Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Ketua Klan Petir


__ADS_3

Kini si ketua klan menyerang lagi mengguna-kan laser naga halilintar milik-nya.


Serangan laser naga itu terjadi serentak, dan Madika yang melihat serangan itu kini langsung memutar tongkat-nya dengan cepat dan lincah, setelah itu ia menghentak-kan ujung tongkat-nya ke tanah.


Kemudian dengan segera Madika pun mengangkat tangan kiri-nya ke depan dengan posisi telapak tangan terbuka.


"Perisai Bayangan!!"


Suara Madika terdengar cukup keras dan seketika itu pula terbentuk-lah perisai bayangan yang sangat besar yang kini melindungi monster bayangan yang di kendali-kan oleh-nya.


Hal itu pun membuat serangan laser halilintar yang keluar dari mulut para naga langsung menghantam perisai bayangan tersebut.


"Perisai ini cukup untuk menahan-nya sebentar!" Ucap Madika yang kemudian melapisi seluruh peluru angin buatan-nya mengguna-kan bayangan yang di bentuk meruncing layak-nya sebuah belati.


Sementara itu, si ketua klan yang melihat serangan laser-nya berhasil di blokir oleh perisai bayangan Madika kini langsung melakukan tebasan sambil memutar tubuh-nya di udara.


Seketika itu juga para naga halilintar itu langsung menembak-kan laser-nya dengan lebih kuat lagi.


Hal itu pun membuat perisai bayangan milik Madika langsung mengalami keretakan.


Retakan itu perlahan membesar dan akan segera hancur.


Namun Madika yang kini sudah siap dengan peluru angin yang di kombinasi-kan dengan jurus bayangan milik-nya langsung mulai bergerak.


Madika langsung menembak-kan peluru angin yang kini terlihat seperti sebuah belati itu.


Wujud peluru angin milik Madika kini berbeda dari sebelum-nya.


Kini wujud luar-nya seperti sebuah belati hitam dengan sebuah benda lonjong di bagian tengah belati itu.


Benda lonjong berwarna putih kebiruan itu adalah peluru angin yang sebenar-nya, sementara belati hitam itu merupakan salah satu jurus dari pusaka raja kera bayangan.

__ADS_1


Kini belati beserta peluru angin yang ada di dalam-nya itu melesat keluar dari perisai milik Madika.


Belati-belati yang membawa peluru angin itu langsung memaksa masuk ke dalam mulut para naga halilintar itu.


Namun karena para naga halilintar itu sedang menembak-kan laser, jadi belati itu agak sulit untuk masuk dan perlahan wujud belati itu terkikis oleh dorongan dari laser petir yang ada di mulut si naga halilintar itu.


Hingga akhir-nya seluruh wujud belati bayangan telah lenyap, namun berkat bantuan belati bayangan itu, kini peluru angin berhasil masuk lebih jauh ke dalam mulus para naga halilintar itu.


"Sial!... Bocah itu ternyata punya pertahanan yang sangat kuat!" Ucap si ketua klan dalam hati.


"Kalau begitu sebaik-nya ku kombinasi-kan jurus-ku sendiri dengan jurus-jurus dari pedang pusaka ini!" Ucap-nya lagi memutus-kan untuk segera mengguna-kan kekuatan penuh-nya.


Baru saja berkata seperti itu, kini Madika pun tampak langsung menjentik-kan jari-nya, dan seketika itu juga seluruh kepala naga halilintar langsung meledak begitu saja.


"Apa yang terjadi?!" Ucap si ketua klan yang kini terlihat sangat terkejut dan tidak tahu apa-apa.


"Kau tak perlu tahu, karena saat ini kau akan segera mati." Ucap Madika sambil menatap tajam ke arah ketua klan itu.


"Aku tak bicara omong kosong, karena itu-lah aku akan segera membukti-kan hal itu pada-mu." Ucap Madika lagi.


Begitu Madika selesai berkata seperti itu, kini tepat di bawah kaki Madika muncul bayangan hitam.


Lalu Madika pun kemudian perlahan masuk ke dalam bayangan hitam itu sambil melontar-kan beberapa kata pada ketua klan itu.


"Setiap orang memiliki bayangan! Namun, orang-orang malah berpikir bahwa bayangan itu adalah sesuatu yang tampak pada bidang datar atau-pun pada bidang yang tak datar! Akan tetapi mereka semua lupa bahwa selama ada cahaya, maka bayangan pun pasti ada, dan di saat tak ada cahaya sekali-pun, bayangan akan tetap ada, karena kegelapan itu sendiri, adalah salah satu unsur bayangan."


Ucap Madika sambil tersenyum layak-nya seorang psikopat.


"Mau lari ke mana kau bajingan!!" Bentak si ketua klan sambil melepas-kan serangan tebasan petir yang sangat kuat ke arah Madika.


Namun begitu petir berbentuk bulan sabit itu mencapai tempat Madika, kini Madika sudah tak ada lagi, dan bahkan bayangan yang ia gunakan sebelum-nya langsung menghilang begitu saja.

__ADS_1


"Sial!... Kemana lari-nya bocah itu?!" ucap si ketua klan dengan ekspresi kesal.


Si ketua klan pun langsung menoleh ke berbagai arah untuk mencari keberadaan Madika.


Tidak lupa pula ia mengguna-kan jurus pendeteksian milik-nya untuk mendeteksi posisi Madika saat ini.


Namun sayang-nya keberadaan Madika sama sekali tak bisa ia deteksi mengguna-kan kemampuan-nya karena pada dasar-nya Madika saat ini memang sedang berada di dalam dimensi yang berbeda, yakni dimensi bayangan.


"Tchi!!... Dia berhasil lolos dari-ku!" Bentak si ketua klan yang semakin emosi membara.


"Selamat ulang tahun!!" Ucap Madika dengan sangat meriah sambil menarik kaki ketua klan itu untuk masuk ke dalam dimensi bayangan milik-nya.


Seketika si ketua klan langsung terkejut ketika ia mendengar suara dari bawah kaki-nya.


Ia sama sekali tak menyangka kalau Madika akan muncul di bawah kaki-nya mengguna-kan sebuah bayangan yang ada di bawah kaki-nya itu.


Seperti yang di kata-kan oleh Madika sebelum-nya, selama ada cahaya, maka bayangan itu juga pasti ada meski-pun ia masih belum terbentuk pada sebuah bidang yang ada di belakang objek yang terkena cahaya tersebut.


"Bocah sialan!!" Bentak Ketua klan sambil mengumpat Madika dan mencoba menebas Madika.


Namun usaha-nya untuk menebas Madika berujung gagal karena kini ia sudah berada di dimensi bayangan di mana Madika bisa bergerak sangat cepat dan leluasa di dimensi ini.


Ketua klan itu menebas Madika, namun Madika tiba-tiba menghilang begitu saja dari hadapan si ketua klan.


Hal itu kembali membuat ketua klan itu terkejut dan semakin kesal dengan tindakan Madika.


"Bocah sialan!" Umpat-nya saat melihat Madika yang tiba-tiba muncul jauh di depan-nya. "Berani-beraninya kau mempermain-kan ku!" Bentak ketua klan.


"Dari tadi kau terus mengumpat ku, tapi sampai sekarang kau sama sekali tak bisa menyentuh-ku." Ucap Madika dengan ekspresi datar.


"Diam kau bocah!" balas si ketua klan sambil mengangkat pedang-nya ke depan dan mengarahkan-nya pada Madika.

__ADS_1


Seketika itu juga Madika langsung hilang dari pandangan si ketua klan itu, dan di saat yang bersamaan si ketua klan itu pun terkejut melihat tangan kanan-nya yang memegang pedang itu kini terpotong menjadi dua dan tangan itu pun terputus jatuh begitu saja.


__ADS_2