
Madika kini tak tahu lagi harus melakukan apa agar bisa mengembali-kan energi Saga dalam tubuh-nya.
ia kini hanya bisa bertaruh untuk satu hal, yaitu melakukan penjelajahan pulau bahkan lautan yang ada di sekitar pulau itu.
"aku tak tahu apakah ini benar untuk ku lakukan.... tidak ada penjelasan apa yang terjadi di tempat ini, tapi, jika memang semua mahluk di sini sudah tak memiliki energi, maka kemungkinan-nya ada sesuatu di tempat ini yang menyerap segala jenis energi." batin Madika mengira-ngira. lanjut-nya, "mungkin aku harus melakukan penjelajahan sambil berusaha bertahan hidup!" ucap-nya dengan tegas.
Setelah cukup lama berpikir, kini Madika pun kembali ke dalam akar pohon itu.
ia pun menemui Natalia dan berniat memberitahu-kan pada Natalia keputusan yang ia buat.
saat Madika baru melewati satu akar yang menghalangi pandangan-nya, tiba-tiba Natalia menabrak Madika tanpa di sengaja.
Natalia yang tadi-nya berlari keluar karena senang saat kaki-nya sembuh kini langsung menabrak Madika.
hal itu pun membuat kedua-nya terjatuh di tanah.
Natalia kini berada di atas tubuh Madika. sejenak kedua-nya hanya terdiam saling menatap. hingga akhir-nya Madika pun mulai bicara.
"seperti-nya kaki-mu sudah sembuh." ucap Madika mengungkit luka di kaki Natalia.
"uhm." gumam Natalia sambil mengangguk sekali. setelah itu Natalia pun langsung berdiri.
Setelah Natalia sudah berdiri, kini Madika pun juga ikut berdiri.
sesudah itu Madika pun mulai memberitahu-kan rencana-nya pada Natalia.
ia mengajak Natalia untuk menjelajah pulau besar ini sambil mencari tahu apa penyebab energi Saga mereka bisa menghilang secara tiba-tiba bahkan tak bisa di pulih-kan.
"bagaimana?.... apa kau setuju dengan hal itu?" tanya Madika pada Natalia.
"aku setuju, lagi pula jika kita terus berada di sini maka semua akan sia-sia, kita tidak akan tahu apa-apa tentang dunia bawah tanah ini." ucap Natalia. lanjut-nya sambil memaling-kan wajah-nya dari Madika. "tapi.... bagaimana jika ternyata memang tidak ada jalan keluar dari tempat ini?" ucap Natalia yang terlihat pesimis.
"jangan pesimis seperti itu.... untuk sekarang kita harus tetap berusaha dan optimis..... namun jika memang tak ada jalan lagi, itu berarti kita berdua harus hidup di tempat ini untuk selama-nya." ucap Madika.
__ADS_1
kemudian Madika langsung meletak-kan tangan-nya di kepala Natalia sambil tersenyum.
"tenang saja, aku akan melindungi-mu jika ada bahaya yang mengincar kita." ucap Madika berusaha menenang-kan rasa khawatir Natalia.
"untuk sekarang kita pergi ke sungai dulu.... saat aku mencari tanaman obat tadi aku melihat ada sungai di pulau ini." ucap Madika.
"baiklah." balas Natalia sambil mengangguk.
Setelah itu mereka berdua pun bersiap dan kini berangkat ke sungai yang di maksud oleh Madika.
setelah cukup lama berjalan, kini mereka tiba di sungai itu.
begitu mereka tiba, Madika pun tanpa membuang-buang waktu langsung mengambil beberapa batu di tempat itu.
lalu batu itu ia pecah-kan dan kemudian ia tajam-kan ujung-nya hingga berbentuk seperti mata tombak.
meski-pun mengalami beberapa kegagalan saat menajamkan batu itu, namun akhir-nya Madika tetap berhasil membuat-nya.
selain tombak, Madika juga membuat sebuah pisau dan busur.
lalu Madika pun memberi-kan busur itu pada Natalia.
"kau gunakan busur ini untuk membantu-ku saat aku bertarung." ucap Madika sambil menyerah-kan busur dan anak panah pada Natalia.
"ternyata kau lumayan terampil juga ya." ucap Natalia sambil mengulur-kan tangan-nya dan menerima busur itu dari tangan Madika.
"aku hanya pernah melihat senjata seperti ini sebelum-nya." ucap madika sambil mengingat tentang kehidupan lama-nya.
Setelah semua persiapan sudah di buat, kini mereka berdua pun langsung memulai perjalanan mereka untuk menjelajahi hutan yang luas di pulau itu.
di pulau itu hanya ada tiga gunung yang saling berdekatan.
luas pulau itu benar-benar cukup besar untuk di jelajahi, dan yang jelas-nya untuk bisa menjelajahi keseluruhan pulau itu membutuh-kan waktu yang cukup lama.
__ADS_1
Madika dan Natalia pun memulai penjelajahan mereka. berbagai petualangan baru sedang menanti mereka.
berbagai kesulitan kini harus di hadapi bersama.
kedua-nya kini harus bisa berusaha lebih keras lagi untuk saling bekerjasama agar bisa bertahan hidup di tengah hutan belantara yang di penuhi oleh hewan monster yang ganas.
hari-hari mereka kini di penuhi dengan pengalaman-pengalaman baru, terutama saat mereka harus membuat strategi dan kerjasama untuk melawan monster yang membahaya-kan. bahkan dalam hal berburu dan memasak pun mereka selalu bekerjasama.
tanpa di sadari seiring berjalan-nya waktu, hari demi hari, kini hubungan mereka berdua pun semakin dekat dan semakin akrab.
hingga akhir-nya tampak Natalia telah bosan dan putus asa untuk melakukan penjelajahan di karena-kan penjelajahan mereka sama sekali tidak membuah-kan hasil.
Saat ini Madika dan Natalia sedang duduk dan beristirahat di bawah pohon yang cukup besar.
tampak mereka berdua sedang membakar daging hasil buruan mereka saat ini.
sementara itu, Natalia yang saat ini sedang membalik-kan daging-daging itu di atas bara api kini terlihat sedang memikir-kan sesuatu sehingga gerakan-nya saat membalik daging-daging itu tampak lambat.
bahkan saat ini Madika bisa menangkap dari ekspresi Natalia bahwa saat ini Natalia sedang memikir-kan sesuatu karena ia terlihat sedikit melamun.
"apa yang kau pikir-kan?" tanya Madika sambil mendekati Natalia dan kemudian duduk di samping Natalia sambil membantu-nya membalik-kan daging-daging itu.
"ehm...." Natalia bergumam sambil menoleh ke arah Madika yang saat ini berada di samping-nya. "aku hanya sedang berpikir, apakah kita akan terus seperti ini?.... sudah sangat lama kita menjelajah namun tidak tau arah dan tujuan.... tak ada perkembangan, tak ada yang di hasil-kan.... rasa-nya sangat melelahkan." ucap Natalia yang tampak sedikit mengeluh.
Mendengar keluhan Natalia itu, kini Madika hanya bisa diam.
diri-nya juga sebenar-nya sudah merasa lelah dengan perjalanan mereka yang tidak jelas ada-nya.
"sejujur-nya aku juga berpikir demikian, hanya saja, apakah kita boleh menyerah hanya karena hal seperti itu?" ucap Madika.
Mendengar jawaban Madika, kini Natalia pun hanya menghela nafas dengan ekspresi lesu.
"aku juga tak berniat menyerah, tapi bisa-kah kita hentikan perjalanan kita untuk sementara waktu?.... kita sudah sangat lama melakukan perjalanan, dan selama ini kita hanya singgah istirahat makan dan tidur sejenak, setelah itu langsung melanjut-kan perjalanan lagi." ucap Natalia yang tampak berusaha menjelas-kan maksud dari ucapan-nya sebelum-nya.
__ADS_1