
Saat ini Nia yang sedang di tindih oleh Madika kini hanya bisa pasrah. ia tampak sama sekali tak berniat untuk melawan Madika meski-pun sebenar-nya ia tak mengingin-kan Madika melakukan sesuatu pada diri-nya.
"untuk saat ini aku hanya bisa pasrah saja, meski-pun sebenar-nya aku tak mengingin-kan Madika melakukan sesuatu pada diri-ku, namun jika ia tetap memaksa seperti ini.... maka aku hanya bisa pasrah saja dan menganggap ini sebagai hadiah ucapan terimakasih ku pada-nya karena telah menolong ku." ucap Nia dalam hati.
Wajah Nia semakin memerah, sementara Madika yang saat ini sedang berada di atas-nya kini terus menatap Nia dan sedang mencoba memaksa Nia untuk berbicara.
"jika kau tidak memberitahu-kan informasi itu sekarang maka aku tidak akan segan-segan pada-mu!" ucap Madika sambil mengelus perut di bagian bawah pusar Nia, namun bukan di bagian alat vit@l-nya.
"ahh!!"
Nia tiba-tiba mengeluar-kan suara yang bisa membuat otak serang lelaki langsung berfantasi liar.
ia bahkan terlihat langsung memejam-kan mata-nya sambil mengkerut-kan kening-nya karena saat ini ia mencoba menahan rasa geli dari sentuhan tangan Madika.
Madika yang melihat hal itu kini langsung menatap Nia dengan ekspresi malas karena tujuan Madika malah tidak bisa ia realisasi-kan pada Nia.
"ta1-lah!.... dia malah menikmati-nya." ucap Madika dalam hati sambil menatap Nia dengan ekspresi malas.
"kalau begini sih dia tidak akan bicara, dan ancaman-ku pun jadi sia-sia saja."
Setelah berpikir seperti itu, Madika pun memilih untuk segera mengakhiri posisi-nya saat ini.
ia kini kembali duduk di samping Nia.
"hah.... benar-benar merepot-kan." batin Madika.
Sementara itu, Nia yang menyadari Madika yang saat ini sudah tidak lagi menindih tubuh-nya kini perlahan membuka mata-nya dan kemudian menoleh ke arah Madika yang ada di samping-nya.
"ke.... kenapa berhenti?" tanya Nia sedikit ragu.
"hah?...." Madika langsung menoleh ke arah Nia.
"memang-nya kau benar-benar yakin mau membiar-kan ku begitu saja bermain dengan tubuh-mu itu?.... lagi pula bukan-kah kau sendiri kelihatan-nya tidak mengingin-kan hal itu?" jawab Madika dengan bentuk pertanyaan.
__ADS_1
Nia yang mendengar jawaban itu kini hanya bisa diam, ia kemudian langsung memaling-kan wajah-nya dari Madika.
"ti.... tidak, aku tak menginginkan-nya." jawab Nia jujur. lanjut-nya, "hanya saja aku...."
Nia menggantung-kan perkataan-nya, ia tampak seolah sedang ragu untuk mengata-kan tentang perasaan-nya yang menekan diri-nya untuk memberikan sesuatu pada Madika.
Namun, Madika yang melihat ekspresi Nia itu kini langsung mencoba menebak jalan pikiran Nia saat ini.
"apa kau berpikir bahwa ucapan terimakasih saja tidak cukup karena aku sudah menyelamat-kan nyawa-mu dan nyawa ayah-mu?" tanya Madika mencoba memasti-kan sambil terus menatap Nia.
Nia pun langsung menoleh saat Madika mengata-kan hal tersebut.
Melihat sikap Nia yang dengan cepat menoleh ketika Madika menebak, maka kini Madika pun merasa cukup yakin bahwa memang itu permasalahan yang sedang di alami Nia saat ini.
"biar ku perjelas pada-mu, jika kau memang merasa permintaan maaf saja tidak cukup, maka kau cukup berikan informasi yang ku ingin-kan sekarang juga.... itu sudah lebih dari cukup ketimbang harus memberi-kan kesucian-mu pada-ku!" ucap Madika dengan tegas memberi penjelasan.
Mendengar ucapan Madika itu, kini Nia pun perlahan bangun dan duduk, namun ia tampak tidak berani menatap Madika secara langsung.
"a.... apa kau yakin itu benar-benar sudah cukup?" tanya Nia yang terdengar ragu-ragu dan tampak malu-malu menatap Madika.
"itu sudah lebih dari cukup." jawab Madika dengan segera dan tanpa ragu.
Sejenak mereka berdua terdiam, tak satu pun dari mereka mulai berbicara, bahkan Nia sendiri pun tidak langsung memberitahu-kan informasi tentang tongkat kaisar rotan api itu pada Madika.
Hingga akhir-nya Nia pun mulai buka suara.
"kau pasti merasa jijik pada diri-ku yang sekarang karena aku terkesan terlalu murah di hadapan-mu." ucap Nia yang terlihat murung dan sedih.
Madika yang melihat ekspresi dan mendengar ucapan Nia itu kini merasa sedikit bersimpati pada gadis bertubuh mungil di hadapan-nya itu.
Madika pun kini mengangkat tangan kanan-nya dan meletakan-nya di atas kepala Nia.
lalu ia mengelus kepala Nia dengan lembut.
__ADS_1
"jika kau memang berpikir seperti itu, maka lain kali jangan berbuat demikian lagi.... kau harus bisa menjaga martabat-mu dengan baik oke." ujar Madika menasehati Nia sambil tersenyum ramah.
Nia hanya bergumam sambil mengangguk-kan kepala-nya.
"tenang saja.... hanya kau-lah satu-satunya orang yang ku perlakukan seperti, aku tidak akan begini di depan orang lain." ucap Nia menanggapi perkataan Madika barusan.
"bagus-lah.... kalau begitu maka aku sangat beruntung karena hanya aku orang yang sudah melihat sisi lain diri-mu yang ternyata se-imut ini." ucap Madika dengan nada menggoda Nia.
"uhmm." gumam Nia sambil mengangguk sekali.
wajah Nia pun saat ini tampak masih memerah, dan hal itu terlihat semakin membuat wajah-nya tampak manis.
"jadi sekarang bisa-kah kau beritahu informasi itu?" tanya Madika sekali lagi.
Nia pun tampak perlahan mengangkat tangan kanan-nya, lalu ia mengguna-kan ibu jari dan jari telunjuk-nya memegang lengan baju Madika dan sedikit menarik-nya.
"aku akan mengatakan-nya sekarang, tapi boleh-kah aku meminta sesuatu lagi dari-mu?" tanya dia tanpa menoleh ke arah Madika.
"hah.... baik-lah, apa yang kau ingin-kan dari-ku?" jawab Madika yang tampak pasrah dengan tindakan Nia saat ini.
Mendengar ucapan Madika, kini Nia pun menoleh ke arah Madika, tampak wajah Nia saat ini seolah sedang mengharap-kan Madika untuk menyetujui keinginan-nya saat ini.
"bi..... bisa-kah kau berjanji untuk tetap di tempat ini selama dua hari ke depan?" tanya Nia penuh harap.
Madika kini mencoba untuk mengerti dan berniat mencari tahu alasan Nia yang terlalu ngotot menghalangi diri-nya.
"kenapa kau sangat ingin menghalangi-ku.... kau pasti punya alasan sendiri kan?" ucap Madika menanggapi. "apa tak bisa kau beri tahu alasan-mu itu pada-ku?"
"ehmm...." Nia hanya bergumam, wajah-nya tampak semakin memerah saat di tanyai oleh Madika seperti itu.
"a.... aku sedikit malu memberitahu-mu langsung.... tapi...." Nia menggantung-kan perkataan-nya.
sementara itu Madika kini terlihat sedang bersabar menunggu Nia melanjut-kan ucapan-nya itu.
__ADS_1