiri.
__ADS_1
"hoi.... Madika!.... cepat bangun dan bantu aku menjelas-kan pada mereka bahwa semua ini hanya salah paham saja!" ucap Nia yang wajah-nya masih terus memerah sambil menepuk-nepuk pelan wajah Madika.
"hehehe.... Nia, kenapa kau malu-malu mengakui-nya?" ucap Emi menggoda sahabat-nya itu sambil menunjuk pipi Nia dan menenggalam-kan jari telunjuk-nya ke pipi Nia.
Nia yang sudah tak tahan lagi dengan semua yang di kata-kan oleh orang-orang mabuk itu kini langsung berteriak dengan keras.
"kalian semua sudah salah paham!!" teriak Nia dengan wajah yang terlihat seperti mau menangis.
********
Saat ini, tampak Madika sedang terbaring di atas ranjang yang sebelum-nya ia dan Nia tempati saat Madika mencoba menanya-kan tentang informasi dari pecahan tongkat kaisar rotan api berikut-nya.
Dari bagian leher sampai kaki Madika tampak di tutupi dengan selimut, dan di samping Madika terlihat Nia yang sedang duduk di sebuah kursi dan ia terus menatap Madika dengan seksama.
Kini Nia terlihat sedang pusing memikir-kan kejadian sebelum-nya saat ia masih di tempat acara itu.
"huh..... berurusan dengan orang-orang mabuk itu benar-benar sangat merepot-kan." ucap Nia dalam hati.
Setelah berkata seperti itu, kini Nia kembali menatap Madika dengan tatapan yang lembut, ia seperti tidak puas menatap wajah Madika yang sedang tidak sadarkan diri saat ini.
"kau sudah terlalu memaksa-kan diri-mu Madika.... namun hal itu lah yang membuat diri-ku semakin kagum pada-mu." ucap Nia dalam hati sambil mengingat kembali perkataan seorang dokter yang sebelum-nya memeriksa keadaan Madika saat ini.
Sebelum-nya saat Madika di bawa ke kamar Nia, saat itu Madika langsung mendapat perawatan dari seorang dokter.
dokter itu berkata bahwa saat ini Madika sedang tidak sadar-kan diri karena diri-nya mengalami beberapa luka dalam yang cukup parah.
Menurut dokter tersebut, luka dalam yang di alami oleh Madika adalah luka yang di akibat-kan oleh kekuatan Madika sendiri dan tidak ada tanda-tanda bahwa luka itu berasal dari serangan orang lain.
__ADS_1
Dokter itu pun menyimpul-kan bahwa kemungkinan jurus domain yang sangat kuat yang di gunakan oleh Madika itu adalah jurus yang sangat kuat sehingga jurus itu membebani tubuh-nya sendiri, dan bahkan, mungkin saja saat di dalam domain Madika sempat mengguna-kan jurus berbahaya lain-nya yang seharus-nya tidak boleh ia pakai sebelum mencapai tingkat tertentu.
Begitu-lah kesimpulan yang di sampai-kan dokter itu pada Nia dan ayah-nya yakni Tago.