Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Serangan Gupo Dan Kindo


__ADS_3

Setelah Madika mendekat-kan satu pecahan tongkat kaisar rotan api dengan dua pecahan lain-nya yang sudah tersambung sebelum-nya, kini satu pecahan yang masih terpisah itu mulai terhubung dengan dua pecahan lain-nya.


Tampak di ujung tongkat itu terlihat semacam serabut-serabut energi menjalar dan saling berlilitan dengan serabut energi yang ada di kedua pecahan tongkat yang sudah tersambung.


Perlahan serabut energi dari pecahan dua tongkat serta pecahan satu tongkat mulai saling melekat dan saling menarik satu sama lain.


hal itu pun membuat tongkat itu kini semakin merapat dan memulai penyambungan kembali.


Setelah beberapa saat kemudian, kini pecahan tongkat kaisar rotan api itu pun sudah tersambung dan kini sudah ada tiga tongkat yang menjadi satu.


"bagus, aku tinggal mencari yang satu-nya lagi, setelah itu tujuan-ku selesai!" ucap Madika dalam hati.


"setelah mendapat-kan kembali semua pecahan dan menyatu-kan semua-nya, maka tongkat kaisar rotan api akan menunjuk-kan wujud asli-nya, dan saat itu lah, aku akan kembali menemui Natalia.... ku harap dia baik-baik saja saat ini." ucap Madika dalam hati.


Setelah itu, kini Madika pun mengguna-kan energi Saga-nya untuk menarik tongkat yang masih melayang di udara itu.


setelah itu ia pun menyimpan tongkat itu ke dalam ruang penyimpanan milik-nya.


sesudah itu ia pun langsung menoleh ke tugu yang ada di sebelah-nya.


ia melihat di tugu itu ada satu kotak berukuran 30 X 30 cm.


Madika pun mendekati tugu itu dan kemudian membuka kotak tersebut.


Saat Madika membuka kotak tersebut, tiba-tiba dari dalam kotak itu terpancar cahaya yang sangat silau dengan warna cahaya-nya berwarna emas.


Seketika Madika pun langsung menutup mata-nya pakai tangan karena cahaya itu benar-benar sangat silau.


Tak lama setelah itu, kini cahaya yang sangat silau itu pun perlahan pudar hingga akhir-nya menghilang.

__ADS_1


lalu Madika pun kembali melihat ke dalam kotak tersebut, dan saat ia melihat isi-nya, kini ia sedikit terkejut melihat isi dari kotak tersebut.


Isi kotak itu adalah sebuah mahkota yang tampak sederhana namun tampak seperti terbuat dari emas.


namun yang membuat Madika terkejut bukan-lah hal itu, melain-kan karena Madika bisa melihat potensi bahwa mahkota itu masih bisa jadi lebih kuat atau lebih tepat-nya masih bisa berevolusi seiring peningkatan kekuatan si pengguna.


dengan kata lain, semakin tinggi tingkat si pengguna, maka semakin kuat pula para pasukan kera yang di dapat-kan.


"ini benar-benar sebuah pusaka yang sangat bagus!" ucap Madika bersemangat.


"asal-kan aku terus bertambah kuat, maka para pasukan kera yang ku guna-kan nanti-nya juga akan jadi lebih kuat lagi." ucap Madika dalam hati sambil tersenyum.


~WHUUUSSSS~


Ratusan anak panah melesat ke arah Madika dari belakang.


Madika yang menyadari hal itu kini langsung mengibas-kan tangan kiri-nya ke samping dan seketika itu juga sebuah perisai setengah lingkaran terbentuk dan melindungi tubuh Madika dari serangan anak panah yang tampak terbuat dari elemen petir.


"tidak ku sangka, baru saja selesai menyatu-kan tongkat kaisar rotan api kini aku harus langsung berhadapan dengan sesuatu yang merepot-kan." ucap Madika dengan ekspresi malas.


Setelah itu Madika pun langsung berbalik badan dan langsung menyembunyi-kan mahkota itu di belakang tubuh-nya, dan kini ia pun melihat dua kelompok berbeda sedang berjalan mendekati diri-nya.


Dua kelompok itu tampak familiar di mata Madika karena pakaian yang mereka gunakan sama persis dengan pakaian yang di gunakan oleh sekte Balumba dan klan petir yang sebelum-nya sudah ia bantai.


hal itu pun membuat Madika kini menyimpul-kan bahwa orang-orang ini adalah orang-orang dari sekte Balumba dan klan petir.


Madika yang melihat hal itu kini langsung menyimpan mahkota itu ke dalam ruang penyimpanan milik-nya tanpa sepengetahuan orang-orang yang ada di depan-nya saat ini.


Sementara itu, dua kelompok yang baru datang itu kini langsung menatap Madika dengan ekspresi angkuh.

__ADS_1


mereka adalah kelompok yang di pimpin oleh Kindo dan Gupo.


"hie bocah, ku dengar-dengar kau memiliki sebuah tongkat yang sangat bagus, bukan-kah akan sia-sia jika tombak yang bagus itu jatuh ke tangan orang yang tak berguna seperti-mu?" ucap Gupo dengan nada menghina serta memandang rendah pada Madika.


Madika yang mendengar ucapan Gupo kini langsung pura-pura bodoh.


"tongkat?.... tongkat apa yang kau maksud?" tanya Madika yang berpura-pura tidak tahu.


"jangan pura-pura bodoh bocah, mumpung kesabaran-ku masih ada, jadi sebaik-nya kau beri-kan tongkat itu secara damai pada-ku, karena jika tidak...."


Gupo sengaja menggantung-kan perkataan-nya dengan tujuan memberi intimidasi pada Madika.


namun Madika yang mendengar hal itu kini hanya terlihat biasa-biasa saja, diri-nya sama sekali tak menganggap bahwa itu adalah sebuah ancaman yang berarti.


"ah.... aku ingat..." ucap Madika sambil tersenyum tipis. "aku punya satu tongkat nih.... kalo lagi tegang panjang-nya bisa sampe 15 cm.... tapi sayang-nya aku tak bisa memberi-kan itu pada-mu.... lagian kau kan juga punya tongkat yang seperti itu!" ucap Madika dengan senyum bodoh di wajah-nya.


Gupo yang mendengar lelucon Madika itu pun langsung emosi.


ia menghentak-kan tubuh-nya dan seketika aura membunuh yang sangat kuat langsung keluar dari tubuh-nya serta menekan tubuh Madika.


"jangan bercanda kau bocah!!" bentak Gupo dengan emosi yang meninggi.


"apa kau masih belum paham situasi hah?!.... apa perlu di hajar dulu baru mengerti?!" bentak Gupo lagi.


Sementara itu, Madika yang saat ini terkena aura dari Gupo pun langsung merasa-kan beban yang cukup berat dari aura itu.


"sial.... orang ini seperti-nya tahu cara memperkuat aura milik-nya!" ucap Madika yang saat ini tubuh-nya mulai gemetar menahan berat dari aura Saga yang penuh dengan niat membunuh itu.


Sementara itu, Gupo yang melihat Madika yang masih bisa bertahan di bawah tekanan aura-nya kini jadi sedikit terkejut melihat hal itu.

__ADS_1


"hohh.... tidak ku sangka kau bisa bertahan di bawah tekanan aura-ku." ucap Gupo sambil menatap Madika dengan angkuh dan kemudian menyilang-kan kedua tangan-nya di depan dada. lanjut-nya, "tapi kira-kira berapa lama lagi kau bisa bertahan hah?!.... mari kita lihat!" ucap-nya lagi


"tchi.... aura milik orang ini benar-benar lebih kuat dari yang ku pikir-kan!.... tapi ini masih belum seberapa!... aku masih bisa melawan-nya!" batin Madika sambil menatap Gupo dengan tatapan tajam.


__ADS_2