Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Area Terbatas


__ADS_3

Mendengar teguran dari Nina, Madika pun segera menepis pandangan-nya.


"ehmm.... maaf." ucap Madika.


"huh...." Nina menghela nafas dengan ekspresi malas.


Madika bangun dan hendak duduk, namun dengan cepat Nina menahan Madika dan kembali menarik kepala Madika ke pangkuan-nya.


"sebaik-nya kau istirahat dulu.... lagi pula tadi kau sudah memberi-ku waktu untuk istirahat.... sekarang giliran-ku yang berjaga, jadi kau lebih baik istirahat saja dulu." jelas Nina.


"tap...."


Ucapan Madika terhenti karena kini jari telunjuk Nina mendarat di bibir-nya.


"tidak usah banyak bicara, kau baru tertidur selama satu jam, dan karena tubuh-mu terluka maka sebaik-nya kau beristirahat lebih banyak." jelas Nina.


Madika pun kini pasrah karena memang saat ini tubuh-nya masih terasa sakit, dan tenaga-nya juga banyak yang terkuras sehingga ia merasa tubuh-nya seolah berat untuk berdiri.


"baiklah...." ucap Madika sambil menghela nafas.


"oh iya, bicara soal tubuh-ku, aku berterima kasih karena kau sudah membersihkan luka-ku." ucap Madika sambil tersenyum ke arah Nina.


Sementara itu, Nina yang mendengar ucapan terimakasih itu kini terlihat seperti orang yang sedang malu-malu.


ia kemudian memalingkan wajah-nya yang tampak sedikit memerah agar tak di lihat oleh Madika.


"tidak perlu berterimakasih, lagi pula hanya karena aku mengobati luka-mu bukan berarti aku melupakan perbuatan-mu pada-ku sebelum-nya." ucap Nina.


"iya-iya.... maaf soal itu." ucap Madika sambil menutup mata-nya menggunakan tangan-nya.


Setelah itu Nina pun kembali menyandarkan tubuh-nya ke batang pohon yang ada di belakang-nya.


<----->

__ADS_1


Tak terasa kini pagi telah tiba. matahari perlahan menampak-kan sinar-nya.


cahaya matahari itu kini perlahan menyinari wajah Nina yang sedang tertidur bersandar di batang pohon.


saat mata-nya terkena sinar matahari itu, kini Nina pun terjaga. ia perlahan membuka mata-nya. karena merasa silau, Nina pun menggunakan tangan-nya untuk menghalau cahaya matahari yang masuk ke mata-nya.


Sejenak ia diam. namun tak lama setelah itu ia tampak sedikit tersentak dan dengan cepat melihat ke arah pangkuan-nya karena ia tidak lagi merasa ada beban di pangkuan-nya itu.


benar saja, Madika yang semalam tidur di pangkuan-nya kini tidak terlihat lagi.


ia menoleh ke segala arah untuk mencari Madika. namun ia tak melihat Madika di sekitaran tempat itu.


Nina pun kini langsung berdiri.


ia mulai melangkah keluar dari balik semak yang menutupi tempat mereka beristirahat itu.


saat Nina keluar, ia melihat Madika yang sedang berjalan santai ke arah-nya.


"rupa-nya kau sudah bangun." ucap Madika yang kini sudah menggunakan kembali baju-nya.


"aku baru saja selesai mencuci wajah-ku sekaligus minum air." jawab Madika jujur.


"ohh.... pantas saja wajah-mu tampak lebih cerah dari semalam." balas Nina.


Setelah itu Nina pun berjalan melewati Madika.


"kalau begitu sebaik-nya aku mau membersihkan wajah-ku juga." ucap-nya sambil terus berjalan.


Melihat Nina yang terus berjalan menuju sungai, Madika pun langsung mengikuti-nya dari belakang.


Satu jam setelah Madika dan Nina memulai pagi-nya, kini muncul sebuah drone di udara.


drone itu membawa sebuah speaker pembesar suara. lalu dari speaker itu terdengar suara wali kelas memberikan pengumuman untuk siswa yang tersisa di dalam hutan.

__ADS_1


"selamat pagi para siswa-ku sekalian, selamat bagi kalian yang sudah bisa bertahan hingga hari ini, dan hari ini latihan-nya akan memulai ke tahap ke dua...." ucap salah satu wali kelas melalui drone yang tersebar di seluruh penjuru hutan. lanjut-nya. "dalam latihan gabungan tahap ke dua ini, kami memberikan sebuah aturan khusus.... mulai dari sepuluh menit setelah pengumuman ini selesai, maka wilayah penggunaan alat Polinjanyawa akan di batasi, dan batas wilayah-nya akan terus menyusut sejauh 500 meter setiap 10 menit..... untuk menandai batas wilayah alat Polinjanyawa, kalian cukup melihat cahaya merah yang menyelimuti hutan..... jadi selama bertarung, berusahalah untuk tetap berada di dalam lingkaran cahaya merah itu, karena jika kalian keluar dari cahaya merah itu, maka alat Polinjanyawa kalian akan berhenti berfungsi dan kalian langsung di diskualifikasi..... baiklah, cukup sekian penyampaian bapak, bapak harap kalian semua mengerti dengan isi penyampaian bapak barusan..... selamat bertarung wahai para calon ksatria!" ucap wali kelas itu panjang lebar melalui sebuah speaker yang di bawa oleh drone itu.


Mendengar penjelasan barusan, kini Nina dan Madika pun langsung saling memandang satu dengan yang lain.


"seperti-nya kita tidak akan bisa beristirahat terlalu lama." ucap Nina.


"kau benar, cepat atau lambat kita pasti akan bertarung lagi secara terpaksa.... ini benar-benar latihan yang keras." balas Madika.


"hah..... benar-benar merepotkan." balas Nina sambil menghela nafas dengan ekspresi malas.


Sepuluh menit-pun berlalu, dan kini tampak seluruh drone yang membawa speaker itu kini memancarkan cahaya merah. cahaya itu di arahkan dari atas ke bawah sehingga tampak terbentuk sebuah lingkaran cahaya yang sangat luas di seluruh penjuru hutan.


Beberapa saat setelah lingkaran batas itu muncul, tiba-tiba suara dari speaker itu terdengar lagi, dan kali ini kembali menyampaikan pemberitahuan.


"pembatas area telah aktif dan mulai menyusut dalam 10, 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2, 1...... BIIIIIPPP"


Batas area pun kini menyusut setelah terdengar bunyi BIIIIIPPP.


sementara itu, Nina dan Madika tampak masih tenang-tenang saja karena kedua-nya masih berada di dalam area aman.


"untuk sekarang sebaik-nya kita tidak bertindak ceroboh." ucap Madika dengan ekspresi serius.


"kalau begitu apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Nina.


"untuk sekarang kita tunggu hingga batas area berada dekat dengan kita, setelah itu kita mulai lagi mencari tempat aman untuk bersembunyi.... inti-nya kita harus bisa bertahan sampai akhir." jelas Madika.


"baiklah." balas Nina sambil mengangguk. "aku sependapat dengan hal itu, untuk sekarang kita gunakan strategi-mu itu." ucap-nya menanggapi.


Setelah itu, kini Madika dan Nina pun mulai menunggu hingga batas area bisa mereka lihat dengan jelas.


sementara itu, saat ini beberapa kelompok lain-nya yang masih tersisa sudah ada yang mulai bergerak untuk masuk ke area paling dalam dari lingkaran area terbatas itu.


Tak lama setelah itu, kini terdengar lagi pemberitahuan bahwa area mulai menyusut lagi.

__ADS_1


Beberapa saat setelah pemberitahuan itu, tiba-tiba muncul seorang pria yang tidak sengaja langsung masuk ke tempat persembunyian Madika dan Nina.


Nina sontak terkejut karena pria itu tiba-tiba muncul. namun Madika dengan cepat langsung refleks menciptakan pedang angin dan menodong leher pria itu.


__ADS_2