Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Mengakhiri Penyiksaan


__ADS_3

Saat ini Sigo tampak sangat kesakitan dalam proses penyiksaan yang di lakukan oleh Bunggu pada diri-nya.


setiap kali benang api milik Bunggu bergerak dan menjalar di dalam daging-nya membuat ia merasa-kan sakit yang tidak tertahan-kan sampai-sampai ia tak sadar saat diri-nya kini sedang kencing di celana.


"tolong hentikan..... kumohon.... ini sangat sakit!!" teriak Sigo yang terus memohon pada Bunggu.


Sementara itu, Karu yang saat ini mendengar teriakan Sigo kini tampak ikut ketakutan dan tubuh-nya bergetar hebat akibat rasa takut itu.


Ia kini terus menjilati kaki Madika tanpa henti demi keselamatan diri-nya.


meski-pun saat ini tubuh-nya kesakitan akibat tusukan jarum-jarum angin Madika sebelum-nya, namun ia tetap berusaha menggerak-kan tubuh-nya itu jika di perintahkan oleh Madika.


Setelah sudah cukup lama, kini seluruh benang api milik Bunggu sudah tak terlihat lagi karena kini seluruh benang api itu telah tertanam di dalam daging serta tulang Sigo.


Sigo kini mulai tenang saat Bunggu berhenti menggerak-kan benang tersebut.


ia tampak mencoba menstabil-kan pernapasan-nya yang terengah-engah itu.


"i.... ini benar-benar siksaan neraka!" batin Sigo yang sedang berusaha menstabil-kan pernapasan-nya.


"hmm.... seperti-nya kau sudah cukup beristirahat." ucap Bunggu sambil mengangkat tangan kanan-nya dengan posisi telapak tangan terbuka.


Baru saja selesai merasa-kan sakit, kini Bunggu ingin kembali melanjut-kan siksaan-nya terhadap Sigo.


Sigo yang mendengar ucapan Karu itu pun kini kembali panik dan jantung-nya yang sebelum-nya belum benar-benar stabil kini langsung kembali memompa dengan cepat akibat dari rasa takut yang timbul pada diri-nya.


"he..... hentik...."

__ADS_1


"ARRGGGHH!!"


Sigo menjerit dengan sangat keras, ia bahkan belum sempat melanjut-kan kata-katanya namun kini Bunggu sudah menggerak-kan lagi benang api-nya hingga membuat tangan Sigo bengkok ke arah yang tidak seharus-nya.


Sigo terus berteriak ke sakitan, sementara itu, Bunggu tampak terus menggerak-kan jari-jari tangan-nya seolah sedang menggerak-kan sesuatu dengan jari-jarinya itu.


Kini dengan ada-nya benang api di tubuh Sigo itu, tampak Bunggu mulai memaksa tubuh Sigo untuk bergerak secara ekstrim.


Bunggu memutar kaki Sigo hingga patah, ia juga bahkan menggerak-kan lengan Sigo hingga bergeser dari tempat melekat-nya pada sendi-sendi.


Bunggu bahkan memaksa Sigo untuk berdiri, ia mengendali-kan tubuh Sigo layak-nya boneka rusak yang bentuk-nya sudah tidak beraturan.


Kedua kaki Sigo tampak tidak berada di posisi normal karena sudah di putar beberapa kali oleh Bunggu hingga kaki-nya itu sudah tak tersambung lagi dengan tubuh-nya.


Semua persendian Sigo telah patah dan tulang-tulangnya saat ini hanya tinggal di topang oleh benang api serta kulit dan daging saja, seandai-nya kulit, daging, serta benang api tak ada di tubuh Sigo, maka sudah bisa di pasti-kan tulang-tulang Sigo sudah berhamburan di atas pasir karena kini tulang-tulangnya itu sudah tidak saling tersambung lagi.


air mata Sigo terus membasahi wajah-nya, sambil terus berteriak kesakitan ia selalu melontar-kan kata-kata memohon ampun pada Madika dan Bunggu.


Di sisi lain, Madika yang sedari tadi melihat Sigo di siksa mati-matian seperti itu kini mulai melunak, apa lagi dari tadi Sigo sudah terus menerus meneriaki ucapan meminta maaf dan memohon pengampunan atas segala perbuatan-nya selama ini.


Madika bukan-lah manusia yang tak punya hati, sejak awal Madika hanya ingin memberi mereka pelajaran tentang penyiksaan yang sudah mereka lakukan terhadap orang lain, karena itu Madika juga ingin mereka merasa-kan bagaimana penderitaan yang di rasa-kan oleh orang-orang yang sudah menjadi korban penyiksaan mereka.


"Bunggu, ini sudah cukup, aku tak tahan lagi melihat-nya." ucap Madika sambil menutup mata dan wajah-nya menggunakan telapak tangan kanan-nya.


Bunggu yang mendengar ucapan tuan-nya itu kini langsung menoleh ke belakang tepat ke arah Madika.


saat itu juga, Bunggu pun bisa menangkap ekspresi Madika yang terlihat agak sedih dan berbelas kasihan pada orang-orang yang mereka siksa saat ini.

__ADS_1


Bunggu sebenar-nya sudah sering melihat pemandangan seperti ini sejak dahulu saat Madika masih memegang gelar ksatria legendaris di masa lalu, karena di masa lalu mereka juga sering memberi pelajaran pada penjahat dengan cara menyiksa mereka, namun karena merasa kasihan, tuan-nya yang dahulu bernama Risiwuku itu terpaksa mengakhiri penyiksaan itu.


"baik tuan, sesuai keinginan anda." ucap Bunggu yang langsung paham dengan situasi dan kondisi saat ini.


Mendengar ucapan Bunggu itu Madika hanya diam saja, ia bahkan masih terus menutup wajah-nya menggerak-kan telapak tangan kanan-nya.


Sementara itu, Karu yang mendengar ucapan Madika sebelum-nya kini langsung merasa-kan firasat buruk.


hal itu karena Madika tidak terlihat seolah ingin melepas-kan mereka, meski-pun Madika berkata 'ini susah cukup', namun entah mengapa Karu pikiran Karu langsung menebak bahwa maksud dari kata-kata itu adalah, mengakhiri hidup mereka.


Tak lama setelah itu, hal yang di khawatir-kan oleh Karu pun benar-benar terjadi.


ia bahkan merasa sedikit terkejut saat tubuh-nya tersentak akibat tusukan sepuluh pedang api yang kini menembus tubuh-nya.


Di saat itu-lah, Karu pun akhir-nya hanya bisa menatap Madika dengan ekspresi pasrah di wajah-nya.


"pada akhir-nya, apa pun yang ku lakukan tidak akan pernah mengubah keputusan bocah ini." ucap Karu dalam hati.


Itulah kata-kata terakhir Karu hingga akhir-nya ia pun menutup mata dan menghembus-kan nafas terakhir-nya tepat di bawah kaki Madika.


Sementara itu, di tempat Sigo juga terjadi hal yang sama, Sigo yang sebelum-nya telah tersiksa kini harus menghembus-kan nafas terakhir-nya akibat tusukan beberapa pedang api yang kini menembus tubuh-nya.


Akhir-nya masalah ini pun selesai, bahkan Madika pun kini sudah berhasil melaksana-kan eksekusi mati untuk Karu dan para pengikut-nya.


"aku yakin paman Andre akan terkejut mendengar ini." ucap Madika mengingat bahwa sebenar-nya isi surat itu tidak mengharus-kan Madika turun tangan langsung untuk melakukan eksekusi mati.


Di surat itu tercatat bahwa Karu dan para pengikut-nya itu memang akan di eksekusi mati, namun Madika di beri himbauan oleh raja Andreas agar tidak langsung memberitahu-kan hal itu pada Karu karena raja Andreas tidak yakin Madika bisa berhadapan langsung dengan orang-orang seperti Karu dan bawahan-nya.

__ADS_1


karena itu raja Andreas hanya menyuruh Madika untuk menangkap mereka dan memenjarakan mereka agar Madika tidak terlihat pertarungan yang mengancam nyawa-nya sendiri dengan keluarga Nemosu.


__ADS_2