
Madika kini tampak berhasil menghindari semua tebasan petir yang melesat ke arah-nya.
ia saat ini tampak terus terbang dengan cepat sementara si Udin terus mengejar-nya.
Udin kini langsung melompat lagi ke atas dinding dan setelah itu ia melompat ke arah Madika.
namun karena Madika kini lebih cepat dari-nya, kini Madika pun berhasil menjaga jarak dari si Udin.
Udin yang saat ini masih berada di udara kini langsung membuat sebuah tombak petir yang sangat besar, ia bahkan tak bisa memegang tombak petir itu sehingga tombak petir itu hanya melayang di atas telapak tangan-nya.
lalu dengan segera ia mengguna-kan teknik kuncian dan mengunci Madika sebagai target-nya.
setelah itu ia pun langsung melempar-kan tombak petir raksasa itu ke arah Madika.
Madika yang saat ini sedang terbang tampak menoleh ke belakang dan melihat serangan itu, dan dengan segera Madika pun mencari cara untuk mengatasi serangan itu.
Kini Madika langsung terbang ke samping dengan sangat cepat untuk menghindar. namun tampak-nya tombak itu juga berbelok arah mengikuti pergerakan Madika.
Melihat hal itu Madika pun kini sadar bahwa kemungkinan-nya tombak itu sedang menarget-kan diri-nya.
Madika kemudian menatap ke depan lorong itu, dan tampak di depan sana ada persimpangan lorong.
Madika pun langsung mempercepat terbang-nya.
ia menghentak-kan sayap-nya di udara dan menghasil-kan sebuah ledakan energi yang kini mendorong-nya semakin cepat ke arah yang ia ingin-kan.
Tombak itu terus bergerak dengan cepat mengejar Madika, dan saat Madika tiba di persimpangan lorong itu, kini Madika pun langsung berbelok secara tiba-tiba saat diri-nya hampir menabrak dinding yang ada di depan-nya.
Karena Madika yang langsung berbelok secara mendadak, kini tombak raksasa di Udin itu pun langsung mencoba berbelok mengincar Madika, namun sayang-nya kecepatan-nya membuat tombak itu langsung menghantam dinding dengan sangat kuat hingga terjadi ledakan yang sangat dahsyat yang mengakibat-kan sedikit gempa di sekitar mereka.
Dinding yang di tabrak oleh tombak petir itu kini tampak berlubang dan hancur berantakan.
banyak puing-puing dinding itu berserakan di lantai dan tampak asap hasil ledakan kini memenuhi persimpangan lorong tersebut.
__ADS_1
Saat ini Madika dengan cepat mendarat ke lantai.
ia langsung menghenti-kan peredaran Saga di dalam tubuh-nya guna menipu si Udin.
Sementara itu, Udin yang saat ini tertinggal cukup jauh kini langsung terkejut saat merasa-kan bahwa keberadaan Madika sudah tidak ada lagi.
ia mendeteksi Madika mengguna-kan jurus pendeteksian-nya namun tak bisa menemukan keberadaan Madika.
Hal itu pun membuat ia berpikir bahwa kemungkinan Madika sudah terbunuh akibat ledakan dari tombak petir-nya itu.
Ia pun kini langsung melesat masuk ke dalam gumpalan asap tebal yang ada di persimpangan lorong itu, dan dengan segera ia melompat ke arah kanan tepat ke arah Madika berbelok sebelum-nya.
Baru saja Udin melompat ke arah kanan dan keluar dari asap itu, tiba-tiba Udin langsung merasa-kan kembali keberadaan Saga Madika, dan di saat yang bersamaan tiba-tiba sebuah tangan menusuk tubuh Udin dari belakang hingga menembus dada-nya.
Hal itu pun sontak membuat Udin terkejut dan membelalak-kan mata-nya.
ia benar-benar terkejut dan langsung terbatuk-batuk.
"uhuk-uhuk!"
seketika itu juga Udin langsung tahu bahwa jantung yang sedang di pegang oleh tangan itu adalah jantung-nya yang di keluar-kan oleh tangan itu dari tubuh-nya.
Lalu Udin melihat dari dada-nya itu kini mengalir darah dalam jumlah yang sangat banyak.
darah-nya mulai membasahi tubuh-nya, sehingga beberapa area pakaian-nya tampak berwarna merah akibat tercampur dengan darah.
Lalu Udin pun menoleh ke belakang dengan perlahan sambil mempertahan-kan nafas-nya yang terasa sudah sangat sulit untuk di tarik.
ia kini melihat Madika yang sedang berdiri di belakang-nya dengan posisi sebagian tangan kanan-nya masih berada di dalam tubuh Udin.
"si.... sial@n kau bocah!!.... trik apa yang sebenar-nya sedang kau gunakan?!" tanya Udin dengan ekspresi kesal di wajah-nya.
Madika kini hanya menatap Udin dengan tatapan dingin. ia bahkan enggan memberi-kan jawaban untuk pertanyaan si Udin.
__ADS_1
"kau tak perlu mengetahui-nya!.... lagi pula orang yang akan segera mati tak perlu tahu apa-apa tentang-ku." ucap Madika dengan pasti.
lalu Madika pun langsung menarik kembali tangan-nya yang saat ini masih memegang jantung Udin yang tampak masih sedikit berdetak.
ia menarik-nya dengan tiba-tiba hingga terjadi hentakan yang cukup kuat.
Setelah Madika menarik kembali tangan-nya, kini si Udin pun langsung jatuh ke lantai, sementara Madika yang saat ini terbang pakai sayap kini langsung turun dengan perlahan.
"hah...." Madika menghela nafas panjang. dari raut wajah-nya bisa terlihat bahwa saat ini ia merasa sangat lega karena berhasil mengalah-kan Udin.
"yang tadi itu benar-benar pertarungan yang merepot-kan.... jika tadi sekali lagi aku terdesak, mungkin aku akan menunjuk-kan tongkat kaisar rotan api milik-ku untuk melawan-nya." ucap Madika dalam hati.
lalu Madika pun tidak sengaja menoleh ke samping dan ia mata-nya pun kini langsung mendapati sekelompok kupu-kupu dengan berbagai macam warna serta bentuk dan pola sayap yang beragam.
"apa kupu-kupu memang suka di tempat beginian?.... sejak dari luar sampai di dalam reruntuhan kuno ini aku selalu bertemu dengan sekelompok kupu-kupu, entah apa yang membuat hal itu terjadi.... apa benar ini hanya sebuah kebetulan?" batin Madika bertanya-tanya.
Setelah berkata seperti itu, kini Madika pun beranjak dari tempat-nya.
kali ini ia akan segera kembali ke tempat Askila yang sedang bertarung melawan Kinto dan para rekan-nya.
******
Saat ini tampak Askila sedang bertahan melawan Kinto.
kekuatan Askila saat ini terbagi-bagi dengan para kloning-nya, hal itu pun membuat ia tak bisa mengguna-kan kekuatan penuh-nya untuk menghadapi si Kinto.
"tchi!.... kalau saja aku bisa mengguna-kan kekuatan maksimal-ku!.... maka sudah ku pasti-kan kau mati sekarang juga!!" bentak Askila sambil menghentak-kan tubuh-nya hingga terjadi ledakan energi yang cukup kuat yang membuat Kinto yang ada di depan-nya tampak terdorong ke belakang.
Sementara itu, saat Kinto berhenti terdorong, kini Kinto langsung mengelap darah yang mengalir di pinggiran bibir-nya pakai tangan.
"hahaha.... mati?!..... tidak mungkin!" ucap Kinto dengan penuh percaya diri.
Saat ini Kinto dan Askila tampak sudah banyak mengalami luka-luka akibat pertarungan sengit mereka.
__ADS_1
sementara itu kekuatan Askila saat ini terbilang setara dengan Kinto karena Askila terlalu banyak membuat kloning untuk melawan para rekan si Kinto yang ternyata juga tak boleh di anggap remeh.