
Setelah Madika mendengar-kan semua yang di sampai-kan oleh Liga, kini Madika pun langsung pulang.
Setelah Madika sudah tiba di depan rumah penginapan, ia pun langsung masuk ke tempat itu dan kemudian langsung pergi ke kamar-nya.
Setelah sampai di kamar-nya, Madika pun mulai membaring-kan tubuh-nya ke atas ranjang.
"hari ini benar-benar cukup melelah-kan." ucap Madika sambil menutup mata-nya mengguna-kan tangan kanan-nya.
Saat ini Madika masih belum tertidur, entah karena hal apa Madika merasa-kan sebuah firasat buruk.
ia merasa gelisah dan hal itu membuat-nya tidak bisa tertidur.
Setelah beberapa waktu yang cukup lama, tiba-tiba Madika merasa-kan aura Saga yang cukup besar.
Madika yang tadi-nya berusaha menutup mata-nya kini langsung melebar-kan mata-nya.
ia kemudian langsung menoleh dan menatap ke langit-langit kamar.
Tak lama setelah itu tiba-tiba Madika mendengar suara dari atas atap.
baru saja suara itu terdengar, Madika pun langsung melompat turun dari ranjang-nya.
Di saat yang hampir bersamaan tampak sebuah tombak petir turun dari langit menghancur-kan ranjang Madika.
Madika yang melihat hal itu langsung menelan ludah-nya dengan kasar.
"beruntung aku masih sempat menghindar..... tidak ku sangka kalau firasat buruk ini benar-benar nyata!" batin Madika.
Tak lama setelah itu kini seluruh orang yang menginap di tempat itu langsung keluar dari rumah penginapan saat mendengar kekacauan itu.
Mereka semua tampak-nya menyadari bahwa tempat itu sedang di serang.
Sementara itu, Madika yang kini melihat ranjang-nya hancur berkeping-keping serta lantai dua yang ia tempati saat ini hancur kini hanya bisa menatap sambil berpikir bahwa pemilik rumah penginapan ini pasti akan rugi besar malam ini.
__ADS_1
"hadeh.... seperti-nya mereka sudah mulai bergerak malam ini." batin Madika.
Tak lama setelah itu kini muncul seorang pria turun dari atap rumah yang sudah hancur itu.
ia berhenti tepat di hadapan Madika.
"tidak ku sangka kau bisa menghindari serangan dadakan dari-ku." ucap pria itu dengan ekspresi datar.
Lalu pria itu pun merentang-kan tangan kanan-nya ke samping.
seketika tombak petir yang sebelum-nya tertancap di lantai satu kini langsung bergerak dan terbang ke lantai dua.
kemudian tombak petir itu pun langsung hinggap di tangan kanan pria itu.
"serangan berikut-nya aku jamin kau pasti akan mati." ucap pria itu lagi sambil mulai menyiap-kan serangan-nya.
"hahahaha." Madika tertawa kecil.
Lalu dengan cepat Madika mengeluar-kan sayap angin-nya.
setelah itu ia langsung menembak-kan bola angin ke atas untuk menghancur-kan atap, dan dengan cepat Madika pun terbang keluar melalui atap yang ia hancur-kan itu.
"hemp.... kau pikir kau mau lari kemana?" ujar pria itu sambil mengayun-kan tombak-nya ke belakang tubuh-nya.
Setelah itu pria itu pun langsung melompat ke udara dan dengan cepat ia mencipta-kan sebuah pedang petir dan menaiki pedang petir itu untuk terbang di udara.
Pria itu kini mulai mengejar Madika dari belakang. sementara Madika yang saat ini tidak mau bertarung di tengah kota kini hanya bisa kabur dan mencari tempat yang cocok untuk bertarung agar tak ada korban jiwa dari orang-orang yang tak bersalah.
"jika bertarung di tengah kota begini, bisa-bisa warga sipil akan terlibat..... bukan hanya itu saja, jika bertarung di sini maka bangunan-bangunan yang ada di sini pasti banyak yang akan hancur dan itu akan menimbul-kan kerugian besar." batin Madika yang terus terbang dengan cepat.
Sementara itu, pria yang saat ini terbang mengguna-kan pedang kini hanya bisa menatap Madika dengan sedikit ekspresi kagum.
"seperti yang di harap-kan dari sayap angin.... kecepatan terbang-nya sulit untuk di imbangi!" ucap pria itu saat diri-nya tertinggal cukup jauh di belakang Madika.
__ADS_1
"bocah ini masih sangat muda tapi dia sudah bisa mencapai tingkat Elite, aku kayin bocah ini punya masa depan yang baik.... namun sayang-nya masa depan itu harus hilang malam ini juga karena ia sudah berani membunuh tuan-ku saat aku tak ada di sisi-nya." batin pria itu sambil menatap kesal ke arah Madika.
Pria itu bernama Riko, ia adalah pengawal pribadi Hongu. namun karena orang tua Hongu mempunyai masalah dengan bangsawan dari daerah lain, Riko pun akhir-nya di kirim ke tempat konflik itu untuk menyelesai-kan masalah dan untuk penjagaan terhadap Hongu, di serah-kan pada beberapa ksatria Saga lain-nya.
Ketika Riko mendengar bahwa tuan-nya telah di bunuh oleh seseorang, Riko pun akhir-nya bergegas kembali ke kota Kayau dan langsung mencari tempat tinggal si pembunuh tuan-nya itu.
"ternyata memang hanya aku yang bisa menjaga tuan Hongu!.... mereka semua sama sekali tak becus!" batin-nya mengumpat orang yang harus-nya bertanggung-jawab untuk menjaga Hongu. "bahkan saat tuan Hongu di serang mereka sama sekali tak ada di tempat! apa yang sebenar-nya mereka lakukan?" batin-nya.
Riko sama sekali tidak di beritahu-kan bahwa sebelum Hongu di bunuh, bawahan yang bertugas menjaga Hongu sudah lebih dulu di bunuh oleh Madika.
karena itu-lah saat di kantor asosiasi Hongu tak di kawal oleh satu-pun penjaga-nya.
Saat ini Madika terus terbang dengan sangat cepat.
ia menoleh ke belakang dan diri-nya sedikit terkejut saat melihat Riko tertinggal cukup jauh di belakang.
Madika sendiri tidak tahu kalau ternyata sayap angin-nya itu jauh lebih cepat di banding dengan jurus untuk terbang lain-nya.
"ternyata ini yang membuat jurus ini termasuk langka dan di minati banyak orang." batin Madika sambil sedikit melihat ke sayap putih kebiruan milik-nya itu.
Setelah beberapa saat mereka berdua terbang, kini Madika yang merasa tidak akan bisa bersembunyi dari pria itu langsung berhenti di satu tanah lapang yang sunyi berada di pinggiran kota.
Madika kini langsung mendarat ke tanah lapang itu, dan tak lama setelah itu Riko pun tiba dan langsung melesat-kan serangan halilintar ke arah Madika.
Tampak di atas Madika terlihat sebuah lingkaran energi dengan ukuran diameter lingkaran-nya mencapai satu meter.
dari lingkaran itu-lah muncul sebuah halilintar yang langsung menyambar ke arah Madika.
Madika yang melihat hal itu langsung mengguna-kan perisai angin-nya hingga dua lapis.
lapisan pertama perisai itu langsung hancur begitu saja, sedangkan lapisan ke dua kini tampak retak setelah serangan itu berakhir.
Setelah itu kini Riko pun langsung melompat dari pedang-nya, dan ia pun mendarat ke atas tanah tepat berhadapan dengan Madika di jarak kurang lebih 25 meter jauh-nya.
__ADS_1